UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Realitas keras bagi pekerja anak di Banglades

Pebruari 26, 2016

Realitas keras bagi pekerja anak di Banglades

Muhammad Sohel, 13, adalah seorang kondektur di Dhaka.

 

Di suatu pagi, hari Jumat, di Dhaka, Muhammad Sohel berusia 13 tahun menunggu di sebuang angkutan umum untuk mulai kerja hariannya sebagai kondektur.

Pekerjaan Sohel adalah mengantar para penumpang dan mengumpulkan tarif ketika kendaraan itu bergerak melewati jalan-jalan di ibukota Banglades.

Jumat adalah hari doa bagi umat Muslim dan dianggap sebagai hari libur di negara mayoritas Muslim ini. Bagi Sohel hari itu berarti dia akan mendapat sedikit penumpang.

“Saya mulai bekerja pukul 06:00 dan berlanjut hingga sekitar tengah malam,” kata Sohel, yang telah bekerja sebagai kondektur selama tiga tahun.

Setiap bulan, Sohel menghasilkan sekitar 7.000 taka (90 dolar AS). Setelah dibayar, dia mengirimkan uang itu kepada ayah dan dua adiknya yang tinggal di sebuah desa di Banglades tengah.

Sebelum bekerja di kota itu, Sohel tinggal bersama keluarganya dan menghadiri sekolah dasar gratis yang dikelola oleh sebuah LSM. Hidupnya berubah drastis tahun 2012 ketika ibunya meninggal.

“Dengan kematian ibuku, saya tak bersekolah dan saya datang ke Dhaka bersama kakak saya untuk mendukung keluarga saya,” katanya.

Sohel mengatakan ia menyesal melihat anak-anak seusianya pergi ke sekolah.

“Saya punya impian menjadi olahragawan … Kini aku akhirnya menjadi kondektur, mungkin selamanya,” katanya.

0226eDalam banyak kasus anak-anak dibayar rendah.

 

Mekanik muda

Muhammad Aslam, 14, telah bekerja di bengkel mekanik di Dhaka selama empat tahun terakhir.

Tugas utama Aslam adalah pengelasan besi dan membantu untuk mengoperasikan mesin berat. Ia mulai bekerja pada 06:00 pagi dan selesai sekitar 10:00 malam.

Berasal dari keluarga yang sangat miskin, Aslam tidak pernah bersekolah.

“Anak-anak seusia saya pergi ke sekolah dan saya juga ingin pergi ke sekolah, tetapi orangtua saya tidak mampu dan mengirim saya untuk bekerja,” kata Aslam.

Banyak anak Banglades berada dalam situasi serupa.

Laporan Survei Nasional Pekerja Anak oleh Biro Statistik Banglades mengatakan bahwa ada 3,45 juta pekerja anak  yang masih aktif.

Survei ini diterbitkan Desember lalu dan mengungkapkan jumlah pekerja anak meningkat sejak survei terakhir yang dilakukan tahun 2003, ada 3,2 juta pekerja anak.

Sekitar 1,2 juta anak saat ini terlibat dalam berbagai bentuk pekerjaan berbahaya, termasuk bidang mekanik, konstruksi, dan pergudangan, lapor survei. Angka itu menunjukkan 1,3 juta anak tahun 2003.

Tahun 2012 pemerintah ingin menghapus pekerja anak hingga tahun 2016.

“Kita harus mengakui bahwa kita telah gagal memenuhi janji yang kami buat. Selama pertemuan regional negara-negara Asia Selatan di Kolombo pada Desember lalu, kami mengulangi tujuan untuk menghapus pekerja anak dari Banglades hingga 2019,” kata A.K. Masud,  sekretaris bersama di Kementerian Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan Banglades.

Nasib pekerja anak di Dhaka.

 

Kemiskin

Lebih dari 30 persen dari 160 juta warga Banglades hidup dengan kurang dari 2 dolar AS per hari, mendorong pekerja anak.

Meskipun pendidikan dasar gratis di sekolah-sekolah yang dikelola negara, keluarga miskin sering mengirimkan anak-anak mereka untuk bekerja.

“Keluarga berjuang bertahan hidup setiap hari dan perlu mencari sumber daya tambahan. Setiap jenis pekerjaan, tidak peduli dibayar rendah agar bisa menutupi kebutuhan dasar mereka,” kata aktivis hak anak Bruder Marist Cesar Henriquez kepada ucanews.com.

Seringkali pekerja anak diperlakukan buruk oleh majikan mereka. Selain  dibayar rendah mereka berada pada risiko kekerasan fisik dan psikologis.

“Anak-anak di tempat kerja diperlakukan dengan tidak martabat. Terlepas dari risiko kesehatan dan keselamatan, mereka menghadapi penghinaan, pelecehan dan kekerasan fisik,” ujar Bruder Henriquez.

Akibat kemiskinan dan penegakan hukum lemah, pekerja anak secara luas diterima di masyarakat Banglades, kata para aktivis.

“Ketimbang anak-anak tinggal di rumah, keluarga mencari prospek yang menghasilkan pendapatan dengan mengirim anak-anak untuk bekerja. Orang melihat pekerja anak di mana-mana, tetapi mereka tidak menganggap itu masalah,” kata Emranul Haque Chowdhury, presiden Forum Hak Anak, sebuah koalisi nasional kelompok hak-hak anak di Banglades.

Pemerintah dan LSM perlu mengambil tindakan efektif seperti memberikan pinjaman bebas bunga sehingga keluarga miskin bisa memulai usaha kecil yang memungkinkan mereka mengirim anak-anak mereka ke sekolah, kata Chowdhury.

“Upaya lebih banyak diperlukan untuk menegakkan hukum dan lebih banyak kampanye diperlukan untuk mendidik orang terhadap pekerja anak,” tambahnya.

0226fOrangtua mengirim Sabbir Hossain berusia 13 tahun untuk bekerja.

 

Karya Gereja untuk anak-anak

Untuk mengatasi pekerja anak, Gereja Katolik dan kelompok Kristen lainnya telah berfokus pada anak-anak dari masyarakat miskin dengan pendidikan dan keterampilan.

“Sebagian besar proyek kami fokus pada pembangunan ekonomi dan mata pencaharian masyarakat miskin,” kata Shiba Rozario dari Karitas.

“Kami menggabungkan kebijakan perlindungan anak di proyek-proyek kami, mendorong orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah,” katanya.

Karitas Banglades telah menyediakan pendidikan dasar untuk lebih dari 150.000 anak tidak sekolah dari masyarakat miskin dan terpinggirkan di Banglades.

Berkat dana dari Uni Eropa, Karitas mengirim 1.000 anak ke sekolah di seluruh negeri.

Karitas juga menjalankan anak dan pengembangan keterampilan pusat di delapan wilayah operasional di mana mereka menawarkan anak-anak yang kurang beruntung dengan pendidikan informal dan pelatihan kejuruan.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi