Gereja Tiongkok sedang diracuni oleh campur tangan partai

30/08/2016

Gereja Tiongkok sedang diracuni oleh campur tangan partai thumbnail

Pemerintah Tiongkok dan aparat keamanan memonitor para wartawan dan menangguhkan parade keagamaan di katedral Donglu, Provinsi Hebei, 26 Mei 2013.

 

Pada Juli, sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Patriotik Katolik Tiongkok (CCPA) dan Konferensi Waligereja Gereja Tiongkok, dua organisasi Gereja yang diakui pemerintah, membantu melaksanakan rekomendasi oleh Komite Sentral Partai tentang Disiplin setelah pemeriksaannya terhadap Administrasi Negara Urusan Agama (SARA).

Setiap seminari harus melaporkan kondisi pendidikan ideologi dan politik mereka kepada konferensi itu dalam rangka memperbaiki masalah dalam pendidikan Katolik yang diidentifikasi oleh inspeksi pemerintah. Juga dalam agenda itu adalah revisi “Materi Pengajaran Independen dan Gereja Katolik ┬ádi Tiongkok yang diakui pemeritah,” awalnya materi itu disusun oleh CCPA tahun 2002.

Dapat dimengerti bahwa seminari-seminari perlu mempublikasikan mata pelajaran, tapi kurikulum baru bukanlah ajaran normal Gereja karena mereka memiliki kecenderungan politik yang kuat.

Sebuah laporan SARA dibacakan pada konferensi itu menyarankan (atau menuntut) bahwa bahan-bahan pendidikan harus mendorong “sinisisasi” Gereja Katolik Tiongkok dan pentingnya mencerminkan “Mimpi Tiongkok.” Ajaran itu juga harus menyelaraskan dengan “empat filosofi kepercayaan diri” Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Hal itu sudah jelas bahwa realitasnya akan didorong ke dalam Gereja Tiongkok dan perubahan dalam ajaran dasar Gereja menimbulkan sejumlah masalah.

Pertama, dengan menggunakan sejarah dan fakta-fakta untuk berbicara dan menjelaskan doktrin-doktrin Gereja sebenarnya sebuah manipulasi karena bagaimana fakta-fakta sebenarnya dan sejarah di bawah Komunis Tiongkok? Jika sejarah merekayasa dan memutar balik, bagaimana bisa memberikan penjelasan yang benar dan wajar tentang doktrin Gereja dan peraturan?

Juga, bagaimana bisa kita sewenang-wenang menafsirkan doktrin berdasarkan perasaan pemerintah Tiongkok saat ini? Jika ini dibiarkan maka semua orang bisa menafsirkan dan mengubah doktrin Gereja setiap saat. Ini benar-benar bertentangan dengan filosofi dari “Gereja universal.”

Kedua, menggunakan “empat filosofi kepercayaan diri” untuk menafsirkan realitas Gereja Katolik di Tiongkok adalah sebuah ide tanpa landasan yang wajar. Apakah itu “empat folosofi kepercayaan diri?” Itu muncul dari pidato Presiden Xi dalam sebuah kongres Partai pada 1 Juli 2016.

“(Partai) jangan lupa tujuan awalnya,” kata Xi. “Ini harus terus berjalan ke depan – kepercayaan diri (dan) mempertahankan … sosialisme dengan karakteristik Tiongkok, kepercayaan diri tentang teorinya, kepercayaan diri tentang sistemnya, dan kepercayaan diri tentang budaya; berpegang teguh pada garis dasar Partai dan terus mendorong maju sosialisme dengan karakteristik Tiongkok.”

Jika ada yang tidak mengerti apa yang dimaksudkan Xi, sebuah artikel oleh Chen Shuiyong, profesor di Departemen Ideologi dan Politik Universitas Pendidikan Guangdong, menjelaskan makna politik di balik itu.

“‘Empat kepercayaan diri’ itu adalah menghilangkan psikologi menyembah segala sesuatu yang bersifat asing,” catat Chan dalam artikelnya. “Perilaku besar menyembah sesuatu yang bersifat asing memiliki iman yang buta dalam segala sesuatu yang datang dari Barat, mudah menyalin gaya hidup Barat, nilai-nilai, sistem dan model pembangunan Barat.”

“Empat kepercayaan diri” itu tidak ada hubungannya dengan keyakinan, tetapi hanya xenophobia berpikiran sempit. Di bawah mentalitas seperti itu kita akan menjadi negara yang terisolasi dengan pintu kita tertutup untuk semua orang.

Jika keyakinan ini menginfeksi mata pelajaran di seminari kami, saya takut bahwa posisi Gereja akan hilang dan diganti dengan “Gereja dengan karakteristik Tiongkok” bertentangan esensinya, sifat universal.

CCPA dan Konferensi Waligereja Tiongkok tidak membantu untuk mengembangkan seminari yang sehat, tetapi menjadi kaki tangan dari pemerintah Tiongkok dan misi mereka untuk akhirnya menghancurkan independensi Gereja.

Tujuan dari konferensi ini adalah membahas dan memperbaiki umpan balik dari tim inspeksi pusat setelah peninjaunya pada SARA. Namun dalam kenyataannya, itu adalah pisau tukang daging yang menusuk jauh ke hak-hak dasar Gereja.

Gereja Katolik di Tiongkok secara bertahap berada di bawah kendali otoritas pemerintah dan keutamaan Takhta Suci sedang terkikis oleh pembentukan sebuah Gereja dengan “karakteristik Tiongkok.”

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online