UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengungsi Katolik merindukan pelayanan selama masa Prapaskah

Pebruari 24, 2016

Pengungsi Katolik merindukan pelayanan selama masa Prapaskah

Warga dari Mullikulam yang mengungusi akibat perang berjalan melewati hutan.

 

Tanah dan rumah disita oleh militer Sri Lanka membuat sulit bagi umat Katolik dari Keuskupan Mannar untuk menghadiri kegiatan di gereja mereka terutama pelayanan khusus selama masa Prapaskah.

“Militer pada tahap akhir perang mengatakan kepada kami untuk mengosongkan rumah kami di sekitar gereja dan kami bisa kembali segera, tapi kami tidak pernah diizinkan untuk kembali dan kami semua menjadi pengungsi,” kata Vincentamma Cross, seorang umat berusia 81 tahun dari Paroki St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Mullikulam.

Warga harus berjalan lebih dari empat kilometer melalui hutan lebat untuk menghadiri Misa hari Minggu, tapi sekarang selama masa Prapaskah sulit untuk menghadiri Jalan Salib, pemberkatan dan pelayanan doa khusus  sehari-hari, tambahnya.

Gereja St. Perawan Maria Diangakat ke Surga di Mullikulam dibangun tahun 1786. Mullikulam merupakan daerah pertanian dan perikanan dengan luas sekitar 500 hektar. Penduduk di sana memiliki rumah permanen, tapi ia mengatakan mereka telah mengungsi karena dijadikan pangkalan angkatan laut.

Perang yang dimulai tahun 1983 antara pemerintah Sri Lanka dan separatis Macan Tamil berakhir tahun 2009.

Menurut PBB, lebih dari 40.000 warga sipil tewas selama tahap akhir perang. Keuskupan Mannar dilanda perang beberapa tahun karena pemerintah dan pemberontak saling merebut tanah.

Pastor Anton Thavaraja, kepala paroki itu mengatakan umat mengalami kesulitan datang ke gereja pada hari Minggu.

“Sebelumnya ada banyak pembatasan terhadap umat untuk mengunjungi gereja dan ditentukan oleh militer. Kami memiliki jadwal Misa hari Minggu pukul 11.00, tetapi umat lansia merasa sulit untuk kembali ke rumah setelah Misa akibat panas matahari,” kata imam itu.

Meskipun waktu Misa telah diubah menjadi pukul 9.15 a.m, hal itu “masih sulit untuk mengatur Prapaskah di gereja karena umat tinggal sangat jauh dari gereja,” katanya. Tidak ada angkutan umum atau fasilitas infrastruktur lain di daerah ini, tambah imam itu.

“Selama puasa kami mengadakan Jalan Salib, tetapi umat lansia tidak bisa datang ke gereja dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer. Oleh karena itu kami mengadakan pelayanan dekat dengan tempat mereka tinggal sekarang yang berada di tengah hutan,” kata Pastor Thavaraja kepada ucanews.com.

Selain itu, anak-anak juga mengalami kehilangan pelajaran agama dan pelayanan doa Prapaskah karena mereka takut berjalan melewati hutan.

“Kami telah mengirim permohonan kepada pejabat pemerintah termasuk presiden untuk mengembalikan tanah kami, tapi masih belum ada jawaban positif,” kata imam itu.

Pemerintah sejak perang berakhir telah berjanji beberapa kali untuk mengembalikan tanah kami, tapi itu belum terjadi.

Gotabhaya Rajapaksa, mantan menteri agraria juga berjanji untuk memberikan kembali tanah dari umat, tapi itu tidak terealisasi.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi