UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Komsos KAJ pakai opera sebagai media penyampai pesan sosial

Maret 14, 2016

Komsos KAJ pakai opera sebagai media penyampai pesan sosial

Pastor Adrianus Steve Winarto (tengah) menyampaikan pernyataannya saat konferensi pers menjelang pementasan Opera Dolorosa. (Foto: Ryan Dagur)

Sedih. Romo Dolores ditembak mati oleh aparat karena seorang bupati yang mengizinkan perusahaan-perusahaan tambang untuk melakukan aktivitas penambangan di wilayahnya merasa terganggu oleh upayanya dalam membantu orang-orang kecil yang tinggal di bantaran sungai dan terkena dampak dari aktivitas penambangan itu.

Sebelumnya Romo Dolores tidak sendiri dalam mengupayakan itu. Ia bergabung dengan dua sahabatnya yang beragama Islam – Siti Dumilah dan Baidullah. Ada juga Suster Rosa. Namun Romo Dolores yang dijadikan kambing hitam oleh bupati perempuan yang serakah dan menggunakan isu Kristenisasi sebagai alasan.

Itulah penggalan kisah Opera Dolorosa berdurasi sekitar 2,5 jam yang dipertontonkan untuk khalayak umum pada 5-6 Maret di Ciputra Artpreneur di Kuningan, Jakarta Selatan, oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Menurut Ketua Komsos KAJ Pastor Matius Harry Sulistyo, drama musikal itu diproduksi berdasarkan Arah Dasar KAJ untuk periode 2016-2020.

“Pertama-tama latar belakangnya karena Keuskupan Agung Jakarta memiliki arah dasar lima tahun untuk tahun 2016-2020 itu tentang mengamalkan Pancasila. Nah, bagaimana semangat mengamalkan Pancasila itu kita bisa aktualkan kembali. Salah satu semangat itu adalah dengan pementasan drama musikal ini,” katanya kepada ucanews.com.

“Ini drama musikal saya beri title Keadilan Sosial karena kebanyakan di Indonesia adalah masalah ini,” lanjutnya.

Misalnya, Pastor Sulistyo baru-baru ini mengunjungi Timika, ibukota Kabupaten Mimika di Propinsi Papua. Ia melihat banyak orang Papua masih hidup di bawah garis kemiskinan, sementara wilayah itu kaya dengan sumber daya alam.

Di Propinsi DKI Jakarta, kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin masih bisa dilihat dengan jelas.

“Pesan yang paling jelas di sini, pertama kalau kita berjuang untuk membangun keadilan. Kita bisa bekerjasama dengan siapa pun tanpa harus membeda-bedakan. Yang kedua, sebuah perjuangan mungkin akan mengalami jalan buntu, saat kita mengalami jalan buntu, tetaplah pada koridor kasih, tidak melakukan kekerasan,” kata imam yang juga penulis naskah opera tersebut.

Opera Dolorosa – Dolores dan Rosa – bukan drama musikal pertama yang diproduksi oleh Komsos KAJ.

Tahun 2013, Komsos KAJ memproduksi Opera Selubung Perempuan yang menggarisbawahi pesan sosial tentang suara hati. Setahun kemudian, Komsos KAJ membuat Opera Nada untuk Asa yang menceritakan sebuah kisah tentang penghormatan kepada kehidupan.

Opera Dolorosa yang produksinya memakan waktu sekitar tujuh bulan merupakan drama musikal ketiga.

“Ini drama musikal mengenai bagaimana kita mau mengangkat sisi kemanusiaan, solidaritas. Dan supaya semuanya itu berakhir baik. Tidak ada yang merasa direndahkan, tidak ada yang merasa lebih berkuasa dan sebagainya. Sebenarnya sebagai sebuah penyadaran diri terhadap siapa pun juga di dunia ini,” kata Pastor Adrianus Steve Winarto, sutradara Opera Dolorosa.

“Bagaimana situasi kadangkala ada penindasan, ketidakadilan yang terjadi di muka dunia ini, sehingga banyak orang merasa diperlakukan tidak adil. Nah, kita mau menyadarkan begitu banyak orang, siapa pun dia,” lanjut imam asal Paroki St. Gabriel di Pulogebang, Jakarta Timur, itu.

Sebanyak 65 orang beragama Katolik dan non-Katolik memerankan sejumlah tokoh berbeda dalam Opera Dolorosa.

0314iPastor Dolores, diperankan oleh seorang pria Muslim, Ade Setiawan, yang berbicara dengan para wanita miskin yang tinggal di bantaran sungai. (Foto: Ryan Dagur)

 

Widi Dwinanda, seorang wanita Muslim yang memerankan Suster Rosa, merasa cukup sulit dalam memerankan tokoh tersebut.

“Ini tantangan yang luar biasa buat aku. (Namun) sebagai seorang Muslim di sini, aku sangat menikmati tantangan ini karena aku punya visi bahwa kita Bhinneka Tunggal Ika ada di pementasan ini,” katanya.

Selain itu, ia merasa perlu meyakinkan keluarganya yang mayoritas Muslim bahwa ia hanya memerankan tokoh itu.

“Mayoritas Muslim ada di keluarga aku. Sampai aku bisa meyakinkan keluarga aku bahwa ini sebuah seni. Aku suka sekali dengan seni, aku cinta banget sama teater,” lanjutnya.

Sementara itu, Ria Probo, seorang wanita Katolik, harus memerankan Siti Dumilah, seorang wanita beragama Islam yang mengenakan jilbab.

“Dengan bermain seperti ini, saya berusaha memberikan kesadaran kepada orang-orang yang menonton bahwa ada hal-hal di sekeliling kita yang perlu dibenahi,” katanya.

Umat Paroki Santa Maria Regina di Bintaro, Propinsi Banten, itu juga memuji upaya Komsos KAJ dalam menggunakan opera untuk menyampaikan pesan-pesan sosial.

“Ternyata Gereja Katolik tidak hanya membenahi dirinya saja, kekuatan yang ada di dalam dirinya saja, tetapi juga melihat sekelilingnya,” lanjutnya.

0314jLebih dari empat ribu penonton menyaksikan Opera Dolorosa yang dipentaskan sebanyak empat kali pada Sabtu dan Minggu awal bulan ini.

Salah satunya adalah Agnes Avi Nuryani, 24.

“Menurut saya, menggunakan opera untuk menyampaikan pesan-pesan sosial seperti ini sangat menarik,” katanya.

Dukungan juga datang dari Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo.

“Keadaan masyarakat semakin kompleks, persaingan bebas semakin mewarnai dinamika hidup baik dalam lingkup global maupun regional dan lokal. Dalam arus semacam itu, tidak jarang keadilan dan kebenaran dikesampingkan, martabat manusia dikorbankan demi tujuan yang tidak terpuji,” kata prelatus itu.

“Di tengah-tengah kenyataan seperti itu, kita semua murid-murid Kristus ditantang untuk menjadi suara hati, dengan terus bertekun memperjuangkan nilai-nilai Pancasila dalam rangka menanggapi panggilan kita semua untuk menjadi semakin sempurna dalam kasih dan semakin penuh menghayati hidup Kristiani – semua searah dengan Arah Dasar KAJ,” lanjutnya.

Gereja Katolik memproduksi opera sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan sosial supaya Gereja Katolik menjadi semakin inklusif.

“Ini saatnya kami keluar. Kami mau menunjukkan bahwa kami peduli kepada masyarakat Indonesia,” kata Pastor Winarto.

Katharina R. Lestari, Jakarta

 

One response to “Komsos KAJ pakai opera sebagai media penyampai pesan sosial”

  1. andreas jacob says:

    Salut tuk kerja keras tim, tapi kritik utk peran pastor/suster, tetep aja yg katholik dong, Romo,Pak Sutradara.. Kecuali (yg muslim itu artis)punya nilai jual.. Tapi kalo penontonnya banyak sih, yah bagus.. Salam teater.. Dari guru teater yg kena dicurigai satpam di gereja kathedaral,yg akhirnya malas jadi aktif ke greja.. GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi