UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Hukuman mati bagi penyerang asam muncul reaksi beragam

September 12, 2016

Hukuman mati bagi penyerang asam muncul reaksi beragam

 

Sebuah pengadilan di India menjatuhkan hukuman mati kepada seorang pria karena ia membunuh seorang wanita dengan menyiram air asam, di mana kasus ini telah menimbulkan tanggapan beragam di kalangan para pemimpin Gereja dan aktivis.

Pada 8 September, Pengadilan Tinggi Mumbai menjatuhkan hukuman mati kepada Ankur Panwar, 25, karena menyiram air asam kepada tetangganya Preeti Rathi, 23, saat dia turun dari kereta bersama keluarganya di Mumbai pada Mei 2013. Rathi meninggal sebulan kemudian akibat menderita luka-luka.

Panwar menyerang Rathi setelah wanita ini menolak permintaan untuk menikah, malah ia menerima pekerjaan di angkatan laut India sebagai perawat.

“Meskipun mengakui beratnya kejahatan tersebut, kami dari pihak Gereja Katolik selalu mengambil sikap moral bahwa kami sangat menentang hukuman mati,” kata Pastor Nigel Barrett, juru bicara Keuskupan Agung Bombay.

“Hidup adalah anugerah Tuhan dan harus dihormati,” kata Pastor Barrett.

Senada juga diungkapkan oleh Suster Magdalena D’Silva, dengan mengatakan bahwa Panwar harus diberi kesempatan untuk bertobat, konseling dan rehabilitasi.

“Ada begitu banyak narapidana yang hidupnya berubah. Di Tahun Luar Biasa Allah dan menurut ajaran Katolik, sikap belarasa perlu diutamakan,” kata Suster D’Silva.

Namun, sejumlah orang telah menyambut baik putusan tersebut.

Aktivis perempuan Sangeeta Manore Bhure mengatakan penjahat yang melakukan kejahatan seperti Panwar layak mendapatkan hukuman mati.

Aktivis sosial, Aftab Siddique mengatakan kepada ucanews.com, “Keluarga sangat menderita. Tidak ada ┬ádukungan dapat menghibur keluarganya.”

Panwar sekarang memiliki pilihan untuk banding ke Mahkamah Agung India. Bila Mahkamah Agung menolak bandingnya, ia dapat mengajukan permohonan kepada perdana menteri India.

India telah dua kali menentang seruan resolusi Majelis Umum PBB untuk moratorium hukuman mati.

Kasus serangan asam sangat menonjol di negara-negara Asia Selatan. Di India, sebagian besar korban serangan asam adalah perempuan.

Sumber: ucanews.com

 

One response to “Hukuman mati bagi penyerang asam muncul reaksi beragam”

  1. Jenny Marisa says:

    Mengapa perempuan dibenci dan diperlakukan dengan kejam… Apakah laki laki itu lahir dari kerbau dan sapi? Bagaimana menghormati ibunya sendiri? Ada yang tidak normal dengan golongan ini.. Soal gereja tidak setuju dengan hukum mati itu sudah jelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi