UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pekerjaan atau kesehatan: pilihan dilematis bagi warga desa dengan HIV

Desember 1, 2015

Pekerjaan atau kesehatan: pilihan dilematis bagi warga desa dengan HIV

 

Dalam komunitas Roka, uang semakin sulit.

Setelah wabah HIV tahun 2014, sebanyak 264 orang terinfeksi di desa kecil, Kamboja timur laut, bantuan mengalir. Istri perdana menteri negara itu menghantar ratusan kilogram beras, menteri kesehatan membawa kaos kaki dan sarung, lembaga swadaya masyarakat datang membawa sumbangan berupa uang tunai.

Tapi, setahun setelah infeksi HIV massal pertama kali terdeteksi, para pasien dan keluarga mereka sedang berjuang memenuhi kebutuhan.

Pada September, Huot Sieng berusia 21 tahun melahirkan anak pertamanya. Setengah tahun sebelum itu, ia menjadi salah satu di antara ratusan warga Roka ditemukan terinfeksi HIV.

Akibatnya, keluarganya berada dalam situasi ketakutan. Agar tetap sehat dia perlu menerima obat ARV setiap bulan. Terkait perawatan, ia harus berada di Kamboja. Agar tinggal di Kamboja, dia harus menyerah satu-satunya sumber pendapatan sebagai buruh migran ilegal.

“Semua warga di sini bekerja di Thailand,” kata Mat Phanny, temannya Sieng. “Kami tidak dapat menemukan pekerjaan, sulit untuk menemukan pekerjaan apa pun di sini.”

Dengan cara ini, Roka seperti ribuan tempat lain di seluruh Kamboja. Memasuki daerah pedesaan di bagian utara atau barat wilayah itu Anda akan menemukan desa tanpa warga yang lebih tua dari 15 tahun dan lebih muda dari 50 tahun. Kakek momok cucu dengan rumah kosong; semua orang bekerja di Thailand.

Bagi sekitar 500.000 migran, Thailand merupakan satu-satunya tujuan bagi para pekerja Kamboja miskin.

Dan kini, di Roka, ada pilihan.

Pada Desember 2014, para pejabat kesehatan menemukan wabah HIV. Seorang dokter desa populer – tidak berlisensi dan terlatih – telah secara tidak sengaja membuat ratusan orang terinveksi karena menggunakan kembali jarum suntik yang sama. Pada saat tes selesai, 264 orang telah didiagnosis HIV-positif. Pengobatan dan perawatan segera dilakukan, tetapi hal itu sudah terlambat. Pada bulan-bulan berikut, setidaknya sembilan orang tewas.

Dampak langsung adalah teror, marah, shock dan sedih.

Seorang apote1201bker duduk di luar sebuah pusat kesehatan di komune Roka. (Foto: Abby Seiff)

 

Dilema

Selama lebih dari satu dekade, Chom Sor dan istrinya bekerja di Thailand, cukup membuat empat atau lima bulan mendukung anak-anak mereka. Pasangan ini berada di perbatasan ketika mereka mendapat kabar bahwa kedua putra dan putri mereka telah dites HIV-positif.

“Kini kami tidak bisa pergi jauh,” kata Sor, 35. “Kami harus menjaga mereka.”

Pada bulan-bulan intervensi, keluarga telah menghasilkan uang: “Kami memiliki tiga ekor sapi. Kami menjual dua ekor. Kami masih memiliki satu ekor.”

Dengan bantuan internasional sebagian besar mengeluarkan foto, prefektur Katolik setempat dan Buddhisme untuk Pembangunan, sebuah LSM lokal, telah berjuang. Pemerintah membiayai pengobatan, tetapi tidak menyediakan transportasi ke rumah sakit. Jalan baru yang luas sekarang membentang melalui komune Roka, tetapi warga berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

“Mereka tidak akan memberi kami makanan untuk makan, tapi mereka memberi kami jalan besar,” kata Roern Ry, yang suaminya meninggal tak lama setelah didiagnosis dengan HIV.

Ketika wabah terdeteksi, para pejabat menuduh Yem Chhrem – praktek berlisensi. Dia berada di penjara menunggu vonis karena pada Desember atas tuduhan pembunuhan, secara sengaja menyebarkan HIV dan praktek kedokteran tanpa lisensi; kasus ini telah mendorong tindakan keras terhadap ribuan “dokter” lokal.

Setelah Chhrem ditangkap, departemen kesehatan mengirim dokter asli.

“Dokter baru tetap jauh dari sini dan kami harus meyakinkan dia datang dan mengobati orang dengan HIV,” kata Klang Suot, ibunya Sieng. “Dia bersedia bila kami memanggil dia, dan dia baru datang.”

Di Puskesmas komunitas itu, warga desa diolok. Mereka lebih suka tanpa izin “dokter” karena mereka bodoh, kata Sin Suon Chainoun, seorang dokter di Puskesmas.

“Kami hanya memiliki obat di sini, dan bukan jarum suntik,” katanya. “Sebagian besar penduduk desa percaya pada suntikan, ketimbang obat pil.”

Sikap yang sangat dirasakan di Roka, di mana – terlepas dari kematian dan kehancuran – warga desa berbicara hangat dengan ‚Äúdokter tua.”

Sementara perawatan medis di rumah sakit umum Kamboja diberikan gratis, namun para pasien hampir selalu membayar. Keluarga harus membawa selimut dan makanan mereka sendiri, dan sabun yang diperlukan.

Sieng menghantarkan bayinya di rumah sakit provinsi itu, yang berhasil menghindari penularan HIV dari ibu ke anak, tapi gagal mencegah masalah lain. Kembali ke rumah dan menderita komplikasi setelah melahirkan, Sieng terpaksa membayar 100 Dollar AS kepada dokter baru diangkat untuk membuat panggilan rumah.

“Bagi masyarakat miskin, mereka tidak benar-benar mengurus kami,” katanya. “Mereka tidak pernah memperlakukan orang dengan baik dan kami tidak pernah mendapat yang lebih baik. (Itu) mengapa kami membutuhkan dokter pribadi.”

1201cPemerintah telah melebarkan jalan melewati Roka. (Foto: Abby Seiff)

 

Di belakang pusat kesehatan komune saat ini berdiri rumah sakit baru. Para pejabat provinsi telah menjelaskannya sebagai tempat di mana penduduk desa dapat menerima pengobatan ARV selama sisa hidup mereka, tapi beberapa orang skeptis.

“Saya tidak yakin tentang rumah sakit itu. Kami harus menunggu dan melihat bagaimana mereka melayani pasien,” kata Ry.

Rumah sakit itu merupakan harapan, namun pusat kesehatan kecil ini tak seorang pun percaya bahwa akan memiliki 13 tempat tidur. Bahkan bayi tidak dapat diantar ke sana. Operasi tidak dapat dilakukan di sana.

Ketika RS itu dibuka di bulan berikutnya, pejabat berkendara di jalan baru yang luas untuk upacara pemotongan pita. Tidak diragukan lagi mereka akan membawa lebih banyak sumbangan dan penduduk desa akan tersenyum saat mereka menerima makanan tradisional Kamboja, sekantong beras, beberapa saus ikan.

Ketika mereka pergi ke rumah sakit mengkilap itu, tidak ada banyak pelayanan medis, salah satu cara yang bagus bahwa tidak ada yang mampu untuk transit.

 

Abby Seiff, Battambang, Kamboja

 

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi