Pernikahan anak di Nepal mengancam masa depan mereka

09/09/2016

Pernikahan anak di Nepal mengancam masa depan mereka thumbnail

ilustrasi

 

Pemerintah Nepal tidak mengambil langkah-langkah memadai untuk mengakhiri pernikahan anak, menyebabkan masa depan baik anak perempuan mapun anak laki-laki di seluruh negeri itu menjadi rusak, kata Human Rights Watch (HRW) dalam sebuah laporan yang dirilis pada 8 September.

Laporan 118 halaman itu berjudul, ‘Masa kami untuk Bernyanyi dan Bermain: Pernikahan Anak di Nepal’, mendokumentasikan tekanan ekonomi dan sosial yang menyebabkan pernikahan anak, dan konsekuensi yang menghancurkan pernikahan mereka, kata siaran pers HRW.

Negara Himalaya yang miskin itu memiliki tingkat pernikahan anak tertinggi ketiga di Asia, dengan 37 persen anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, dan 10 persen sebelum usia 15 tahun, meskipun usia minimum pernikahan untuk perempuan dan laki-laki adalah 20 tahun di bawah UU Nepal. Sekitar 11 persen anak laki-laki menikah sebelum usia 18 tahun.

Kelompok HAM yang berbasis di New York itu mewawancarai 149 orang di seluruh negeri itu, termasuk 104 anak yang sudah menikah dan dewasa yang menikah ketika mereka masih berusia anak-anak.

Mereka berasal dari berbagai latar belakang etnis, agama, dan kasta, tetapi sebagian besar berasal dari Dalit Nepal atau masyarakat adat, yang mencerminkan prevalensi yang lebih besar dari pernikahan anak tersebut.

Pernikahan anak membahayakan anak-anak dan keluarga mereka, termasuk penolakan akses ke pendidikan, konsekuensi kesehatan serius termasuk kematian akibat kehamilan dini, dan kekerasan dalam rumah tangga, termasuk kekerasan seksual, dan penelantaran.

Silahkan nonton video HRW ini tentang pernikahan anak di Nepal:

 

Sumber: ucanews.com

 

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online