UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemimpin lintas agama berjanji memerangi ekstremisme demi kerukunan

Mei 2, 2016

Pemimpin lintas agama berjanji memerangi ekstremisme demi kerukunan

Para pemimpin Kristen, Muslim, Hindu dan Buddha di Banglades menghadiri pertemuan kerukunan di Dhaka, 28 April.

 

Para pemimpin empat agama besar telah berjanji untuk bersatu dan mempromosikan kerukunan beragama sebagai bagian dari upaya memerangi ekstremisme agama dan militansi yang meningkat di Banglades.

Janji tersebut dilakukan pada konferensi lintas agama yang diselenggarakan oleh polisi Banglades di Dhaka, 28 April.

Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 1.500 orang, sebagian besar para pemimpin dari komunitas Muslim, Hindu, Kristen dan Buddha.

Acara itu diadakan menyusul serangkaian serangan brutal terhadap para aktivis liberal dan progresif, termasuk blogger sekuler, penerbit, pendidik, dan sejumlah tokoh agama, yang diduga dilakukan oleh militan Islam.

Kelompok-kelompok teror internasional seperti ISIS dan al-Qaeda telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, namun pemerintah menegaskan serangan itu adalah militan lokal yang diduga terkait dengan partai-partai Islam oposisi.

Menteri Dalam Negeri Asaduzzaman Khan mengatakan ada “konspirasi menghancurkan kerukunan beragama” di Banglades.

“Ada sejumlah kelompok militan lokal yang adalah bagian dari konspirasi menghancurkan tradisi panjang perdamaian dan kerukunan beragama di Banglades,” kata Khan.

Para pemimpin berbagai komunitas agama dapat berperan penting dalam menyatukan orang-orang melawan fundamentalisme, tambahnya.

Uskup Agung Dakha, Mgr Patrick D’Rozario OSC mengatakan dialog antaragama dan upaya memperkuat kerukunan sangat penting dalam memerangi ekstremisme agama.

“Kami telah melewati tantangan dan kami ingin mengatasi tantangan ini,” katanya.

“Kita telah mewarisi tradisi toleransi dan harmoni selama seribu tahun, jadi kita tidak membiarkan beberapa kejadian terjadi lagi,” kata Uskup Agung D’Rozario.

Ulama Islam terkemuka, Maolana Fariduddin Masoud mengatakan Islam tidak mendukung kekerasan dan para pemimpin Islam Banglades mengecam kekerasan atas nama agama.

“Pengadilan menghukum orang jika mereka melakukan pelanggaran apapun, tetapi beberapa orang sesat menggunakan kekerasan atas nama Islam. Cara ini bukan Islam,” kata Masoud, kepala Jamiatul Ulama, sebuah kelompok Islam liberal.

Kelompok Masoud melaksanakan kampanye dengan mengumpulkan tandatangan dari 100.000 ulama Islam untuk mengeluarkan sebuah fatwa anti-militansi.

“Sejauh ini kami telah mengumpulkan 76.000 tandatangan dari para ulama dan sisanya akan dikumpulkan segera,” katanya.

“Setiap agama menyerukan cinta, kasih sayang dan martabat manusia, dan rasa kemanusiaan ini perlu disebarkan di seluruh negeri ini dan membangun masyarakat yang damai,” tambahnya.

Kebangkitan fundamentalisme menunjukkan beberapa titik lemah, yang harus diperbaiki, demikian Swami Dhruveshananda, seorang pendeta Hindu.

Shuddhananda Mohathero, ketua Kristi Prachar Sangha Buddha berbasis di Dhaka, juga sepakat.

“Bila kita benar-benar mencintai negara dan agama, kita  tidak bisa menggunakan cara-cara kekerasan. Sebagai pemimpin agama kita harus melakukan upaya yang kuat untuk mendidik umat kita untuk perdamaian dan keharmonisan,” kata biksu Buddha itu.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi