UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Freedom House: Asia terburuk terkait kekerasan dan penganiayaan

Januari 29, 2016

Freedom House: Asia terburuk terkait kekerasan dan penganiayaan

Polisi Banglades menjaga sebuah gereja Katolik di Dhaka pada Desember menyusul serangan dan ancaman terhadap klerus di Banglades.

 

Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, ekstremisme agama menimbulkan ketegangan dan kekerasan yang meningkat tahun lalu, demikian Freedom House, sebuah lembaga  berbasis di Amerika Serikat dalam laporan tahunannya.

Dirilis 27 Januari, laporan khusus untuk Asia sebagai wilayah di mana “nasionalisme agama terkait ketegangan politik” dan menyoroti enam negara – semua di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Di berbagai negara Asia, institusi politik menjadi biang kekerasan terkait nasionalisme agama atau ekstremisme,” kata sebuah pernyataan yang menyertai laporan itu.

Di Myanmar, diskriminasi anti-Muslim “tetap merupakan masalah serius,” catat laporan itu, seraya menambahkan bahwa tidak jelas apakah Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) akan menangani pemerintahan baru dapat mengatasi masalah ini.

Di India, pemerintah nasionalis Hindu “umumnya gagal ┬ámengendalikan kekerasan dan intimidasi anti-Muslim, mendorong atau mengambil keuntungan dari kekerasan agama untuk kepentingan politik.”

Sementara itu di negara-negara mayoritas Muslim, sekular dan minoritas lainnya menderita akibat penindasan. Laporan ini menyoroti serangkaian serangan kepada blogger atheis, warga asing dan Syiah oleh kaum Mulim radikal di Banglades.

Di Malaysia, peningkatan konservatisme telah menyebabkan penganiayaan terhadap kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), dan di Brunei “pembatasan pemerintah terhadap minoritas mempraktekan agama dan menerapkan KUHP baru berdasarkan syariah.”

Di antara negara-negara yang terdaftar, hanya Sri Lanka terpilih sebagai negara yang telah melihat eskalasi menurun, setelah nasionalis Buddha kehilangan pengaruh yang mengejutkan tahun lalu dalam kepemimpinan negara itu.

“Di banyak negara dengan pemerintahan otoriter, penurunan pendapatan akibat penurunan harga komoditas menyebabkan diktator ┬ámelipatgandakan tindakan represif di dalam negeri dan menyerang musuh asing,” kata Arch Puddington, wakil ketua penelitian, dalam sebuah pernyataan yang menyertai laporan itu, yang juga menyoroti Thailand sebagai negara di mana “kemunduran dramatis tahun sebelumnya terkait kebebasan.”

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi