UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Perempuan Badi berjuang menghindari diri dari perdagangan seks di Nepal

Maret 10, 2016

Perempuan Badi berjuang menghindari diri dari perdagangan seks di Nepal

 

Seorang pria paruh baya memasuki ruangan gelap di mana Goma Badi sedang menunggu. Dia saat itu baru berusia 14 tahun.

“Dia memakai kemeja polos dan celana tenunan. Begitu dia masuk kamar saya, dia mulai melepaskan pakaiannya dengan senyum,” kata Goma.

“Ibu saya bercerita bahwa pria ini akan datang dan membuat saya siap untuk malam pertama saya dengan pelanggan yang seusia ayahku. Saya merasa gugup,” katanya.

Bagi Goma adegan ini menandai awal dari pekerjaannya sebagai PSK – profesi yang diturunkan dari  generasi ke generasi dalam keluarganya.

Sebagai putri sulung keluarga dalit miskin, dia juga merawat empat adiknya yang semuanya lahir tanpa mengetahui siapa ayah mereka. Karena ibunya sudah tua dan  kurang menarik bagi pelanggan, godaan Goma sebagai PSK dimulai. Pelanggan pertama dibayar 40 rupee (kurang dari 50 dolar AS) satu malam, pada akhir September 1995.

“Aku tahu itu datang cepat atau lambat. Pekerjaa itu dilakukan para wanita dari komunitas saya termasuk ibu saya guna mendukung keluarga,” kata Goma, distrik Kailali, dengan sekitar 60 keluarga dari komunitas Badi.

Pelanggannya adalah orang lokal, politisi, pengusaha dan oknum  polisi dari kota itu dan kota-kota tetangga.

“Ada empat hingga  lima pelanggan sehari,” kata Goma.

Selama 15 tahun sebagai PSK, Goma melahirkan tiga anak yatim.

“Saya meninggalkan mereka bekerja sebagai PSK selama lima tahun,” kata Goma, yang kini menikah dengan seorang buruh dari India.

Prostitusi  adalah ilegal di Nepal, tapi untuk gadis-gadis muda Badi, termasuk Goma,  menjual diri untuk seks guna mendukung keluarga mereka adalah biasa. Di sebuah negara seperti Nepal, yang masih memiliki diskriminasi berdasarkan kasta, tingginya tingkat kemiskinan dan buta huruf, anak perempuan dari komunitas Badi memiliki pilihan terbatas.

Sensus nasional 2011, jumlah populasi Badi adalah 38.603 jiwa di Nepal Barat.

0309dTaruna Badi menjadi pelacur di usia 15 tahun untuk mendukung orangtuanya yang sakit.

 

Terpukul

Kisah Taruna Badi, 45, seorang mantan PSK tidak berbeda dengan Goma.

Sebagai anak tunggal, dia bermigrasi dengan orangtuanya dari daerah terpencil di Nepal Barat untuk mendapatkan uang dengan menjual alat musik tradisional.

“Saya masih kecil ketika orangtua saya bermigrasi ke dataran,” kata Taruna. “Selama beberapa tahun keluarga mendapatkan uang dengan mengamen dan menjual alat musik tradisional seperti Madal, drum tradisional yang digunakan rakyat Nepal,” katanya.

Di zaman modern ini, orang lebih suka televisi dan video, dan meninggalkan  musik dan tari tradisional.

“Tidak ada pekerjaan bagi kami. Kami dianggap kelompok tak tersentuh di antara masyarakat,” katanya.

Saat ia bertumbuh, orangtua Taruna ini mengalami sakit dan ia yang bertanggungjawab atas keluarganya.

“Satu-satunya pilihan yang tersisa bagi saya adalah mengambil apa yang anggota lain dalam keluarga saya lakukan untuk hidup – menjual diri saya demi uang,” katanya.

“Saya berusia 18 tahun ketika saya terjun ke PSK,” kata Taruna.

0309eJuthi Badi, 50, seorang mantan PSK, memiliki enam cucu tanpa yang ayah.

 

Memperjuangkan hak-hak mereka

Seperti Goma dan Taruna, ada banyak wanita Badi setengah baya yang meninggalkan profesi mereka untuk  kehidupan yang lebih baik.

Muda adalah sebuah komunitas Badi utama dan itu diisi dengan anak-anak yang lahir akibat perdagangan seks. Semua dari mereka tidak mengetahui identitas ayah mereka.

Tahun 2007, Taruna, Goma dan ibunya Juthi, termasuk di antara lebih dari 400 perempuan dari komunitas mereka yang melakukan perjalanan ke Kathmandu untuk menuntut pemerintah menyediakan makanan, tempat tinggal dan pakaian.

“Sudah waktunya untuk memperjuangkan martabat gadis-gadis muda dan wanita yang telah mengalami cukup kesulitan hidup sebagai warga Badi, dan mengamankan generasi masa depan,” kata Uma Badi, ketua Komite Perjuangan Hak Badi.

Seorang mantan pekerja seks, Uma bersama puluhan perempuan Badi ditangkap selama protes tahun 2007 yang berlangsung selama satu setengah bulan. Pada akhirnya pemerintah menandatangani kesepakatan menjanjikan untuk mengakhiri diskriminasi serta menciptakan kesejahteraan dan fasilitas kerja.

Perjanjian yang ditandatangani antara pemerintah dan komunitas Badi difokuskan pada lima isu utama: mengakhiri penggunaan istilah diskriminatif, memberikan KTP dan kewarganegaraan kepada semua warga Badi dan memberikan beasiswa untuk anak-anak, pekerjaan dan akses ke kesehatan.

Pemerintah mengatakan mereka akan memberikan 15.000 rupee (150 dolas AS) untuk setiap perempuan Badi sebagai uang saku, namun sejauh ini hanya 3.000 wanita telah menerima. Demikian pula, Kementerian Pembangunan Perkotaan telah melaksanakan program perumahan rakyat lima tahun sejak 2011, namun sejauh ini  dibangun sekitar 200 rumah.

“Memang benar bahwa ada program yang sangat terbatas  pada wanita Badi dan pemberdayaan mereka,” kata Manu Humagain, juru bicara  Komnas Perempuan.

“Perempuan (Badi) dikucilkan, dilecehkan dan didiskriminasi sebelum dan situasi belum membaik seperti yang diharapkan. Kita perlu program khusus yang berfokus pada perbaikan status sosial-ekonomi mereka dalam jangka panjang,” tambahnya.

Meskipun perdagangan seks komersial tidak lazim, namun hal itu masih diam-diam dipraktekkan.

“Jika ada pria yang masih menginginkan saya, saya akan menjadi PSK lagi,” kata Goma.

“Ada tren meningkat di mana gadis-gadis muda dan perempuan pindah ke India, di mana sebagian besar menjadi PSK untuk mendapatkan uang dan mengirimkannya ke orangtua mereka yang tinggal di Nepal,” kata Uma.

0309fPemukiman komunitas Badi di Muda.

 

Karitas membantu komunitas Badi

Koordinator Program Karitas di Nepal Barat, Janak Sharma mengatakan Karitas Nepal berencana membuat program khusus untuk perempuan Badi yang fokus pada peningkatan kehidupan mereka melalui pemberdayaan, pelatihan keterampilan, pendidikan dan kesehatan.

Tahun 2014, Karitas Nepal terlibat dalam membantu korban banjir dari suku Badi yang tinggal di distrik Dailekh dengan membangun rumah untuk 23 keluarga.

“Mayoritas keluarga Badi tidak memiliki lahan sendiri atau rumah. Keluarga di Dailekh tinggal di bantaran sungai  ketika banjir maka gubuk mereka hanyut terbawa banjir,” kata Sharma.

Karitas juga memberikan dukungan finansial untuk membeli tanah dan membangun rumah untuk keluarga yang terkena dampak. Inisiatif ini sebagian didanai oleh pemerintah Nepal di bawah Program Perumahan Rakyat.

“Selain itu, fasilitas perumahan, kami juga mendukung, menyediakan pekerjaan, tabungan dan kredit bagi perempuan Badi untuk mencegah mereka dari PSK,” katanya.

Sumber: ucanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi