UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Warga miskin berharap kehidupan lebih baik di bawah presiden baru

Mei 12, 2016

Warga miskin berharap kehidupan lebih baik di bawah presiden baru

Sekelompok warga miskin kota di Manila mendesak Presiden terpilih Rodrigo Duterte untuk menghentikan penggusuran rumah-rumah mereka.

 

Pada pemilu 9 Mei, Agnes Santos, yang menunggu berjam-jam di bawah terik matahari selama pemilu nasional Filipina, hanya bisa menghela nafas lega.

“Saya hanya berharap bahwa presiden berikutnya dapat memberikan anak saya masa depan yang lebih baik,” kata ibu berusia 27 tahun itu sambil menggedong anaknya berusia 7 bulan saat ia antri untuk memilih.

Kehamilan Santos tidak direncanakan. “Saya tidak siap. Saya menyesal bahwa hal itu terjadi ketika aku tidak siap secara finansial dan emosional,” jelasnya.

Pacarnya enam tahun menganggur. Seperti ribuan orang Filipina lainnya menganggur, Santos dan pacarnya harus mengatasi masa-masa sulit ini.

Meskipun klaim pemerintah pertumbuhan ekonomi pesat selama beberapa tahun terakhir, pengangguran tetap menjadi masalah yang terus-menerus untuk 100 juta orang Filipina.

Negara Katolik terbesar di Asia itu masih memiliki salah satu pengangguran tertinggi di kawasan ASEAN.

Setiap tahun, 700.000 lulusan perguruan tinggi, termasuk Santos, menambah jumlah pengangguran di negara itu.

Tahun 2015, tingkat pengangguran 6,5 persen, sedangkan tingkat pengangguran terselubung di negara itu 17,8 persen.

Coba bertahan

Tanpa sumber penghasilan, Santos dan anaknya bertahan hidup dengan bantuan bisnis orangtuanya. Toko kecil keluarganya dan pendapatan ayahnya sebagai pekerja kontrak di luar negeri menyediakan makanan.

“Menunggu hingga suami saya dan saya mendapatkan pekerjaan tetap, saya akan hidup di bawah atap orangtua saya,” kata Santos.

Dengan masa ketidakpastian, Santos berharap bahwa ia akan dapat bekerja setelah bayinya tidak perlu ASI. Santos mengatakan dia tidak bisa hanya menunggu.

Ibu muda itu berencana bekerja di sebuah kasino online di mana sepupunya saat ini bekerja. Sepupu menghasilkan 341 dolar AS per bulan, jauh lebih tinggi dari 250 dolar AS saat Santos bekerja sebagai kasir di toko.

“Pada titik ini, saya akan ambil setiap kesempatan yang datang dengan cara saya,” katanya. “Saya sudah kehilangan harapan. Saya sekarang fokus pada bayi saya agar tetap sehat.”

Meskipun enam tahun pertumbuhan ekonomi stabil, satu dari empat orang Filipina masih hidup dengan kurang dari 1,30 dolar AS per hari.

Sebuah keluarga Filipina membutuhkan setidaknya 195 dolar AS per bulan untuk makan, menurut statistik pemerintah.

Statistik yang sama menunjukkan bahwa ketika Presiden Benigno Aquino meninggalkan kantor 30 Juni sekitar 26 persen dari penduduk negara itu akan tetap miskin.

0512c

Presiden terpilih Filipina, Rodrigo Duterte, berpidato di depan kerumunan massa di Manila. 

 

Harapan untuk orang miskin

Dengan terpilihnya Duterte, orang-orang seperti Santos berharap bahwa mereka bisa bangkit dari kemiskinan.

Komunitas bisnis di negara itu berjanji mendukung presiden baru.

“Kami menyambut baik mandat yang diberikan pemimpin baru oleh rakyat kami … dan kami siap ¬†menjadi mitra aktif dan partisipatif dari pemerintah dalam menjamin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif yang bermanfaat tidak hanya beberapa orang, tapi semua warga Filipina,” demikian pernyataan Makati Business Club.

Mengubah sistem

Namun, sekelompok penghuni kawasan kumuh menantang presiden terpilih untuk menepati janjinya.

Kalipunan ng Damayang Mahihirap atau Kadamay, aliansi nasional kelompok miskin kota, telah menyatakan kekecewaan atas apa yang mereka gambarkan sebagai “kurangnya wacana pada nasib jutaan pemukim informal.”

“Kekecewaan kami hanya diimbangi oleh permintaan kami untuk isu-isu pembangunan warga miskin kota,” kata Gloria Arellano, ketua Kadamay.

Dia mengatakan rakyat miskin kota merindukan untuk pekerjaan, upah, perumahan.

Sementara Kadamay tidak berharap bahwa Duterte akan memenuhi janjinya, Arellano menyatakan bahwa “rakyat sendiri harus membuat perubahan.”

“Ada kemungkinan bahwa Duterte dapat membuktikan dirinya. Tapi, revolusi berada pada warga sipil, bukan presiden, mengubah sistem,” kata Arellano.

Bagi Santos, berbicara tentang “perubahan akan datang”, slogan kampanye Duterte, ini tidak berarti apa-apa.

“Saya hanya berharap pada presiden baru tidak melupakan orang-orang yang memilih dia, terutama orang miskin,” katanya.

Baca selengkapnya: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi