Berkat bantuan Gereja Katolik, perempuan bisa bangun kembali rumah mereka akibat gempa

26/04/2016

Berkat bantuan Gereja Katolik, perempuan bisa bangun kembali rumah mereka akibat gempa thumbnail

Tiga perempuan sedang menyusun batu bata yang akan digunakan untuk membangun rumah tahan gempa.

 

Mira Devi Bhatt adalah salah satu dari 27 tukang perempuan yang telah dilatih teknik pembangunan tahan gempa oleh Karitas, sebuah lembaga batuan Gereja Katolik Nepal.

“Sekarang aku tahu pentingnya membangun sebuah rumah yang lebih aman,” kata Bhatt, 33, dari sebuah desa kecil yang sangat terpengaruh oleh gempa 7,8 SR yang melanda Nepal, 25 April 2015.

Gempa dan gempa susulan menewaskan hampir 9.000 orang di negara Himalaya itu. Setahun kemudian, lebih dari 4 juta orang masih tinggal di tempat-tempat penampungan sementara dan lebih dari 700.000 rumah perlu dibangun kembali.

Sejak November tahun lalu, Karitas Nepal telah memberikan pelatihan pembangunan dalam tujuh bagian. Di antara mereka yang dilatih, 30 adalah perempuan.

“Peran perempuan akan sangat penting dalam membangun kembali negara itu karena mereka adalah orang-orang yang sangat terpengaruh selama bencana gempa dan kebutuhan untuk membangun kembali yang lebih baik,” kata Pastor Silas Bogati, direktur eksekutif Karitas Nepal.

Seiring dengan kegiatan di Gorkha, Karitas Nepal telah memfokuskan kegiatan bantuan di sejumlah distrik – Sindupalchok, Kavre, Dolakha dan Sindhuli.

Karitas berencana menyediakan dana untuk membangun 4.400 rumah di distrik yang terkena dampak gempa, dan bernegosiasi dengan Otoritas Rekonstruksi Nasional, kata Pastor Bogati.

“Partisipasi perempuan dalam memanfaatkan dana bantuan dengan cara yang tepat sangat penting,” katanya. “Kami cenderung berpikir bahwa pria akan menghambur-hamburkan uang.”

Pastor Bogati menjelaskan bahwa pemerintah sekarang telah memutuskan untuk memberikan bantuan rekonstruksi secara bertahap dan mereka menyarankan untuk bermitra dengan LSM.

Dana tersebut akan berguna dan memastikan bahwa dana itu dihabiskan dengan bijaksana,” tambahnya.

Pemerintah Nepal sendiri telah mulai mendistribusikan angsuran pertama 50.000 rupee (500 dolar AS) dari jumlah yang dijanjikan 200.000 rupee untuk rumah tangga yang terkena dampak. Sekitar 700 dari total 770.000 rumah tangga telah menerima dana angsuran pertama sejauh ini.

0426d

Kanchi Maya Tamang berdiri di depan sebuah rumah tahan gempa yang hampir selesai dibangun. 

 

Pelatihan yang berguna

Saat ini ada juga kekurangan pekerja di Nepal karena sebagian besar bermigrasi untuk mencari pekerjaan luar negeri dan berbagai organisasi membantu Nepal dengan teknik pembangunan tahan gempa.

Lebih dari 34.000 orang diperkirakan akan dilatih dalam teknik pembangunan tahan gempa, menurut sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di bawah bimbingan pemerintah Nepal.

Sejauh ini lebih dari 3.000 orang telah menerima pelatihan, termasuk 119 perempuan. Salah satunya adalah Kanchi Maya Tamang, 30.

Beberapa hari sebelum ulang tahun pertama gempa, Tamang hampir menyelesaikan rumahnya dengan bangunan tahan gempa dania turut membangun di sebuah desa di Distrik Kathmandu.

“Rumah ini akan selesai pekan depan,” kata Tamang mengacu pada rumah empat kamar yang sedang dibangun.

