Impian anak-anak hilang demi menghidupi keluarga

10/05/2016

Impian anak-anak hilang demi menghidupi keluarga thumbnail

Suster Jaya Peter membimbing anak-anak untuk belajar.

 

Dharmendra Ahrawat bercita-cita menjadi dokter. Tapi, bagi pekerja anak, cita-cita ini akan tampak mustahil diraih.

Anak laki-laki berusia 13 tahun itu, yang kehilangan ayahnya tiga tahun lalu, tampaknya tidak memiliki pilihan lain selain pergi bekerja dan mendapatkan uang.

“Ibu saya adalah buruh harian dan seorang saudara perempuan adalah pekerja rumah tangga, tetapi itu tidak cukup sehingga saya harus mulai bekerja,” kata Ahrawat, yang mencuci mobil setiap pagi, kepada ucanews.com.

Dia mendapatkan 900 rupee (13 dolar AS) per bulan untuk menghidupi keluarganya, tapi “Aku ingin berhenti bekerja dan melakukan sesuatu yang lebih baik.”

Nasip serupa juga dialami Saniya berusia 11 tahun, yang bersama ibunya membuat tas kertas dan berjalan dari toko ke toko untuk menjualnya.

Sebagai anak sulung dari lima saudara, Saniya mengatakan dia tidak punya pilihan selain membantu ibunya mendapatkan makanan yang layak sekali sehari.

Ahrawat dan Saniya termasuk ratusan anak di daerah kumuh, distrik Ghaziabad, Negara Bagian Uttar Pradesh, bekerja sebagai pekerja anak.

Anak-anak melakukan berbagai bentuk pekerjaan seperti membuat gelang, tas kertas, pekerjaan rumah tangga, memperbaiki sepeda, menjahit atau menjual sayur-mayur.

Sekarang mereka memiliki Suster Jaya Peter, yang telah bekerja untuk kesejahteraan mereka sejak 2011.

Suster Peter dari Kongregasi Suster-suster Maria Bunda Karmel mengatakan misinya mendidik anak-anak ini dan memberikan beberapa arahan untuk kehidupan mereka.

“Enam sekolah informal yang telah berjalan di berbagai kawasan kumuh sejak tahun 1999, namun mereka tidak memperoleh hasil positif,” katanya.

Suster itu mengatakan ia ingin membawa anak-anak ini di bawah satu atap.

“Saya meminta superior saya jika saya bisa menggunakan ruang kelas di Sekolah St. Theresa yang dikelola kongregasinya di dekatnya Sarvodaya Nagar, di malam hari.”

Kongregasinya mendukung dia, tetapi bagian yang sulit adalah meyakinkan orangtua dari anak-anak yang berpikir itu di luar kemampuan mereka mengirim anak-anak mereka ke sebuah sekolah yang baik dengan semua fasilitas.

“Saya berbicara dengan orangtua di daerah kumuh selama sekitar empat bulan dan mengatakan kepada mereka bahwa semuanya gratis,” kata suster itu, seraya menambahkan bahwa kelas dimulai setelah jam sekolah reguler berakhir.

Sekolah itu dimulai dengan 155 anak, kini memiliki 478 murid dengan 10 guru. Dari jumlah tersebut sekitar 30 persen adalah pekerja anak.

“Kami memiliki 1-10 kelas di mana ulangan rutin, laporan kemajuan dan pertemuan orangtua-guru,” kata Suster Peter, seraya menambahkan bahwa sistem ini telah memiliki dampak yang sangat positif.

Suster itu mengatakan dia tidak bisa melarang anak-anak ini bekerja.

“Tak seorang pun ingin melakukan pekerjaan seperti pada usia muda, tapi itu adalah keadaan yang membuat mereka melakukannya,” katanya.

“Tujuan saya adalah memberikan anak-anak ini pendidikan dasar. … Saya bahkan membantu beberapa anak mengikuti kursus keperawatan setelah pendidikan dasar mereka selesai dan mereka mendapatkan uang yang layak sekarang,” katanya.

Suster Peter mengatakan anak-anak diberikan makanan sebelum mereka menghadiri kelas.

Selain pendidikan, Suster Peter juga memberikan pelatihan kejuruan untuk pemuda di daerah kumuh.

“Kami memiliki tiga kamar di sekolah yang disediakan untuk kegiatan tersebut. Ada 30 orang mengikuti kursus menjahit dan kecantikan,” tambahnya.

0510b

Anak-anak dari kawasan kumuh belajar di kelas. 

 

Lembaga Gereja bekerja untuk memerangi pekerja anak

Kantor Tenaga Kerja dari Konferensi Waligereja India bekerja sama dengan BREAD, sebuah organisasi Katolik yang bekerja untuk kesejahteraan anak, telah menganalisa UU tentang perlindungan anak.

“UU tentang pekerja anak tidak dilaksanakan dengan baik,” Pastor Jaison Vadassery, sekretaris kantor tenaga kerja, kepada ucanews.com.

Imam itu mengatakan akar penyebabnya adalah ¬†kemiskinan. Ini harus dihilangkan jika “kita tidak ingin pekerja anak di negeri ini.”

Dia mengatakan 94 persen dari penduduk India bekerja di sektor yang tidak terorganisir yakni anak-anak seperti pemulung, pekerjaan rumah tangga atau mengemis.

Pastor Vadassery mengatakan bahwa mereka akan menyebarkan kesadaran dalam masyarakat tentang masalah dan cara untuk mengatasi.

“Kami juga berusaha memesan ruang di lembaga-lembaga Katolik di seluruh negeri ini untuk anak-anak ini untuk memberi mereka kesempatan masa depan yang lebih baik,” tambahnya.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online