UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Cinta, belarasa adalah kunci keharmonisan antaragama, kata kardinal Myanmar

Desember 17, 2015

Cinta, belarasa adalah kunci keharmonisan antaragama, kata kardinal Myanmar

 

Ribuan umat Katolik di Myanmar berkumpul pada 16 Desember untuk merayakan 25 tahun Kardinal Charles Maung Bo sebagai Uskup.

Upacara tersebut berlangsung di desa Monhla, tempat asal kardinal Myanmar pertama tersebut dan Misa dirayakan di Gereja Santo Michael bersama 13 uskup dan imam dari 16 keuskupan di Myanmar.

Kardinal Bo mendesak umat Katolik menunjukkan cinta dan belarasa kepada sesama mereka dan hidup berdampingan secara damai di kalangan umat beragama dan berbagai ras di negara itu.

Dia mencatat bahwa ciri kehidupan di desa asalnya adalah keharmonisan di antara umat Buddha dan umat Katolik yang telah berlangsung berabad-abad.

“Kita harus memiliki sikap satu ras, satu agama dan satu bahasa di Myanmar,” kata Kardinal Bo selama homilinya.

Ada fajar baru harapan di negeri ini menyusul pemilu 8 November yang dimenangkan oleh Aung San Suu Kyi yang memimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi.

Tapi, kardinal vokal itu memperingatkan bahwa kebebasan berekspresi di tengah kebebasan baru diharapkan tidak terjadi lagi penyerangan terhadap orang lain atau kelompok lain.

Pastor Maurice Nyunt Wai, sekretaris eksekutif Konferensi Waligereja Myanmar, mengatakan bahwa selain penduduk desa memiliki satu agama dan satu ras atau lainnya, mereka semua adalah warga Myanmar.

“Pesan utama yang kami sampaikan kepada orang-orang adalah bahwa keharmonisan telah terjadi di antara agama Buddha dan Katolik selama berabad-abad dengan hidup bersama dalam persatuan dan perdamaian,” katanya kepada ucanews.com.

1217fKardinal Charles Muang Bo menerima persembahan dari warga etnis Kachin selama Misa pada 16 Desember saat merayakan 25 tahun sebagai uskup.

 

Catherine Htu Nan dari kota Tanai di Negara Bagian Kachin bergabung dalam perayaan itu bersama 270 warga etnis Kachin dari Keuskupan Myitkyina.

“Saya berdoa agar konflik di Kachin berakhir dan membangun perdamaian sehingga para pengungsi akan kembali aman ke rumah mereka masing-masing. Aku ingin mendengar Kardinal Bo berbicara tentang perdamaian untuk negara kita,” kata Htun Nan, ibu dari lima anak, kepada ucanews.com.

Pertempuran sporadis di negara bagian Kachin sejak perjanjian gencatan senjata tahun 2011 menyebabkan lebih dari 100.000 warga Kachin mengungsi di kamp-kamp yang dikelola Gereja.

Kardinal Bo, lahir di Monhla pada 29 Oktober 1948, ditahbiskan menjadi imam Salesian Don Bosco tahun 1976, dan ditahbiskan sebagai Uskup Lashio pada 16 Desember 1990. Tahun 1996, ia dipindahkan ke Keuskupan Pathein dan tahun 2003 ia ditahbiskan sebagai Uskup Agung Yangon. Dia diangkat sebagai kardinal Myanmar pertama pada 14 Februari.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi