Menandai gerakan payung kuning, dua kardinal Hong Kong tekankan dialog, solidaritas

30/09/2015

Menandai gerakan payung kuning, dua kardinal Hong Kong tekankan dialog, solidaritas thumbnail

Sebuah kelompok awam Katolik menghadiri Misa, yang digelar di luar kantor pemerintahan Hong Kong untuk mengenang satu tahun gerakan payung.

 

Umat Katolik di Hong Kong telah bergabung dengan ratusan warga lainnya untuk menandai ulang tahun gerakan payung pro-demokrasi,  seraya mengingatkan mereka untuk tetap bersatu dan mendukung mereka yang ditangkap dalam berbagai protes.

Selama doa malam yang diadakan pada 28 September di luar gedung Dewan Legislatif, Joseph Kardinal Zen Ze-kiun, uskup emeritus Hong Kong mengatakan kepada sekitar 100 orang yang hadir bahwa gerakan payung bukan sebuah kegagalan.

“Dasar perjuangan adalah hak pilih universal, bukan menjadi budak,” katanya pada pertemuan yang diadakan oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian keuskupan itu.

“Pemerintah pusat berjanji memberikan kesempatan kepada kita. Jika kita menyerah, kita tidak bisa mendapatkannya, berarti kita menyerahkan diri kita untuk menjadi budak.”

Pada akhir 2014, kardinal yang vokal itu bergabung dengan gerakan payung Hong Kong, yang dimulai ketika protes mahasiswa tetapi meningkat menjadi sekitar 150.000 demonstran.

Selama doa malam 28 September, Kardinal Zen mengakui bahwa “ada kekurangan dalam meraih kemenangan,” akibat perpecahan. Dia mendorong peserta tetap bersatu, sebagai “solidaritas adalah kekuatan.”

Sebelumnya, ia bergabung dengan 150 umat Katolik dalam Misa konselebrasi di luar kantor pemerintah – pusat dari demonstrasi tersebut.

Demonstrasi itu diselenggarakan oleh Komunitas Kristen Payung Kuning, sebuah kelompok awam Katolik telah mengadakan Misa di luar kantor pemerintah setiap hari Minggu sore sejak gerakan itu dimulai.

“Selain Misa rutin, kita sekarang juga pergi ke pengadilan dan penjara mendukung mereka yang ditangkap karena gerakan itu,” kata Winnie Wong,  kepada ucanews.com.

Sementara itu ia memilih untuk tidak bergabung dengan sebuah gerakan atau salah satu protes 2014, namun Kardinal John Tong Hon, uskup Hong Kong, memberikan pandangan positif dari gerakan pro-demokrasi tersebut setahun kemudian.

“Itu berarti Hong Kong adalah masyarakat yang bebas,” kata kardinal kepada ucanews.com dalam sebuah wawancara pada Agustus. “Setidaknya ada titik yang baik, yaitu, Hong Kong masih mentolerir jenis seperti hal yang terjadi.

Kardinal itu mengeluarkan pernyataan dan surat pastoral selama periode protes, menyerukan menahan diri dan dialog dari kedua belah pihak.

Dialog tetap penting saat ini, katanya.

“Dialog bukan berarti bahwa kita saat ini mengikuti (masalah) rakyat dan tidak membicarakan hal-hal politik,” katanya. “Kami masih harus membicarakan hal itu karena ini adalah bagian dari hidup kita.”

Media di seluruh dunia menjuluki protes itu sebagai gerakan payung setelah polisi menggunakan gas air mata membubarkan demonstran pada 28 September 2014. Beberapa demonstran telah berusaha melindungi diri mereka sendiri dengan payung kuning.

Pada 28 September, sekitar 1.000 orang berkumpul di dekat markas pemerintah memperingati ulang tahun gerakan itu. Massa berdiri diam selama 15 menit, dengan banyak memegang payung kuning sebagai pengingat simbolis.

Benny Tai, salah satu penyelenggara protes, mengatakan kepada massa bahwa gerakan itu hanya titik awal dalam mengejar demokrasi di Hong Kong.

Sumber: ucanews.com




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online