Perspektif Katolik tentang perubahan iklim dan pertumbuhan ekonomi

22/05/2015

Perspektif Katolik tentang perubahan iklim dan pertumbuhan ekonomi thumbnail

Seorang perempuan bersepeda melewati jalan yang bajir di Ho Chi Minh City, Vietnam, Oktober 2014.

 

Dalam sebuah forum internasional tentang pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, para pemimpin Katolik dan para pakar  menyatakan bahwa kedua aspek ini saling terkait, bukan bertentangan, dan dapat membawa kemakmuran yang lebih besar bagi semua orang.

“Melindungi lingkungan tidak perlu kompromi dengan kemajuan ekonomi,” kata Donald Kardinal Wuerl dari Washington, dalam konferensi tentang “The New Climate Economy: How Economic Growth and Sustainability Can Go Hand in Hand.”

Diadakan di Universitas Kepausan Salib Suci di Roma, konferensi ini diselenggarakan oleh Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, bekerja sama dengan World Resources Institute, the New Climate Economy organization, dan Kedutaan Besar Belanda untuk Takhta Suci.

Pembicara lain – Peter Kardinal Turkson, Presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, Pangeran Jaime de Bourbon de Parme, duta besar Belanda untuk Takhta Suci, dan para pakar dalam bidang iklim dan ekonomi.

Dalam sambutannya, Kardinal Wuerl mengatakan bahwa kebutuhan untuk pembangunan berkelanjutan adalah “kewajiban moral dan insentif ekonomi sebagai sebuah masalah bisnis.”

“Pemerintah memiliki peran, dan kita membutuhkan kesepakatan internasional yang tegas,” kata prelatus itu.

“Kita perlu memanfaatkan kebijaksanaan dan kreativitas dalam pelayanan publik. Kolaborasi antara kepentingan swasta dan publik, dan mengurangi kesenjangan di antara miskin dan kaya di dunia.”

Dia mengacu pada isu pembangunan berkelanjutan sebagai “tanda zaman,” dan mengatakan bahwa dalam  ensiklik mendatang – yang direncanakan akan diterbitkan musim panas ini – Paus Fransiskus mengikuti jejak pendahulunya, dimulai dengan St. Yohanes XXIII dalam ensiklik “Pacem in Terris”.

Beato Paulus VI juga memberi perhatian utama pada perubahan sosial dan politik saat itu dalam ensiklik “Populorum Progressio,” sementara St. Yohanes Paulus II mengeluarkan ensiklik “Centesimus Annus” terkait  ajaran sosial Gereja di tengah masa transisi sosial, khususnya di Eropa.

Dalam ensikliknya “Caritas in Veritate,” Paus Benediktus XVI menghubungkan persaudaraan dan pengembangan ekologi, serta lingkungan dan pengembangan masyarakat dan teknologi, kata Kardinal Wuerl, seraya menambahkan tema yang sama akan dilanjutkan Paus Fransiskus.

Kardinal itu juga menekankan pentingnya peran Gereja dalam diskusi, terutama dalam memberikan kerangka moral membangun dan menempatkan manusia di pusat.

Dalam komentar kepada CNA, kardinal itu mencatat bagaimana Allah menciptakan dunia dan menyerahkannya kepada manusia “untuk mengolah dan melihat bahwa dunia, yang sekarang adalah sebuah anugerah yang besar bagi kita semua, diteruskan kepada generasi berikutnya.”

“Jadi berbicara tentang lingkungan, dan berbicara tentang manusia dan pembangunan ekonomi, semua harus bersama-sama, di bawah pemahaman bahwa kita adalah pelayan penciptaan dan kita merawat bersama-sma.”

Dalam pidato pembukaan acara tersebut, Kardinal Turkson mengatakan bahwa “Allah telah melakukan hal-hal besar bagi kita” dalam menciptakan dunia.

Namun, “kita telah menciptakan kemiskinan dan gagal dalam kewajiban kita mempertahankan planet ini terpelihara dan mendukung kita,” katanya.

“Ketakutan akan perubahan iklim dan ingin melakukan sesuatu tentang iklim akan mempengaruhi ekonomi dan sumber-sumber energi,” katanya.

Sumber: ucanews.com




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Sri Lanka batal mengikuti Asian Youth Day di Indonesia
  2. Uskup Pakistan menuntut tindakan tegas pada teroris
  3. Ratusan katekis belajar cara berbicara tentang seks kepada remaja
  4. Perempuan Katolik Bangladesh akhirnya mendapat jabatan tinggi
  5. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  6. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  7. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  8. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  9. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  10. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  1. Semoga masalah ini cepat selesai....
    Said meldy on 2017-07-27 08:51:19
  2. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  3. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  4. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  5. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  6. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  7. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  8. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  9. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  10. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
UCAN India Books Online