UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja dukung Timor Leste terkait sengketa maritim

Agustus 10, 2016

Gereja dukung Timor Leste terkait sengketa maritim

 

Gereja Katolik telah mendukung rakyat Timor Leste terkait sengketa mereka dengan Australia tentang batas maritim yang melibatkan miliaran dolar dalam cadangan minyak dan gas.

Dukungan itu ditunjukkan dalam pawai di Kedutaan Besar Australia di Dili pada penutupan Forum Rakyat ASEAN (APF) pada5 Agustus. Sengketa maritim dibahas pada pertemuan tahunan itu.

Awal tahun ini, setelah Australia menolak permintaan renegosiasi batas maritim, pemerintah Timor Leste membawa sengketa itu ke PBB. Negara kecil itu, yang berbatasan dengan Australia, telah menelan biaya miliaran dolar dalam pendapatan minyak dan gas.

Timor Leste tergantung pada minyak dan gas tersebut untuk mendukung pembangunannya, menggunakannya untuk mendanai infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan pelayanan lainnya.

Pastor Mario de Calvalho Soares, direktur Karitas Keuskupan Baucau adalah salah satu peserta dari Konferensi APF. Dia mengatakan bahwa Gereja dan rakyat menghargai dukungan dari forum itu.

“Gereja mendukung ini karena ada kepentingan yang lebih besar dari rakyat Timor Leste,” kata Pastor Soares kepada ucanews.com.

“Ini adalah bagian dari misi Gereja untuk melayani orang-orang, yang 97 persen beragama Katolik,” katanya.

Timor Leste memiliki sekitar 1,2 juta penduduk tinggal di 13 kabupaten atau tiga keuskupan – Dili, Baucau dan Maliana.

“Orang-orang telah mengorbankan banyak sumber daya selama ratusan tahun. Mereka memperoleh kemerdekaan empat belas tahun  lalu dan tidak ingin kehilangan sumber daya mereka lagi,” tambahnya.

Gereja, kata dia, akan mendukung dan bekerja dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil, seperti APF, untuk memperbaiki situasi rakyat, dari desa terpencil ke tingkat nasional.

Fernando da Costa, anggota panitia pengarah untuk acara baru-baru ini, menjelaskan, “Anggota konferensi itu sepakat bahwa Australia harus dialog dengan Timor Leste, dan (Australia harus) berhenti mengambil dari negara miskin ini.”

Dia mengatakan dia senang dengan keputusan APF untuk mendukung Timor Leste dalam sengketa perbatasan.

Menurut laporan, Timor Leste dan Australia telah membentuk sebuah dewan untuk membahas batas maritim dalam terang Konvensi PBB tentang Hukum Maritim.

Sebuah tim dengan lima anggota – termasuk dua warga Timor Leste, dua warga Australia dan perwakilan PBB – mulai bekerja pada April dan diharapkan menyimpulkan tugas mereka pada Juli 2017.

Mantan perdana menteri, Jose Ramos Horta, penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1996, juga memuji  APF.

Keputusan mereka, katanya, mengingatkan dia terkait dukungan yang diberikan kepadanya selama 24 tahun bergabung dengan Indonesia, dari teman-teman di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, Eropa, Amerika Serikat, dan Australia .

“Atas nama rakyat Timor Leste, saya mengucapkan terima kasih atas solidaritas dari teman di luar negeri,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi