Umat Katolik acuh tak acuh dengan pemilu Hong Kong

05/09/2016

Umat Katolik acuh tak acuh dengan pemilu Hong Kong thumbnail

 

Umat Katolik yang menghadiri seminar dan forum yang diadakan Gereja difokuskan tentang pemilu 4 September di Hong Kong mengatakan mereka mendapat manfaat dari acara itu, tetapi hanya sedikit orang yang hadir.

Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Hong Kong (JPC) menjadi tuan rumah acara lima seminar dan empat forum yang berhubungan dengan Pemilu Dewan Legislatif (Legco) keenam. Setiap forum dihadiri kurang dari 100 orang dan juga untuk acara seminar.

Pemilu adalah paling kontroversial sejak Tiongkok mengambil kembali Hong Kong dari Inggris tahun 1997 setelah Beijing melarang 20 calon menyampaikan pandangan pro-kemerdekaan. Ini juga menyoroti meningkatnya gangguan Partai Komunis Tiongkok dalam urusan Hong Kong di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.

Sejumlah kandidat pemilu menghadiri forum itu di mana mereka menjawab pertanyaan tentang platform pemilihan mereka, yang mencakup bidang-bidang seperti reformasi politik, kesehatan, isu-isu lingkungan dan hak-hak buruh. Tapi, hanya satu distrik memiliki calon pro-Beijing.

Angel Tin mengambil bagian dalam forum Wilayah Baru Timur di mana sekitar 70 orang hadir.

“Sejujurnya, saya harapkan umat Katolik lebih banyak datang,” kata Tin, seorang mahasiswa, kepada ucanews.com. Ada sekitar 1 juta pemilih di konstituensi untuk Wilayah Baru Timur.

Dia mengatakan bahwa perlu “lebih banyak diskusi tentang pemilu di kalangan mahasiswa Katolik.”

“Saya datang untuk mengetahui lebih banyak tentang para calon di forum ini dan saya dibantu mengidentifikasi  sikap calon lebih dekat dengan ajaran Gereja Katolik. Dan saya bisa menjelaskan kepada ibu saya juga karena dia apolitis,” kata Tin, seorang pemilih pemula.

Joe Choi, anggota kelompok peduli sosial dari Paroki St Maria, kecewa bahwa sedikit orang bergabung dengan forum itu.

“Umat kami sangat bersedia menyumbangkan uang dan melakukan pelayanan amal. Tapi, mereka tidak peduli banyak tentang urusan sosial,” kata Choi kepada ucanews.com.

Sally Lau, seorang Katolik yang tinggal di Wiayah Baru Barat mengatakan bahwa umat Katolik muda lebih banyak tertarik dalam pemilu. “Umat muda berbicara tentang pemilu, tapi orangtua-tua tidak,” kata Lau.

Meskipun tidak ada forum yang diadakan JPC di wilayah itu dia berpikir jika ada maka itu akan membantu membangkitkan minat umat dalam urusan sosial.

Koordinator JPC Chan Shu-fai mengakui bahwa akan menjadi lebih ideal jika lebih banyak orang datang ke acara ini.

“Kecuali forum untuk Wilayah Baru Timur forum tidak punya calon pro-Beijing yang bergabung. Jadi, mungkin kurang menarik bagi beberapa umat Katolik,” kata Chan Shu-fai kepada ucanews.com.

Sejumlah umat Katolik tidak menghadiri forum itu mengatakan mereka menduga apa sikap para kandidat di acara itu.

Teresa Chan, seorang awam, 40, mengatakan ia percaya bahwa calon pro-Beijing yang paling menolak untuk bergabung acara yang diadakan Gereja karena mereka memahami sikap politik mereka pada isu-isu tertentu tidak cocok dengan nilai Gereja.

Tapi, Chan Shu-fai berpendapat bahwa forum itu masih layak dihadiri karena sesuai dengan pemilih Katolik.

“Forum kami memberikan lebih banyak waktu untuk para kandidat untuk mengekspresikan ide dan platform mereka. Bahkan jika mereka terutama dari kubu pro-demokrat, orang bisa mengambil kesempatan ini untuk memahami keragaman mereka,” kata Chan Shu-fai.

Kardinal John Tong Hon, uskup Hong Kong, merilis surat pastoral pada 22 Juli yang mendesak umat Katolik untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu, menggambarkannya sebagai “kesempatan untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat Hong Kong.”

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Komunitas awam Katolik Indonesia bantu warga Muslim merayakan Idul Fitri
  2. Keuskupan Agung Semarang mengucapkan Selamat Idul Fitri
  3. Kampanye mendukung blogger Katolik di Vietnam diluncurkan
  4. Paus memberkati fundasi bangunan sebuah tarekat di Korea
  5. Vatikan diam saat Dubes Jerman mendukung uskup China
  6. Renungan Hari Minggu XII Tahun A -25 Juni 2017
  7. Gereja Katolik mendukung pemisahan wilayah bagi etnis Gorkha di India
  8. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  9. Menciptakan peradaban kasih di Keuskupan Agung Semarang
  10. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online