Kardinal Gracias menyerukan pembebasan tujuh orang Kristen

17/03/2016

Kardinal Gracias menyerukan pembebasan tujuh orang Kristen thumbnail

Para istri dari tujuh pria Kristen yang dijatuhi hukuman seumur hidup menghadiri kampanye online untuk menyerukan pembebasan suami mereka.

 

Kardinal Oswald Gracias dari Mumbai telah bergabung bersama para aktivis dan orang-orang media menyerukan pembebasan tujuh orang Kristen, mereka mengatakan tujuh orang itu dipenjara secara tidak adil terkait pembunuhan seorang pemimpin Hindu di Negara Bagian Odisha, India.

Kardinal Gracias telah menandatangani petisi online 14 Maret untuk membebaskan mereka dan “sangat prihatin tentang keadaan mereka,” kata Pastor Nigel Barrett, pejabat Keuskupan Agung Mumbai kepada ucanews.com.

Tujuh orang Kristen itu dipenjarakan seumur hidup pada Oktober 2013 karena dituduh membunuh pemimpin Hindu lokal Swami Laxmanananda Saraswati tahun 2008.

Pembunuhan itu memicu kekerasan anti-Kristen yang berlangsung lebih dari tujuh pekan.

Sekitar 100 orang Kristen tewas dan 50.000 orang mengungsi selama kekerasan tersebut.

Petisi online mengklaim tujuh orang ini dihukum menyusul proses hukum ceroboh dan atas dasar teori konspirasi terkait pembunuhan Saraswati.

Para aktivis berencana mengirim petisi itu kepada presiden India, Jaksa Agung dan ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

“Tujuh pria ini dipenjara sebagai akibat dari argumen aneh yang bias karena alasan politik,” kata Pastor Ajay Singh yang telah bekerja untuk para korban kekerasan yang meletus setelah pembunuhan tersebut.

“Kini tidak ada satu orang pun dihukum yang berada di balik kekerasan itu. Tapi orang-orang yang tidak bersalah terus dipenjara. Apakah ini merupakan ejekan terhadap keadilan,” kata Pastor Singh, mengacu pada kekerasan anti-Kristen.

“Hampir tidak ada bukti yang kredibel” terhadap mereka yang dihukum, kata Anto Akkara, seorang wartawan yang meluncurkan kampanye tersebut.

Akkara, yang menulis empat buku tentang kekerasan itu mengatakan dua polisi yang bersaksi dalam sidang tujuh pria itu memberikan kesaksian mereka tahun lalu mengakui bahwa penyelidikan terkait kekerasan komunal dengan tuduhan terhadap Kristen adalah palsu.

Dia dan Pastor Singh mengatakan banding Pengadilan Tinggi terhadap mereka telah berulang kali ditunda.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online