90 persen korban pemerkosaan di Indonesia bungkam

01/08/2016

90 persen korban pemerkosaan di Indonesia bungkam thumbnail

 

 

Hampir semua korban pemerkosaan di Indonesia, takut melaporkan ke kepolisian karena khawatir stigma masyarakat. Catatan muram tersebut diungkap dalam sebuah jajak pendapat.yang dilakukan oleh Surabaya Rotlichtviertel Indonesien.

Korban pemerkosaan di Indonesia cenderung bungkam karena rasa malu atau tekanan sosial, kini dipastikan oleh sebuah jajak pendapat. Lebih dari 90 persen kasus tersebut tidak dilaporkan ke kepolisian.

Survei tersebut dipublikasikan pekan lalu ketika pemerintah berniat membangun pusat pengaduan untuk korban pemerkosaan. Langkah tersebut disambut aktivis perempuan karena dinilai bisa membantu mencegah tindak pemerkosaan.

Dari 25,213 responden online, sekitar 6,5 persen atau 1.636 orang mengatakan pernah diperkosa. Namun lebih dari 93 persen korban takut melaporkan ke polisi karena khawatir reaksi keluarga dan lingkungan sosial.

Menurut data, sekitar sepertiga korban pemerkosaan berusia di bawah 18 tahun. Survei tersebut digelar oleh LSM anti-kekerasan seksual, Lentera Sintas Indonesia, Majalah Magdalene dan situs petisi online Change.org.

Menurut Direktur Lentera Sintas, Dr Sophia Hage, tingginya angka kasus pemerkosaan yang tidak dilaporkan cuma “pucuk gunung es” dan “mencerminkan betapa pekanya isu tersebut”. “Masyarakat cenderung menjadikannya tabu,” katanya kepada Reuters seperti yang dikutip dw.com, dan dilansir Satuharapan.com.

“Salah satu alasan kenapa mereka tidak mengungkapnya adalah karena stigma sosial dan korban takut disalahkan. Jadi ada pembiaran dalam isu ini,” katanya.

Sekitar 58 persen responden, mengklaim pernah mengalami pelecehan seksual secara verbal. Sementara 25 persen lainnya mengaku pernah dilecehkan secara fisik, termasuk diraba dan dicium.

Pekan lalu pemerintah mengatakan sedang berencana membangun pusat statistik untuk mencatat kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak. Lembaga tersebut diharapkan sudah bisa bekerja awal tahun 2017.

Aktivis perempuan mengeluhkan minimnya data statistik berdampak negatif pada pendidikan dan pencegahan kekerasan seksual.

“Kami mendukung keputusan tersebut. Tapi pusat statistik harus ramah terhadap semua korban kekerasan seksual,” kata Sophia Hage.

Provisi Aceh kasus pencabulan tertinggi

Sementara itu, data Komisi Nasional Perempuan tahun lalu mencatat lebih dari 6.000 kasus kekerasan seksual. Sebagian di antaranya terjadi di rumah tangga. Sisanya di komunitas-komunitas sosial. Ironisnya Provinsi Aceh tergolong yang paling banyak mencatat kasus pencabulan terhadap perempuan dan anak-anak.

Yayasan Kita dan Buah Hati mendaulat Aceh sebagai provinsi dengan tingkat kasus pelecehan seksual tertinggi di Indonesia. Korban tidak cuma perempuan. Menurut data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak-anak, daerah Syariat Islam itu tahun 2015 mencatat 147 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.

Kedua adalah Jawa Timur. Lembaga Bantuan Hukum Surabaya mencatat sepanjang tahun 2015 terdapat 116 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak di Jawa Timur. Ketiga menurut Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak adalah Jawa Barat, dalam setiap bulan 17 perempuan di Jawa Barat mengalami pelecehan seksual dan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat menjadi daerah yang mencatat kasus kekerasan seksual tertinggi.

Setelah itu DKI Jakarta, menurut data kepolisian, sepanjang 2014 Jakarta mencatat 63 kasus pemerkosaan terhadap perempuan. Sementara kasus pelecehan seksual yang melibatkan bocah di bawah umur tercatat hampir mendekati angka 300 kasus. (Satuharapan.com)

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup Kirim Tim untuk Melindungi Warga dari Pembunuhan
  2. Pemerintah China Perintahkan Pemakaman Berbeda untuk Dua Uskup Ini
  3. Ketika Upaya Damai Dibayangi Ketakutan akan Perang Nuklir
  4. Uskup Militer Ajak Anggota TNI/POLRI Katolik Wujudkan Nilai-nilai Kristen
  5. Uskup: Rencana Keterlibatan Amerika Memperburuk Konflik Mindanao
  6. Uskup Korea Mendorong Pihak yang Bertikai Menahan Diri
  7. Renungan Hari Minggu XX Tahun A – 20 Agustus 2017
  8. Caritas Memberi Bantuan kepada Korban Banjir
  9. Timor-Leste Berjuang Membentuk Pemerintahan Baru
  10. Demo Menuntut Keadilan bagi Papua Berujung Penangkapan
  1. Dengan hormat, Bisakah saya mendapatkan nomor telepon untuk menghubungi Ibu P...
    Said Djatu on 2017-08-21 15:55:06
  2. Lau kita selalu di teror sama roh jahat kita tidak perlu takut untuk melawan roh...
    Said Tuhan besertaku on 2017-08-19 22:15:11
  3. Di dalam alkitab tidak ada tertulis bahwa salib mempunyai kuasa..yang benar hany...
    Said Tuhan besertaku on 2017-08-19 22:00:45
  4. Saya ingin dapatkan versi Bahasa Indonesia buku panduan Legionis Maria( Legion o...
    Said Maria Ithaya Rasan on 2017-08-15 14:22:31
  5. Visitator Apostolik itu tugasnya adalah mengunjungi pihak-pihak yang dianggap me...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-14 11:40:48
  6. Ada asap PASTI karna ada api... Tontonlah film 'Spotlight' yg brdasarkn kisah n...
    Said RESI Kurniajaya on 2017-08-12 22:38:30
  7. Teman-teman saudara-saudariku yang ada di dan berasal dari Keuskupan Ruteng. Saa...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-12 15:12:04
  8. Berita menggembirakan, shg para imam tak memberi eks komunikasi bagi yang berce...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 20:10:43
  9. Permasalahan di Keuskupan Ruteng sampai mencuat seperti ini, tentu tidak main ma...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 16:19:26
  10. Keberadaan uskup bukan seperti presiden hingga kepala desa, yang dilakukan melal...
    Said aloysius on 2017-08-11 10:53:19
UCAN India Books Online