Tokoh Dayak raih penghargaan PBB mengaku dapat ancaman

28/06/2016

Tokoh Dayak raih penghargaan PBB mengaku dapat ancaman thumbnail

Tampak tokoh adat warga Muara Tae yaitu Masrani (kedua dari kanan) dan Petrus Asuy (tengah) serta Sekjen AMAN, Abdon Nababan (kedua dari kiri).

 

Tokoh Dayak Benuaq, peraih “Equator Prize” dari Badan Program Pembangunan PBB (The United Nations Development Program’s/UNDP) Petrus Asuy mendapat ancaman atas upaya perlindungan wilayah adatnya dari ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

“Ancamannya dilakukan tidak secara terbuka, pada Sabtu dini hari (25/6/2016), setelah Jumat (24/6/2016), saya tidak datang undangan mediasi dari Polsek. Saya dengar banyak suara langkah kaki di dekat pintu dapur,” kata Asuy saat dihubungi Antara dari Jakarta, Senin (27/6/2016).

Hingga saat ini, ia mengatakan tidak tahu identitas orang-orang yang mencoba memasuki rumahnya tersebut.

“Tapi saya sempat melihat satu orang membawa kayu berlari setelah anjing saya menggonggong dan saya berteriak”.

Sejak kejadian tersebut, ia mengaku tidak tenang dan merasa terancam.

“Ada sekitar enam petugas dari Polres datang Minggu sore (26/6/2016). Mereka menanyakan soal ancaman, sama sekali tidak bertanya soal lahan”.

Asuy mengatakan merasa heran dengan undangan mediasi terkait dengan persoalan lahan adat yang justru datang dari Polsek, bukan dari kecamatan.

Karena itu, untuk menghormati proses Inkuiri Komnas HAM terkait dengan persoalan wilayah adat Muara Tae maka dirinya memutuskan tidak menghadiri undangan mediasi tersebut.

Persoalan lahan di wilayah adat masyarakat Dayak Benuaq di Desa Muara Tae, Kutai Barat, menurut dia, memicu kekerasan. Persoalan tersebut muncul setelah perusahaan perkebunan kelapa sawit dan tambang hadir di sana.

Sebelum kejadian ini bergulir atas nama Masyarakat Adat Muara Tae, Asuy mengatakan telah mengadukan pemerintah Kampung Muara Tae ke Menteri Desa yang salah satu isinya adalah penggelapan lahan masyarakat yang terjadi pada 11 November 2015 saat Kepala Kampung Muara Tae membuat berita acara verifikasi atas Pengelolaan Lahan Tanah Nomor 140/BAV/KPMT_KJ/11/2015.

“Kami sudah serahkan ribuan hektar lahan adat kami, apa salah kami pertahankan 4.000 hektar yang tersisa. Dengan yang tersisa ini saja sudah sulit berkebun, sudah saling ribut untuk berkebun,” ujar dia.

Hal yang paling ditakutkan Asuy jika persoalan lahan adat di Muara Tae tidak juga selesai adalah tindakan main hakim di luar jalur hukum.

Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan mengatakan, Komnas HAM sudah menyampaikan laporan dengan rekomendasi Inkuiri Nasional kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Tapi tampaknya prosesnya macet. Dari 40 kasus yang diserahkan, termasuk dari Muara Tae, belum ada satu kasus pun yang selesai,” ujar Abdon.

Foto: Kompas.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  2. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  3. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  4. Gereja dibakar, darurat militer diumumkan di Mindanao
  5. Calon imam SVD mengajar di Pondok Pesantren
  6. Uskup Filipina menyamar jadi petani untuk melihat kegiatan paroki
  7. Umat Katolik Pakistan marah atas pembatasan media sosial
  8. Banyak tantangan menanti Presiden Timor-Leste yang baru
  9. Paus ingatkan bahaya kata-kata kotor dan saling menjelekkan
  10. Penyandang disabilitas meminta Jokowi membentuk komisi khusus
  1. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  2. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  3. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  4. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  5. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  6. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  7. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
  8. Ingat kita di Indonesia. Semua mayoritas dan minoritas. Ketika ada pihak mengkla...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:43:38
  9. Pro Ecclecia et patria! Demi bangsa kita juga harus tegas menghadapi kekuatan ra...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:35:34
  10. Mohon diperjuangkan agar bimas katolik dapat mengangkat kembali guru agama Katol...
    Said Rudi M on 2017-05-13 22:00:07
UCAN India Books Online