Tamang meningkatkan keterampilan untuk pembangunan dengan mengikuti pelatihan lima hari tentang konstruksi  aman, yang disediakan oleh PBB.

“Saya telah bekerja di bidang konstruksi selama lebih dari tiga tahun, dimulai sebagai buruh,  saat ini saya sedang dilatih untuk membangun rumah tahan gempa,” kata Tamang, yang telah membantu membangun 10 rumah di Lembah Kathmandu.

Gempa yang merusak rumah Tamang di distrik Nuwakot, bersama dengan lebih dari 90 persen dari rumah-rumah lainnya di desanya.

“Saya bekerja di bidang situs konstruksi di Kathmandu ketika gempa terjadi,” katanya.

“Saya mengunjungi desa saya segera setelah itu, rumah saya hancur, tetapi anggota keluarga saya selamat dari bencana,” katanya.

Sejak itu, enam anggota keluarganya telah tinggal di tempat penampungan sementara dan menunggu untuk membangun kembali rumah mereka melalui bantuan rekonstruksi pemerintah.

“Semua orang di desa kami sedang menunggu bantuan pemerintah untuk membangun rumah baru,” katanya.

“Kami berharap memulai pembangunan rumah kami segera dan kali ini saya akan memastikan rumah itu tetap berdiri kokoh ketika gempa melanda lagi.”

0426e

Para wanita Newari ini membuat batu bata, yang akan digunakan untuk membangun rumah tahan gempa di desa mereka. 

 

Butuh 400.000 batu bata

Di desa kecil Sanogaun, terletak di pinggiran Kathmandu, sekelompok perempuan dari kelompok bantuan Newari memimpin upaya-upaya pembangunan kembali dengan membuat batu bata dengan dua kali lebih kuat.

Desa mereka sekitar 55 rumah benar-benar rata akibat gempa.

“Ayah mertua saya tewas setelah ia terkubur di bawah puing-puing rumah kami,” kata Laxmi Shrestha, 38, yang keluarganya masih tinggal di tenda.

Shrestha dan perempuan desa lainnya dilatih tentang cara untuk membuat batu bata oleh Lutheran World Federation dan Gerakan Akar Rumput di Nepal, sebuah LSM berbasis di Amerika Serikat.

Sejak Desember mereka sudah membuat lebih dari 80.000 batu bata dan mereka akan membuat 400.000 batu bata lagi untuk membantu membangun kembali rumah yang hancur di desa mereka.

Semakin banyak wanita yang bisa belajar bagaimana membangun rumah aman dan lebih baik, kata Amod Mani Dixit, direktur eksekutif Teknologi Tahan Gempa Masyarakat Nepal, sebuah LSM yang menyediakan keahlian teknis dalam mempersiapkan rumah tahan gempa.

“Dari pengalaman kami telah menemukan bahwa perempuan adalah stakeholder yang paling penting dalam proses pembangunan kembali seluruh rumah ini,” katanya.

Sumber: ucanews.com




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  2. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  3. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  4. Gereja dibakar, darurat militer diumumkan di Mindanao
  5. Calon imam SVD mengajar di Pondok Pesantren
  6. Uskup Filipina menyamar jadi petani untuk melihat kegiatan paroki
  7. Umat Katolik Pakistan marah atas pembatasan media sosial
  8. Banyak tantangan menanti Presiden Timor-Leste yang baru
  9. Paus ingatkan bahaya kata-kata kotor dan saling menjelekkan
  10. Penyandang disabilitas meminta Jokowi membentuk komisi khusus
  1. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  2. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  3. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  4. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  5. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  6. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  7. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
  8. Ingat kita di Indonesia. Semua mayoritas dan minoritas. Ketika ada pihak mengkla...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:43:38
  9. Pro Ecclecia et patria! Demi bangsa kita juga harus tegas menghadapi kekuatan ra...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:35:34
  10. Mohon diperjuangkan agar bimas katolik dapat mengangkat kembali guru agama Katol...
    Said Rudi M on 2017-05-13 22:00:07
UCAN India Books Online