UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Anak-anak yang tinggal bersama ibunya di penjara menghadapi kekerasan dan pelecehan

Pebruari 17, 2015

Anak-anak yang tinggal bersama ibunya di penjara menghadapi kekerasan dan pelecehan

 

Setelah mulai hidup dalam sel yang penuh sesak dengan tanpa tempat untuk bermain, sedikit makanan, serta  mengalami pelecehan dan kekerasan, ketika Dara (bukan nama sebenarnya) meninggalkan penjara tua itu hampir empat tahun, ia belum bisa berbicara.

Kisah Dara adalah yang kedua dalam serangkaian studi kasus yang dirilis oleh Lichado, sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM) di Kamboja, yang bertujuan untuk “menjembatani kesenjangan dalam pengetahuan”, khususnya   anak-anak di penjara di negara kerajaan itu.

Menurut laporan, yang dirilis pada Sabtu, pengalaman Dara “menyoroti pentingnya untuk mengambil  langkah-langkah khusus bagi  anak-anak yang tinggal bersama ibu mereka  di penjara Kamboja”.

Bulan lalu, sebanyak 39 anak  berusia antara satu bulan hingga empat tahun tinggal bersama ibu mereka di penjara, demikian pantauan  Lichado. Hampir semua mereka “tidak pernah mengalami  kehidupan di luar tembok penjara”.

Dara lahir setelah ibunya ditangkap dan ditahan serta telah  menghabiskan tiga setengah tahun pertama tinggal di penjara Takhmao.

Menurut Lichado,  penilaian yang dilakukan oleh pihaknya untuk menentukan apakah anak-anak itu layak tinggal di penjara.

Di balik jeruji besi, Dara mengalami banyak masalah kesehatan dan ia dirawat di rumah sakit dua kali “setelah tidak mendapat pengobatan tepat waktu”.

Dia menderita kekerasan di tangan ibunya, yang kadang-kadang “menamparnya dengan begitu keras hingga ia jatuh ke lantai dan ia dibiarkan meskipun darah keluar  dari mulut dan hidungnya”. Sipir seperti dilaporkan memukuli ibunya karena melakukan kekerasan terhadap anaknya, kata laporan itu.

Meskipun sebuah kesepakatan tahun 2009 mengatur bahwa kaum ibu tidak boleh memberikan susu formula bagi anak-anak berusia di bawah satu tahun, namun ibu Dara  tidak menerima kesepakatan tersebut.

Pada Maret 2013 akhirnya  Dara  meninggalkan penjara dan tinggal bersama kakek dan neneknya, cara itu “bukan karena  pertimbangan untuk menyelamatkan anak itu dari penjara dan kekerasan ibunya tetapi karena. . . hukum tidak lagi mengizinkan dia  untuk tinggal” di penjara.

Saat ini Dara berusia lima tahun. Ia  mendapat terapi berbicara, karena selama tinggal di penjara ia tidak diajarkan berbicara, malahan ia lebih banyak mengalami kekerasan dan pelecehan dari ibunya di balik jeruji besi.

Secara umum, Lichado mengatakan pihaknya mendukung “upaya untuk menjamin bayi yang baru lahir dan balita memiliki kesempatan untuk tetap tinggal bersama  ibunya di balik jeruji besi”, tapi pihaknya yakin hal ini  hanya dapat terjadi setelah penilaian secara “komprehensif”.

Di antara rekomendasinya, Lichado mendesak agar berbagai upaya  perlindungan anak ditingkatkan, pelatihan perkembangan anak, perlunya perawatan kesehatan ibu hamil dan anak-anak.

Chatting Sineang, kepala penjara Takhmao, tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar, sementara Sorn Keo, juru bicara Departemen Kementerian Dalam Negeri, membantah laporan tersebut.

“Mereka hidup dalam kondisi baik, bukan seperti yang dilaporkan LSM tersebut,” katanya.

Sumber: ucanews.com

One response to “Anak-anak yang tinggal bersama ibunya di penjara menghadapi kekerasan dan pelecehan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi