UU baru tidak akan hilangkan kejahatan remaja, kata Gereja

05/01/2016

UU baru tidak akan hilangkan kejahatan remaja, kata Gereja thumbnail

 

Lembaga Gereja di India mengatakan penurunan usia remaja untuk diadili seperti orang dewasa tidak akan memberikan efek jera bagi kejahatan remaja.

“Penurunan usia tidak akan membantu. Jika kejahatan telah dilakukan maka terdakwa harus diadili terlepas dari usia,” kata Pastor Savari Raj, direktur Chetnalaya, biro pelayanan sosial Keuskupan Agung Delhi, kepada ucanews.com.

Parlemen India mengesahkan RUU Peradilan Anak pada 22 Desember, yang memungkinkan sidang dimulai pada usia 16 tahun bagi mereka yang didakwa dengan kejahatan serius.

Di India, orang berusia 18 tahun dianggap remaja dan dibebaskan dari hukuman terkait kejahatan serius dan ia dibina di panti sosial selama tiga tahun.

Di bawah RUU baru tersebut, mereka berusia antara 16 -18 tahun bisa menghadapi hukuman penjara hingga tujuh tahun.

Dewan Peradilan Anak akan memutuskan apakah seorang anak terdakwa harus diadili berdasarkan Undang-Undang Peradilan Anak atau di pengadilan biasa.

Kebijakan terkait penurunan usia setelah kasus pemerkosaan brutal dan pembunuhan seorang mahasiswa kedokteran berusia 23 tahun di bus oleh enam pria mabuk, termasuk seorang remaja, pada Desember 2012.

Kasus ini menjadi berita utama internasional ketika warga India menggelar protes  selama berhari-hari menuntut perlindungan bagi kaum perempuan.

Salah satu narapidana berusia 17 tahun saat melakukan kejahatan dan ia lolos dari hukuman mati yang dijatuhkan kepada para pelaku.

Remaja itu dibina di panti sosial selama tiga tahun dan dibebaskan awal pekan ini, memicu kemarahan di kalangan warga India.

Pastor Raj mengatakan bahwa pemerintah tergesa-gesa mengesahkan RUU itu dan ditekan publik. “Kini jika anak berusia 15 dan 14 tahun melakukan kejahatan serius, pemerintah akan tergesa-gesa lagi mengubah UU itu?”

Berbagai partai politik dan aktivis sosial juga yakin RUU itu disahkan secara tergesa-gesa.

Pastor Frederick D’Souza, direktur eksekutif Karitas India menyatakan keprihatinan atas “bias meningkat terhadap anak-anak.”

“Semua orang berbicara tentang menurunkan usia dan menghukum anak-anak, tetapi masyarakat tidak lupa bahwa kadang-kadang orang dewasa yang mendorong anak-anak untuk melakukan kejahatan,” katanya.

Ketika mereka melakukan kejahatan keji, kata imam itu, ada beberapa anak yang mencapai kematangan (fisik dan mental) lebih cepat dari yang lain dan mereka sepenuhnya menyadari apa yang mereka lakukan.

“Jadi usia tidak ada hubungannya dengan kejahatan. Pemahaman tentang tingkat kematangan mereka adalah suatu keharusan bagi pengadilan yang adil dan jika terbukti bersalah, ia harus dihukum seperti orang dewasa,” kata UU baru itu.

Sumber: ucanews.com




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  2. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  3. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  4. Gereja dibakar, darurat militer diumumkan di Mindanao
  5. Calon imam SVD mengajar di Pondok Pesantren
  6. Uskup Filipina menyamar jadi petani untuk melihat kegiatan paroki
  7. Umat Katolik Pakistan marah atas pembatasan media sosial
  8. Banyak tantangan menanti Presiden Timor-Leste yang baru
  9. Paus ingatkan bahaya kata-kata kotor dan saling menjelekkan
  10. Penyandang disabilitas meminta Jokowi membentuk komisi khusus
  1. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  2. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  3. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  4. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  5. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  6. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  7. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
  8. Ingat kita di Indonesia. Semua mayoritas dan minoritas. Ketika ada pihak mengkla...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:43:38
  9. Pro Ecclecia et patria! Demi bangsa kita juga harus tegas menghadapi kekuatan ra...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:35:34
  10. Mohon diperjuangkan agar bimas katolik dapat mengangkat kembali guru agama Katol...
    Said Rudi M on 2017-05-13 22:00:07
UCAN India Books Online