UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja baru menyembuhkan luka warga Timor Leste

Agustus 25, 2016

Gereja baru menyembuhkan luka warga Timor Leste

Keluarga yang terpisah akibat konflik setelah referendum di Timor Leste bertemu kembali pada acara persemian gereja bari di Gleno.

 

Ketika ulang tahun ke-17 kemerdekaan Timor Leste, orang-orang yang melarikan diri ke Indonesia secara perlahan menemukan jalan mereka kembali ke tanah kelahiran mereka untuk bertemu kembali dengan keluarga mereka setelah kekerasan berdarah menyusul referendum.

Paroki St. Perawan Maria Rahmat di Gleno, 30 kilometer dari ibukota Dili, membantu proses itu dengan mengundang para mantan pengungsi untuk menghadiri peresmian gereja baru.

Luis Partilha Salsinha kembali ke rumahnya pada upacara peresmian dengan didampingi 93 pengungsi lainnya yang meninggalkan negara itu ketika pertempuran pecah setelah referendum yang disponsori oleh PBB tahun 1999 setelah bergabung selama 24 tahun dengan Indonesia.

“Saya sangat senang karena saya bisa melihat negara, tanah, dan kerabat saya lagi setelah 16 tahun,” kata Salsinha, 56.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah Timor Leste dan Gereja Katolik mengingatkan kami, meskipun kami telah tinggal jauh selama bertahun-tahun.”

Menurut PBB, sekitar 280. 000 warga sipil tewas tahun 1999, termasuk empat imam, dua biarawati dan bruder,  dan lebih dari 200.000 mengungsi ke Indonesia.

Gereja merasa terpanggil mendamaikan para pengungsi dengan warga yang tinggal di negara itu. Tahun lalu, reuni berlangsung di Kabupaten Viqueque dan Kabupaten Manatutu, Keuskupan Baucau.

Pastor Herminio de Fatima Goncalves, ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Dili, mengatakan bahwa Gereja Katolik memfasilitasi proses rekonsiliasi.

Dia merasa bahwa para mantan pengungsi sangat penting diundang untuk menghadiri peresmian gereja baru yang dibangun dengan biaya 2,4 juta dolar AS, sebagian besar disumbangkan oleh pemerintah Timor Leste.

“Rekonsiliasi itu memberi mereka kesempatan untuk pergi bolak-balik tanpa beban, baik untuk mengunjungi kerabat mereka yang sakit di Timor Leste atau Indonesia,” katanya kepada ucanews.com.

Uskup Dili, Mgr Virgilio do Carmo da Silva, yang memberkati gereja itu mengatakan ini adalah sinyal baru dalam sejarah Gereja Timor Leste.

“Saya senang karena kami bisa bersatu kembali dengan saudara-saudara kami,” kata Uskup Da Silva.

“Ini adalah inisiatif yang berani,” katanya. “Ini kesempatan untuk merenungkan pengalaman masa lalu kami dan mencegah hal itu terjadi di masa depan. Marilah kita memohon rahmat Allah sehingga kita selalu saling memaafkan.”

Salsinha adalah petani kopi yang dihormati di Ermera, sekitar 40 kilometer sebelah barat Dili, dan memiliki ternak. Kini ia tidak memiliki tanah di Indonesia dan tergantung pada masyarakat setempat untuk menyewa lahan mereka untuk menanam singkong, jagung, dan sayuran.

Sementara itu istri Salsinha juga menggarap tanah orang lain. Ini tidak mudah bagi pasangan yang memiliki 10 anak, tetapi mereka masih tidak yakin apakah mereka akan kembali ke Timor Leste.

“Tapi kalau banyak orang memutuskan kembali saya akan bergabung dengan mereka karena tinggal di Atambua sulit serta ada kekurangan air dan listrik,” kata Salsinha.

0825c

Warga Timor Leste bersatu kembali dalam acara peresmian gereja baru di Gleno.

 

Wakil Ketua Parlemen Timor Leste, Eduardo de Deus Barreto mengatakan rekonsiliasi penting untuk mempertemukan mereka yang terpisah akibat perang, dan menggarisbawahi fakta bahwa pemisahan itu adalah pilihan pahit yang harus diambil selama masa-masa sulit.

“Tapi, kami tidak akan berdamai dengan pembunuh atau penjahat,” kata Barreto, yang adalah komandan batalion militer yang berperang melawan Indonesia.

Sebuah laporan 2003 oleh Biro Kriminal Timor Leste mengungkapkan bahwa 300 orang telah dituduh melakukan kejahatan serius sebelum dan setelah referendum tahun 1999.

“Mereka tinggal di Indonesia, tetapi hanya sekitar seratus menghadapi sidang,” kata Sisto dos Santos, seorang pengacara Yayasan Bantuan Hukum, HAM dan Keadilan, seraya menambahkan bahwa upaya sedang berlangsung untuk menangkap para tersangka yang tersisa.

“Ini bukan balas dendam, tapi mengajarkan generasi muda kita untuk tidak mengulangi lagi kejahatan masa lalu,” jelasnya.

“Di masa lalu kita mengancam satu sama lain, saling membunuh,” kata Barreto.

“Melalui rekonsiliasi ini, mari kita semua sepakat meninggalkan masa lalu kita dan membangun masa depan yang lebih baik.”

Baca selengkap: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi