Pekerja Filipina tetap berorientasi ke luar negeri meskipun resiko dan ancaman

13/08/2015

Pekerja Filipina tetap berorientasi ke luar negeri meskipun resiko dan ancaman thumbnail

 

Cecilia* adalah seorang pekerja rumah tangga (PRT) di Timur Tengah hingga dia memutuskan untuk terbang kembali ke negaranya tahun lalu.

“Aku tidak bisa menahan  ancaman dan pelecehan verbal yang terus menerus  dari majikan saya di Arab,” katanya.

Dia kembali ke Filipina untuk melihat suami dan tiga anak mereka. Anak-anak ada di rumah tapi suaminya tidak ada.

“Dia meninggalkan saya dan pergi ke wanita lain dan mereka sudah memiliki anak,” kata Cecilia. Itu menyakitkan, katanya, “tapi aku harus terus semangat”.

Fahima Alagasi Palacasi juga mencoba keberuntungannya di luar negeri. Tidak seperti Cecilia, dia belum  kembali ke negaranya.

Fahima, 23, seorang ibu dari dua anak, berasal dari kota Pikit, Provinsi Cotabato Utara, Filipina bagian selatan.

Dia tiba di Riyadh, Arab Saudi pada Maret 2014. Dua bulan kemudian, ia dirawat di klinik dengan luka bakar. Dia mengatakan majikannya menuangkan air mendidih pada dirinya setelah dia salah menyiapkan kopi.

Setahun setelah kejadian itu, Fahima masih berada di Arab Saudi,  tinggal di sebuah pusat pemerintah Filipina bersama sekitar 200 warga Filipina lainnya yang sedang menunggu untuk dipulangkan.

Kisah-kisah pelecehan yang dihadapi oleh Cecilia dan Fahima juga dialami pekerja lain. Namun, mereka telah melakukan sedikit untuk mencegah jutaan warga Filipina setiap tahun  mencari pekerjaan di luar negeri.

Sebuah pilihan

Para pekerja migran Filipina adalah mesin utama perekonomian negara mereka. Tahun lalu, para pekerja Filipina di luar negeri mengirimkan  dana sekitar  28 miliar dolar AS, menurut Bank Dunia – jumlah tertinggi ketiga di dunia.

Dana ini sangat penting untuk Filipina – pengiriman dana  pribadi sekitar   10 persen dari produk domestik bruto negara itu. Tapi, bagi banyak pengamat, angka  signifikan tersebut juga merupakan indikasi bahwa ada beberapa alternatif yang layak diperhatikan di dalam negeri.

Pastor Restituto Ogsimer, sekretaris eksekutif Komisi Migran dan Perantauan Konferensi Waligereja Filipina, mengatakan apa yang sangat menyedihkan adalah sebagian besar dari mereka meninggalkan negaranya adalah ibu-ibu muda.

“Ini menyedihkan karena mereka tidak punya pilihan lain selain meninggalkan keluarga mereka,” kata imam itu. “Tidak ada pekerjaan di sini, jadi solusi mudah adalah dengan mengirim warga Filipina ke luar negeri di mana ada pekerjaan.”

Namun, pemerintah mengklaim bahwa jumlah orang Filipina  bekerja di luar negeri telah menurun “karena pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di negara itu”.

Mengutip data dari Departemen Luar Negeri, Presiden Benigno Aquino mengatakan ada sekitar 8,36 juta pekerja Filipina di luar negeri tahun lalu, turun dari  10 juta tahun 2010.

Lainnya sengketa korelasi

Jika ada penurunan penyebaran warga Filipina di luar negeri  terutama karena pasar tenaga kerja menurun,” kata John Leonard Monterona dari Migrante International, sebuah organisasi pekerja migran Filipina.

Monterona mengatakan temuan pemerintah yang “dangkal,” dan orang-orang miskin, seperti Cecilia dan Fahima, belum manfaat dari pertumbuhan ekonomi seperti dikatakan Aquino.

Migrante juga mengatakan jumlah warga Filipina di luar negeri sekitar 15 juta – jauh lebih tinggi dari statistik resmi.

Pastor Rex Reyes Jr dari Dewan Gereja Filipina mengatakan pemerintah masih tergantung pada pekerja di luar negeri.

Ia  mengatakan pemerintah tampaknya hanya tertarik pada jumlah total dana yang dikirim pulang oleh para pekerja di luar negeri.

“Pengiriman uang dari pekerja di luar negeri bukan merupakan indikator yang berkelanjutan dari kebijakan ekonomi yang sehat,” katanya.

0813c

Para pekerja migran Filipina bergabung dengan jutaan orang  menyambut Paus Fransiskus selama kunjungannya ke Filipina pada Januari

 

Perempuan menanggung beban risiko

Bagi imam itu, tingginya tingkat migrasi tenaga kerja merupakan bentuk  “perbudakan” modern.

“(Ini adalah) perbudakan karena pemerintah lalai memberikan perlindungan kepada warga negaranya di luar negeri dan melindungi mereka dari perekrut serakah dan perdagangan manusia,” kata Pastor Reyes.

Ia mencontohkan kasus Mary Jane Veloso, seorang warga Filipina yang menghadapi hukuman mati di Indonesia setelah ia dinyatakan bersalahterkait perdagangan narkoba.

Perempuan telah menjadi kelompok yang paling rentan menjadi  PRT di luar negeri.

Sebuah survei 2013 dilakukan oleh Misi untuk Pekerja Migran berbasis di Hong Kong melaporkan bahwa 58 persen PRT perempuan yang disurvei di Hong Kong mengalami pelecehan verbal. Sekitar 18 persen dilaporkan mengalami kekerasan fisik, sementara enam persen menjadi korban  pelecehan seksual.

Sekitar 150.000 PRT Filipina di Hong Kong, kebanyakan dari mereka perempuan, menurut kelompok perempuan Gabriela.

Rowena de la Cruz, wakil ketua Gabriela di Hong Kong, mengatakan kondisi rentan perempuan “terutama berasal dari migrasi paksa warga Filipina”.

“PRT Perempuan Filipina di seluruh dunia terjebak dalam  berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDTR), dan diabaikan oleh pemerintah,” kata De la Cruz.

Tantangan untuk Gereja

Pastor Roy Cimagala dari Cebu, yang memonitor nasib warga Filipina di luar negeri, mengatakan bekerja di luar negeri dan meninggalkan keluarga “bukan hal yang ideal untuk dilakukan”.

Ia mengatakan tantangan bagi Gereja Katolik adalah  memberikan perhatian dan perawatan karena para pekerja itu jauh dari rumah mereka.

Pemerintah Filipina  menggembar-gemborkan pertumbuhan ekonomi, tapi warga Filipina masih terus menanggung risiko dan beban hidup di luar negeri untuk  masa depan yang lebih baik.

Awal tahun ini, Cecilia sekali lagi meninggalkan ketiga anaknya yang  berusia 10, 12, dan 13 tahun dan menjadi PRT  di Singapura.

“Saya merawat seorang lansia  yang menderita stroke,” katanya kepada ucanews.com dalam sebuah wawancara telepon.

Sebagai  pekerjaan yang jauh dari rumah dan orang-orang yang dicintai, Cecilia menghasilkan sekitar  500 dolar AS per bulan, cukup untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah.

“Ini jauh lebih baik dibandingkan dengan situasi saya di Timur Tengah,” kata Cecilia. “Saya melakukan ini untuk anak-anak saya.”

* Nama Cecilia telah diubah untuk melindungi identitasnya.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Dampak ‘Buruk’ Poligami Bagi Wanita Bangladesh
  2. Dua Kardinal Asia Protes atas Penahanan Politikus Muda Hong Kong
  3. OMK Harus Menumbuhkan Nilai-nilai Kemanusiaan
  4. Peresmian Pemerintah Baru Timor-Leste Tertunda
  5. Katolik dan Muslim di Purwokerto Bertekad Memerangi Hoax
  6. Prihatin dengan Kondisi Filipina, Kardinal Tagle Tawarkan Dialog Nasional
  7. Uskup Kirim Tim untuk Melindungi Warga dari Pembunuhan
  8. Pemerintah China Perintahkan Pemakaman Berbeda untuk Dua Uskup Ini
  9. Ketika Upaya Damai Dibayangi Ketakutan akan Perang Nuklir
  10. Uskup Militer Ajak Anggota TNI/POLRI Katolik Wujudkan Nilai-nilai Kristen
  1. Dengan hormat, Bisakah saya mendapatkan nomor telepon untuk menghubungi Ibu P...
    Said Djatu on 2017-08-21 15:55:06
  2. Lau kita selalu di teror sama roh jahat kita tidak perlu takut untuk melawan roh...
    Said Tuhan besertaku on 2017-08-19 22:15:11
  3. Di dalam alkitab tidak ada tertulis bahwa salib mempunyai kuasa..yang benar hany...
    Said Tuhan besertaku on 2017-08-19 22:00:45
  4. Saya ingin dapatkan versi Bahasa Indonesia buku panduan Legionis Maria( Legion o...
    Said Maria Ithaya Rasan on 2017-08-15 14:22:31
  5. Visitator Apostolik itu tugasnya adalah mengunjungi pihak-pihak yang dianggap me...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-14 11:40:48
  6. Ada asap PASTI karna ada api... Tontonlah film 'Spotlight' yg brdasarkn kisah n...
    Said RESI Kurniajaya on 2017-08-12 22:38:30
  7. Teman-teman saudara-saudariku yang ada di dan berasal dari Keuskupan Ruteng. Saa...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-12 15:12:04
  8. Berita menggembirakan, shg para imam tak memberi eks komunikasi bagi yang berce...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 20:10:43
  9. Permasalahan di Keuskupan Ruteng sampai mencuat seperti ini, tentu tidak main ma...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 16:19:26
  10. Keberadaan uskup bukan seperti presiden hingga kepala desa, yang dilakukan melal...
    Said aloysius on 2017-08-11 10:53:19
UCAN India Books Online