UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pendidikan seks di sekolah dasar timbul kekhawatiran para uskup

September 1, 2016

Pendidikan seks di sekolah dasar timbul kekhawatiran para uskup

 

Pemerintah Filipina berencana memasukan pendidikan seks dalam kurikulum pendidikan sekolah dasar (SD) pemerintah, telah mendapat penolakan dari para uskup di negara itu.

Banyak orang mengatakan sekolah merupakan tempat yang pantas untuk mengajarkan pendidikan seks.

“Ini adalah topik yang sangat sensitif,” kata Uskup Puerto Princesa Mgr Pedro Arigo. “Saya ragu apakah ruang kelas adalah tempat yang tepat.”

Prelatus itu mengatakan “pendidikan seks memiliki dampak baik dan buruk” maka anak-anak harus dididik tentang “bagaimana membedakan sentuhan berbahaya” dan orangtua sebagai “bagian integral” dari pendidikan tersebut.

“Bagaimana pendidikan itu dapat dilakukan dalam konteks dan lingkungan, yang terlatih serta memenuhi syarat untuk melakukannya,” kata Uskup Arigo.

Dia mengatakan pendidikan seks “tidak dapat dilakukan tanpa aspek moral.”

“Bagi umat Katolik, pendidikan tersebut tidak dapat dilakukan tanpa memahami makna seksualitas sesuai dengan rencana dan rancangan Allah ketika Dia menciptakan kita laki-laki dan perempuan,” kata prelatus itu kepada ucanews.com.

Ia mencontohkan UU Kesehatan Reproduksi negara itu memungkinkan penggunaan kontrasepsi buatan menjadi sebuah keprihatinan tentang “keamanan dan memuaskan seks untuk bersenang-senang dan kesenangan.¬†Ini adalah seks tanpa moralitas,” kata Uskup Arigo.

Uskup Pembantu Manila Mgr Broderick Pabillo mengatakan pemerintah harus “secara menyeluruh melihat” rincian program itu.

“Itu semua tergantung apa jenis materi yang akan mereka gunakan dalam pendidikan seks,” kata Uskup Pabillo, ketua Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Filipina.

Dia meminta Menteri Pendidikan mengatur pelaksanaan yang komprehensif dan mencari saran dari organisasi, termasuk para pemimpin agama.

Di bawah “UU Bertanggung Jawab Orangtua dan Kesehatan Reproduksi,” negara perlu memberikan “pendidikan kesehatan reproduksi dan perekembangan yang sesuai dengan remaja.”

Siswa Kelas 1 harus diajarkan tentang “sentuhan yang baik” dan “sentuhan yang tidak baik” untuk membantu anak-anak menghindari diri dari korban predator seksual.

Rosalie Masilang, spesialis program pendidikan mengawasi di Kementerian Pendidikan, sependapat dengan kekhawatiran para uskup. Ia  mengatakan anak-anak rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi dari kalangan keluarga.

Dia mengatakan diskusi tentang seksualitas tidak boleh tentang tindakan seks, tetapi pada reproduksi, perawatan fisik, dan kebersihan.

“Nilai-nilai yang benar dan norma-norma hubungan interpersonal diperlukan guna menghindari seks pra-nikah dan kehamilan remaja”.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi