UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja harus beri perhatian pada masalah pengungsi

April 29, 2016

Gereja harus beri perhatian pada masalah pengungsi

 

Buruknya kondisi ribuan pengungsi di Indonesia, mesti menjadi salah satu fokus perhatian Gereja Katolik, demikian kata aktivis dari Jesuit Refugee Service (JRS) dalam diskusi di Jakarta, belum lama ini.

Dionisius Waskita Cahya Gumilang, staf informasi dan advokasi JRS mengatakan, saat ini ada sekitar 13.700 pengungsi yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia, antara lain Aceh, Medan, Pekan Baru, Tanjung Pinang, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Balikpapan, Makassar, Kupang, Manado dan berbagai tempat lainnya.

Para pengungsi itu, jelasnya, datang dari Afganistan, Myanmar, Somalia, Palestina, Pakistan, Iran, Sri Lanka, Iraq, Palestina, dan Suriah, dengan komposisi terbesar ialah pengungsi yang berasal dari Afganistan yang mencapai 7.000 orang.

Indonesia, kata Gumilang, karena belum meratifikasi Konvensi PBB tahun 1951 dan protokol 1967 tentang Status Pengungsi, tidak terikat kewajiban melindungi pengungsi.

“Karenanya tidak ada anggaran dari pemerintah untuk para pengungsi/pencari suaka. Fungsi imigrasi dalam hal ini hanya sampai pada pengawasan” jelasnya dalam diskusi bertajuk “Gereja dan Pengungsi”, yang digelar di kantor JPIC-OFM Indonesia.

Kondisi para pengungsi di rumah detensi imigrasi, kata dia, sangat memprihatinkan, di mana mereka kehilangan kebebasan, diperlakukan layaknya para kriminal.

“Hidup mereka pun serba kekurangan. Akses terhadap pelayanan kesehatan sangat sulit. Ketika sakit parah, mereka tidak tahu harus kemana,” katanya.

Hal ini, kata dia, mesti menjadi perhatian Gereja, apalagi Paus Fransiskus dalam sejumlah kesempatan selalu menekankan pentingnya perhatian untuk pengungsi.

JRS, kata dia, mengupayakan kerja sama dengan pihak kepolisian dan imigrasi khususnya untuk mendapat akses kesehatan yang lebih baik, setidaknya keadaan itu dialami saat ini oleh para pengungsi di penampungan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

“Ketika sakit, mereka mendapat pelayanan medis di rumah sakit terdekat,” katanya.

Namun, menyinggung pesan Paus, Dion menegaskan, hospitalitas saja tidak cukup.

“Tidaklah cukup memberi roti jika tidak disertai upaya untuk membangun kemandirian. Kemurahan hati yang tidak mengubah situasi orang miskin tidaklah cukup. Belas kasih yang sejati yang diberikan Allah dan diajarkan-Nya kepada kita, memanggil kita untuk memperjuangkan keadilan sehingga orang miskin menemukan jalan keluar dari kemiskinan,” katanya.

JRS, kata dia, menemukan jalan keluar itu. “Kami mendengar, melayani, dan mengadvokasi hak-hak mereka sebagai manusia agar terpenuhi dengan baik,” katanya.

“Para pengungsi memiliki hak untuk hidup, berekreasi, dan diperlakukan sebagai manusia. Kami hadir sebagai teman untuk para pengungsi dalam permainan rekereatif, pelajaran bahasa Inggris, melatih keterampilan menjahit dan kerajinan tangan, dan sebagainya,” katanya.

“JRS juga memiliki layanan hukum (legal service) untuk membantu para pengungsu menyiapkan dokumen yang perlu untuk proses wawancara.”

Mereka berupaya memastikan bahwa pengungsi berada di bawah perlindungan UNHCR.

Mengingat mereka harus mereka menunggu panggilan untuk wawancara dengan rentang waktu 18-24 bulan karena mekanisme yang ketat untuk memastikan apakah seseorang benar-benar pengungsi atau tidak, maka berada di pengungsan adalah waktu yang menjenuhkan.

“Ada rentang waktu lima atau enam tahun menunggu untuk mendapat suaka dan setelahnya dikirim ke negara ketiga. Hal ini sangat tergantung pada duta-duta besar yang memperlancar proses ke negara tujuan,” katanya.

Ia menambahkan, “rentang waktu yang sangat lama ini juga disebabkan oleh sedikitnya jumlah petugas di UNHCR dan besarnya jumlah pencari suaka yang harus dilayani. Ada 13.700 pengungsi, tetapi yang melayani mereka hanya 50 orang.

Sejumlah kegiatan lain dilakukan JRS untuk hadir sebagai teman bagi para pengungsi.

“Kami mengadakan pelajaran bahasa Inggris bersama pengungsi. Para pengungsi juga diberi keterampilan menjahit. Di saat tertentu JRS mengadakan kegiatan rekreasi, mengadakan lomba catur, main futsal, dan sebagainya untuk mengurangi tingkat stress para pengungsi,” katanya.

Tinggal di rumah detensi dalam waktu lama, tanpa kepastian akan diberangkatkan ke ‘negara ketiga’, kata dia, adalah saat yang sangat menjenuhkan.

“Kami ingin mengaktifkan peran Gereja untuk melihat isu ini secara lebih matang lagi. Di setiap tempat JRS selalu melapor dan berkoordinasi dengan keuskupan setempat terkait kegiatannya,” katanya.

“Sejauh ini juga ada kelompok-kelompok umat Katolik, antara lain di Surabaya, yang bekerja sama dengan kami dalam melayani para pengungsi,” kata Dion.

Ryan Dagur, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi