Pertanian organik menyelamatkan warga desa

23/05/2016

Pertanian organik menyelamatkan warga desa thumbnail

Bruder Yohanes Kedang menunjukan wortel, hasil panen warga Mandobo, Papua.

 

Selama beberapa dekade kehidupan keluarga Blandina Ukurop – dan warga lain dari suku Mandobo di desa Kemangi, Kabupaten Merauke, bergantung pada berburu binatang liar, penangkapan ikan, dan menanam singkong.

Namun, karena jumlah populasi meningkat dan lahan hutan yang dikonversi menjadi perkebunan, cara hidup tradisional mereka terancam punah.

Kebanyakan orang Katolik Mandobo secara historis hidup sebagai pengembara, tetapi kehilangan tanah mereka memaksa banyak mengakhiri cara tersebut, termasuk penduduk Kemangi. Sebagian besar penduduk desa tidak bersekolah.

“Suami saya menghabiskan sebagian waktu berburu dan memancing, tapi mereka tidak membawa banyak hasil apa-apa,” kata Ukurop. Dari kegiatan tersebut, keluarganya memperoleh sekitar 50 ribu rupiah  seminggu, uang ini tidak cukup memberi makan seluruh keluarga.

“Bahkan uang itu tidak cukup untuk membeli beras,” kata Ukurop.

Harga komoditas cenderung jauh lebih tinggi di Papua dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Ini telah membuat kelompok adat seperti Mandobo rentan terhadap kemiskinan dan kekurangan gizi perkebunan perusahaan melanggar batas tanah mereka dan menghilangkan cara hidup tradisional mereka.

“Jujur kami tidak memiliki pendidikan, tidak bersekolah, dan tidak ada pengetahuan sama sekali,” kata Aleksia Nginggon, 53.

Selama bertahun-tahun anggota suku itu berharap bahwa seseorang bisa datang dan membantu memperbaiki kehidupan mereka.

Kesempatan itu muncul hampir tiga tahun lalu ketika Bruder Yohanes Kedang mengunjungi desa mereka dan mengajar mereka teknik pertanian organik modern.

0523b

Penduduk desa Kemangi menanam padi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketimbang berburu. 

 

Ibu-ibu dari Papua

“Setelah bertemu dengan mereka selama berjam-jam, saya menemukan bahwa mereka tidak punya makanan,” kenang Bruder Kedang pada pertemuan pertama mereka.

“Mereka belum makan apa-apa karena mereka tidak punya uang untuk membeli beras.”

“Ini mendorong saya segera melakukan sesuatu,” katanya.

Dalam beberapa minggu, dia mengumpulkan puluhan perempuan dan membentuk kelompok, “Ibu-ibu dari Papua.”

Dia mengajar mereka cara membuat pupuk organik dan pestisida, dan bagaimana menggunakan pekarangan kecil mereka untuk menanam sayur-mayur.

Sebagai bagian dari proyek percontohan, kelompok itu berhasil memperoleh dua hektar lahan milik masyarakat lokal, setengah untuk menanam sayur-mayur dan setengah untuk menanam padi.

Awal tahun lalu kelompok itu menanam wortel, kacang hijau, terong, kangkung, bayam, kacang-kacangan, tomat, jagung dan mentimun.

Pada Oktober 2015, mereka membuka sawah.

“Mereka sangat senang dengan hasil sayur-mayur dan padi mereka,” ujar Bruder Kedang.

Mereka bergantian menanam beberapa tanaman sayur-mayur, menjual hasil tersebut ke pasar di kota Merauke, dengan jauh sekitar 30 kilometer.

Setengah dari keuntungan dibagi kepada keluarga-keluarga desa itu, sementara setengah disimpan untuk kelompok, yang menamakan St. Fransiskus Assisi.

“Kelompok ini telah perlahan-lahan mengubah pendapatan keluarga saya,” kata Ukurop, yang kini menghasilkan sekitar 200 ribu rupiah seminggu.

“Ini lebih dari cukup bagi saya dan keluarga saya,” katanya.

Ukurop juga menerima 20 kilogram beras dari panen pertama kelompok itu.

“Sekarang kami tidak khawatir dengan beras,” katanya, seraya menambahkan bahwa uang tunai biasanya dialokasikan untuk membeli beras yang disimpan untuk kebutuhan lain, termasuk pendidikan anak-anak.

Ndinggo mengatakan kelompok baru itu menggunakan sebagian keuntungannya untuk membeli babi, sapi, kambing bagi perekonomian desa itu karena kotoran mereka dapat dijadikan pupuk organik dan bila dewasa dapat memperoleh uang sekitar 3 juta rupiah di pasar Papua.

0523c

Perempuan desa Kemangi memanen sayur-mayur untuk dijual di pasar lokal. 

 

Kurangnya alat-alat pertanian

Bruder Kedang mengatakan kelompok itu saat ini memiliki sekitar lima hektar lahan, yang mereka mengelola dengan alat-alat pertanian sederhana.

Dia mengatakan proyek ini telah berkembang pesat sehingga kelompok ibu-ibu merekrut orang muda setempat untuk membantu.

“Kendala utama kami sekarang adalah kekurangan peralatan dan sistem pertanian irigasi,” katanya.

Pihaknya berharap “pemerintah daerah harus segera bertindak membantu,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Komunitas awam Katolik Indonesia bantu warga Muslim merayakan Idul Fitri
  2. Keuskupan Agung Semarang mengucapkan Selamat Idul Fitri
  3. Kampanye mendukung blogger Katolik di Vietnam diluncurkan
  4. Paus memberkati fundasi bangunan sebuah tarekat di Korea
  5. Vatikan diam saat Dubes Jerman mendukung uskup China
  6. Renungan Hari Minggu XII Tahun A -25 Juni 2017
  7. Gereja Katolik mendukung pemisahan wilayah bagi etnis Gorkha di India
  8. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  9. Menciptakan peradaban kasih di Keuskupan Agung Semarang
  10. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online