Suara perempuan dalam penyelesaian pelanggaran HAM berat

02/07/2015

Suara perempuan dalam penyelesaian pelanggaran HAM berat thumbnail

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) “mulai” merealisasikan janjinya menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat pada masa lalu. Niatan ini ditunjukkan dengan membentuk sebuah tim gabungan lintas kementerian dan lembaga yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam).

Dalam pernyataannya, tim gabungan bertugas merumuskan kebijakan untuk menyelesaikan enam kasus pelanggaran HAM berat, yaitu peristiwa 1965-1966; penembakan misterius pada 1982-1985; kasus Talangsari di Lampung pada 1989; kasus penghilangan orang secara paksa pada 1997-1998; kasus kerusuhan Mei 1998; serta peristiwa Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II.

Pertama, dalam konteks pelanggaran HAM berat masa lalu, salah satu yang terpenting adalah cara menegakkan keadilan transisional (transitional justice). Keadilan ini mensyaratkan ada mekanisme menyeluruh antara yudisial dan nonyudisial guna memberi keadilan. Mekanisme ini juga berupaya memperbaiki kondisi korban dan keluarganya menjadi lebih baik, melawan impunitas, dan membangun budaya pencegahan untuk ancaman terjadinya pelanggaran HAM berat serupa pada masa akan datang (jaminan tak keberulangan).

Dengan kata lain, mekanisme yudisial (pengadilan) tidak dapat digantikan dengan mekanisme nonyudisial (rekonsiliasi dan reparasi yang transformatif). Keduanya mesti dijalankan paralel dan saling melengkapi.

Mekanisme nonyudisial pun harus dipersiapkan dengan hati-hati agar tidak berakhir sebagai perwujudan impunitas. Rekonsiliasi baru bisa dimaknai ketika secara bersamaan ada pengakuan dan pernyataan bahwa pelaku melakukan pelanggaran HAM berat, lewat mekanisme yudisial yang transparan dan akuntabel. Pernyataan maaf secara resmi menjadi berarti jika mekanisme yudisial berjalan.

Bersamaan dengan itu; kompensasi, restitusi, rehabilitasi, serta upaya perbaikan lain bagi keluarga korban dapat diwujudkan.

Kedua, dalam penuntasan pelanggaran HAM berat, suara korban harus didengar dan dikedepankan. Penting mempertanyakan di manakah suara dan pengalaman perempuan. Dibutuhkan penelusuran pengalaman perempuan sebagai korban langsung dari pelanggaran HAM serta pemaknaan lebih luas terkait korban, misalnya memperhatikan penderitaan dan kerugian yang dialami perempuan sebagai keluarga (ibu, istri, anak) dari korban (anak, suami, ayah).

Mendengarkan suara korban pelanggaran HAM berat harus pula memastikan suara dan pengalaman perempuan diperhitungkan secara serius. Sejarah menunjukkan, dalam pengalaman pengadilan pelanggaran HAM berat di negara lain, memasukkan isu pelanggaran hak asasi perempuan terkait pelanggaran HAM berat, seperti kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender (sexual and gender based violence), tidaklah mudah dan penuh tantangan. Namun tentu saja, setiap upaya mengikutsertakan kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender dalam dimensi pelanggaran HAM berat amatlah penting.

Sering kali tantangan awal adalah cara pandang pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan penanganan pelanggaran HAM berat. Terkadang mereka menganggap kekerasan yang dialami perempuan, seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, intimidasi seksual, dan kekejaman seksual sebagai isu pinggiran yang tidak penting dan bukan hal utama.

Padahal kita tahu, berbagai laporan (setidaknya Laporan dari Komnas Perempuan) menunjukkan kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender banyak menimpa perempuan Indonesia. Penting juga untuk tidak terjebak ke soal “kuantitas” atau jumlah korban. Sebaliknya, cermatlah melihat kualitas penderitaan yang dialami perempuan.

Ada banyak perempuan korban dan keluarga pelanggaran HAM yang mengalami trauma psikologi hingga kini belum pernah menerima konseling. Belum lagi mereka menderita trauma lain.

Dalam perenungan saya terkait perempuan, ada tantangan substantif dari penyelesaian pelanggaran HAM. Setidaknya itu mengenai sejauh mana perhatian apakah telah terjadi kekerasan seksual atau kekerasan berbasis gender; dan apakah pelanggaran HAM yang diderita laki-laki (suami, ayah, anak) memberi dampak pada ibu, istri, atau anak perempuannya. (sinarharapan.co)

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online