UCAN Indonesia Catholic Church News

Pemerintah gagal menyatukan kembali anak-anak Timor Leste yang terpisah

02/09/2016

Pemerintah gagal menyatukan kembali anak-anak Timor Leste yang terpisah thumbnail

Anak-anak pengungsi Timor Leste menumpang truk polisi ketika mereka meninggalkan markas kepolisian di Dili, 29 Mei 1999. Selama integrasi dengan Indonesia sekitar 4.000 anak Timor Leste terpisah dari keluarga mereka.

 

Kelompok-kelompok HAM mengatakan pemerintah Indonesia dan Timor Leste telah gagal menyatukan kembali anak-anak Timor Leste yang terpisah dari keluarga mereka ketika mereka masih anak-anak selama integrasi dengan Indonesia (1975-1999) yang direkomendasikan oleh sebuah komisi resmi tahun 2008.

Meskipun mereka diambil masih bersuai anak-anak dan sekarang sudah berusia dewasa, mencabut mereka dari keluarga mereka tetap merupakan sebuah pelanggaran HAM, kata para aktivis dari enam kelompok HAM, pada 30 Agustus, Hari Anti-Penghilangan Paksa Internasional, yang juga merupakan hari Referendum Timor Leste.

Banyak keluarga di Timor Leste masih menunggu kembalinya keluarga mereka dari Indonesia di mana mereka dibawa, kata para aktivis dalam sebuah pernyataan bersama yang dibacakan pada konferensi pers di Jakarta.

“Kami mengajukan banding kepada kedua negara tersebut untuk melakukan upaya serius menyatukan kembali anak-anak yang diambil dari keluarga mereka di Timor Leste,” kata kelompok itu.

Selviana Yolanda, dari Asia Justice and Rights mengatakan bahwa sekitar 4.000 anak terpisah dari keluarga mereka dan dibawa ke Indonesia selama integrasi.

“Pemerintah seharusnya membantu menemukan orang-orang ini,” kata Yolanda, seperti yang direkomendasikan oleh Komisi Kebenaran dan Persahabatan delapan tahun silam.

Hingga kini, hanya 65 orang telah didokumentasikan dan hanya 30 orang telah berkumpul kembali dengan keluarga mereka.

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan instruksi tahun 2011 memberikan pedoman untuk mengikuti rekomendasi komisi itu. Tapi, rekomendasi itu belum dilaksanakan, kata Yolanda.

“Sayangnya, hingga hari ini, pemerintah mengabaikan semua rekomendasi yang berhubungan dengan orang hilang dan anak yang terpisah,” katanya. “Pemerintah harus membantu untuk menemukan orang-orang ini.”

Dia juga mendesak pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah menyembuhkan trauma dan melindungi korban. Pemerintah Indonesia harus mengakui bahwa mengambil anak-anak dari keluarga mereka untuk alasan apapun adalah sebuah pelanggaran HAM berat dan juga menyediakan layanan perlindungan korban.

“Pemerintah Indonesia harus membantu mereka mendapatkan dokumen kewarganegaraan mereka, menyediakan mereka dengan beasiswa dan bantuan keuangan lainnya,” tambahnya.

Sandra Moniagar dari Komnas HAM mengatakan pemerintah belum melakukan upaya serius mendokumentasikan jumlah anak Timor Leste yang terpisah dari keluarga mereka selama 24 tahun integrasi dengan Indonesia.

“Belum ada langkah-langkah konkret yang diambil oleh pemerintah Indonesia,” kata Moniagar.

Isabelinha Pinto, salah satu warga Timor Leste yang terpisah dari keluarganya dan diadopsi oleh anggota TNI, mengatakan bahwa harus ada upaya serius untuk menemukan orang-orang yang diambil dari keluarga mereka.

“Saya telah mengalami bagaimana rasanya terpisah dari anggota keluarga,” kata Pinto. Dia dipisahkan dari keluarganya tahun 1979 dan bertemu orangtuanya tahun 2009 ketika mereka pergi ke Yogyakarta.

Dia percaya bahwa masih banyak orang seperti dia yang ingin bersatu kembali dengan anggota keluarga mereka di Timor Leste.

Sementara itu, Sisto dos Santos, koordinator Aliansi Nasional Tribunal Internasional (ANTI), mengatakan bahwa pemerintah Timor Leste sibuk membangun infrastruktur. Santos juga mengecam pemerintah Indonesia melindungi para pelaku kejahatan.

“Sayangnya, setelah kemerdekaan Timor Leste memutuskan untuk lebih fokus pada pembangunan fisik dan … (belum mendapatkan) keadilan yang kredibel untuk kejahatan berat yang dilakukan terhadap warga  Timor Leste,” katanya dalam pernyataan yang dikirim ke ucanews.com.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pastor China Dipenjara Kasus Pencurian, Umat Mengatakan Dia Dijebak
  2. Diduga Karena Tekanan, Pemerintah Menutup Sebuah Misi Katolik di India
  3. Gempa Meksiko Menewaskan 11 Orang Saat Acara Pembaptisan
  4. Renungan Hari Minggu XXV Tahun A – 24 Sept 2017
  5. Partai Khunto Mundur, Timor-Leste Dipimpin Koalisi Minoritas
  6. Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini
  7. Paus Ingatkan Uskup Jepang agar Tidak Melupakan Martir
  8. Tidak Diperhatikan, Milisi Ancam Tutup Perbatasan RI-Timor Leste
  9. Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China
  10. Pastor Salesian Ini Mengisahkan Penangkapan dan Pembebasannya
  1. Terima kasih atas masukannya Romo. Salam hangat...
    Said cnindonewsletter on 2017-09-18 16:37:16
  2. Koreksi: Sejak Oktober 2016, Superior Generale CDD bukan lagi R.P. Jhon Cia, ...
    Said Yustinus CDD on 2017-09-18 11:19:22
  3. Suster, perkenalkan saya Dame. Saya berumur 25 tahun dan saya sudah baptis katol...
    Said Parningotanna Dameria Siahaan on 2017-09-15 14:17:52
  4. kalau ada pohon yang tumbang sebab angin kencang, maka jangan salahkan angin yan...
    Said mursyid hasan on 2017-09-13 00:02:54
  5. Salam Kenal Sahabat seiman, Nama sy Antonius, tinggal di Jakarta Indonesia. Sy...
    Said Antonius on 2017-09-10 21:25:14
  6. Selamat siang Romo Indra Sanjaya. Di Wahyu 13:1 kitab deuterokanonik ada salah t...
    Said agus eko on 2017-09-10 14:04:11
  7. Infonya sangat bermanfaat. Semoga umat Katolik makin mencintai kitab suci.......
    Said Deo Reiki on 2017-09-07 08:31:09
  8. Selamat siang, Jika boleh saya meminta nomer telp ibu Angelic Dolly Pudjowati...
    Said Cornellia on 2017-09-04 15:26:00
  9. sejarah masa lalu, yang masih belum jelas keputusan dari Pemerintah, dan belum j...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:16:52
  10. religius sendiri sangat erat kaitannya kepada seluruh kegiatan umat termasuk lin...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:04:35
UCAN India Books Online