UCAN Indonesia Catholic Church News

Rekomendasi panel dinilai sebagai agenda anti-Kristen

19/04/2016

Rekomendasi panel dinilai sebagai agenda anti-Kristen thumbnail

Seorang wanita Katolik menghadiri Misa di sebuah gereja di New Delhi, India.

 

Sebuah panel resmi telah merekomendasikan bahwa status minoritas yang diberikan kepada lembaga pendidikan di negara bagian Madhya Pradesh, India, ditinjau kembali, sebuah langkah yang para pemimpin Gereja mengatakan sebagai bagian dari agenda anti-Kristen yang didorong oleh partai nasionalis Hindu negara itu.

Komisi minoritas negara itu, sebuah tim yang ditunjuk pemerintah untuk melindungi kepentingan agama dan bahasa minoritas, pekan lalu merekomendasikan pemerintah menyelidiki sertifikat lembaga pendidikan yang dikelola minoritas di negara bagian itu.

Para pemimpin Gereja mengatakan rekomendasi komisi itu ditujukan untuk membatasi kebebasan dan otonomi sekolah mereka, yang didirikan menyusul ada jaminan konstitusional yang diberikan kepada agama-agama minoritas untuk mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan tersebut.

Langkah ini dapat dilihat sebagai bagian dari agenda anti-Kristen dan “menghentikan standar pendidikan di negara bagian itu,” kata Uskup Agung Bhopal, Mgr Leo Cornelio menanggapi rekomendasi komisi minoritas negara bagian itu.

“Hal ini sangat mengecewakan bahwa panel minoritas telah memberikan laporan terhadap kaum minoritas di negara bagian ini,” kata Pastor Maria Stephen, jubir dewan uskup regional.

“Komisi minoritas bertujuan melindungi dan mempromosikan kesejahteraan lembaga minoritas, tetapi dengan langkah ini pihaknya telah gagal melakukan tugasnya,” kata Pastor Stephen.

Kekerasan terhadap minoritas

Partai Nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party, yang telah berkuasa di Madhya Pradesh sejak tahun 2003, telah menyaksikan serangkaian kasus kekerasan terhadap umat Kristen dan Muslim.

Para pemimpin Kristen dan Muslim mengatakan kelompok garis keras Hindu berada di balik kekerasan itu dengan dukungan pemerintah secara diam-diam.

Kelompok hak asasi manusia Mumbai dalam laporan tahunannya yang dirilis pada Januari mengatakan negara bagian itu menyaksikan 29 insiden kekerasan terhadap komunitas Kristen tahun 2015.

Dengan latar belakang seperti itu, para pemimpin Gereja percaya rekomendasi untuk meneliti sertifikat yang sudah diberikan akan menjadi kesempatan bagi kelompok Hindu garis keras dan para pendukung mereka di birokrasi untuk melecehkan misionaris dan sekolah mereka.

Namun, sekretaris komisi minoritas negara itu Nisar Ahmed mengatakan kepada ucanews.com bahwa rekomendasi komisi itu bertujuan memberantas korupsi dalam pembuatan sertifikat.

Beberapa sertifikat telah diduga dikeluarkan untuk “sekolah tidak layak,” kata Ahmed.

Sebuah undang-undang menetapkan bahwa sekolah-sekolah yang dimiliki dan dikelola secara pribadi harus mengalokasikan 25 persen kursi untuk siswa miskin.

Tapi, banyak sekolah tidak mau menerima siswa miskin karena mereka pikir akan menurunkan status lembaga mereka, kata Ahmed.

Dia menambahkan bahwa beberapa “sekolah swasta” telah mengamankan sertifikat untuk menghindari penerimaan siswa miskin di sekolah-sekolah mereka.

Komisi itu merekomendasikan “penyelidikan rinci terkait sertifikat hak minoritas yang dikeluarkan untuk sekolah dalam tiga tahun terakhir dan itu tidak ada hubungannya dengan sekolah-sekolah yang dikelola Gereja,” tambahnya.

Namun, Pastor Stephen mengatakan ia tetap yakin dengan penjelasan Ahmed.

Para pemimpin Kristen “tidak percaya” sebelum membuat semacam “rekomendasi untuk penyelidikan,” kata Pastor Stephen.

Mereka juga tidak menjelaskan dimana masyarakat telah melanggar pedoman, yang katanya, “memberikan gambaran buruk” dari semua agama minoritas.

Selain Kristen dan Muslim, Sikh, Buddha, Zoroaster dan Jain juga diakui sebagai komunitas minoritas di India yang dapat membangun dan mengelola lembaga pendidikan mereka sendiri.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pastor China Dipenjara Kasus Pencurian, Umat Mengatakan Dia Dijebak
  2. Diduga Karena Tekanan, Pemerintah Menutup Sebuah Misi Katolik di India
  3. Gempa Meksiko Menewaskan 11 Orang Saat Acara Pembaptisan
  4. Renungan Hari Minggu XXV Tahun A – 24 Sept 2017
  5. Partai Khunto Mundur, Timor-Leste Dipimpin Koalisi Minoritas
  6. Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini
  7. Paus Ingatkan Uskup Jepang agar Tidak Melupakan Martir
  8. Tidak Diperhatikan, Milisi Ancam Tutup Perbatasan RI-Timor Leste
  9. Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China
  10. Pastor Salesian Ini Mengisahkan Penangkapan dan Pembebasannya
  1. Terima kasih atas masukannya Romo. Salam hangat...
    Said cnindonewsletter on 2017-09-18 16:37:16
  2. Koreksi: Sejak Oktober 2016, Superior Generale CDD bukan lagi R.P. Jhon Cia, ...
    Said Yustinus CDD on 2017-09-18 11:19:22
  3. Suster, perkenalkan saya Dame. Saya berumur 25 tahun dan saya sudah baptis katol...
    Said Parningotanna Dameria Siahaan on 2017-09-15 14:17:52
  4. kalau ada pohon yang tumbang sebab angin kencang, maka jangan salahkan angin yan...
    Said mursyid hasan on 2017-09-13 00:02:54
  5. Salam Kenal Sahabat seiman, Nama sy Antonius, tinggal di Jakarta Indonesia. Sy...
    Said Antonius on 2017-09-10 21:25:14
  6. Selamat siang Romo Indra Sanjaya. Di Wahyu 13:1 kitab deuterokanonik ada salah t...
    Said agus eko on 2017-09-10 14:04:11
  7. Infonya sangat bermanfaat. Semoga umat Katolik makin mencintai kitab suci.......
    Said Deo Reiki on 2017-09-07 08:31:09
  8. Selamat siang, Jika boleh saya meminta nomer telp ibu Angelic Dolly Pudjowati...
    Said Cornellia on 2017-09-04 15:26:00
  9. sejarah masa lalu, yang masih belum jelas keputusan dari Pemerintah, dan belum j...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:16:52
  10. religius sendiri sangat erat kaitannya kepada seluruh kegiatan umat termasuk lin...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:04:35
UCAN India Books Online