Ketua PGI menilai sikap intoleran merusak kesatuan bangsa

30/09/2016

Ketua PGI menilai sikap intoleran merusak kesatuan bangsa thumbnail

Ketua Umum PGI Pdt. Henriette Hutabarat-Lebang mengatakan mengurai benang kusut intoleransi bukanlah pekerjaan mudah namun harus kita lakukan bersama, dan tidak boleh ditunda-tunda. (Foto:PGI)

Ketua Umum Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang mengatakan bahwa sikap intoleransi dalam masyarakat merapuhkan sendi-sendi kesatuan bangsa yang majemuk, melemahkan Bhinneka Tunggal Ika, merongrong dasar negara Pancasila dan UUD 45. Hal ini dapat membuyarkan komitmen bersama untuk mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pdt. Henriette menambahkan, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, dan telah memperlihatkan kemampuannya untuk hidup bersama dalam kemajemukan di tengah perkembangan komunitas di berbagai dunia yang semakin majemuk.

Sehingga banyak yang ingin belajar dari pengalaman masyarakat Indonesia yang bertahun-tahun telah hidup berdampingan secara damai sekalipun mempunyai latarbelakang suku, budaya, bahasa, dan agama yang berbeda.

“Namun semangat gotong royong dan saling peduli yang dipegang kuat dan merupakan nilai utama berbagai komunitas tradisional di Indonesia, dan karena itu merupakan ciri khas masyarakat Indonesia, sudah semakin tergerus terutama oleh individualisme, materialisme dan konsumerisme, di tengah arus globalisasi yang semakin deras yang ditandai pengejeran keuntungan bagi diri dan kelompoknya, sehingga manusia tidak lagi segan menyikut sesamanya,” jelasnya.

Lebih jauh Pdt. Henderiette menjelaskan, berbagai konflik baik berskala kecil maupun besar, telah merebak di berbagai tempat di tanah air, dan merusak keharmonisan masyarakat.

Tidak jarang perbedaan-perbedaan suku, agama, budaya yang semula dianggap sebagai bagian yang hakiki dari eksistensi kita sebagai masyarakat, dimanipulasi untuk kepentingan ekonomi, atau politik kelompok tertentu.

Akhirnya, konflik berbasis SARA tidak terelakkan, dan sikap toleransi atau saling menghargai perbedaan semakin merosot, digeser dengan semakin menebalnya sikap intoleransi terhadap sesama, dan juga eksploitasi terhadap alam.

“Kelompok yang secara jumlah besar atau disebut mayoritas, melakukan pelecehan dan merampok kepada kelompok yang jumlahnya lebih kecil atau sering kita sebut minoritas. Kecenderungan kelompok mayoritas ingin dominan bahkan menjadi penentu tampaknya menggejala di semua kelompok, terlepas dari latarbelakang suku dan agamanya,” kata Pdt.Henriette.

“Kondisi ini tentu tidak sehat bagi masyarakat kita, dan akibatnya terjadilah insiden-insiden kekerasan bernuansa agama di Gunungkidul, tetapi juga di Papua, Aceh Singkil, Makassar, Bitung, dan lainnya,” katanya.

Kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak dasar yang dijamin dalam undang-undang, khususnya dalam Pasal 28E. Sebab itu, menjadi tugas pemerintah menjamin hak dasar tersebut yang akan memupuk sikap toleransi terhadap yang lain.

Namun, semakin menyedihkan dan menggelisahkan ketika pemerintah atau oknum pemerintah bersikap “toleran” dalam arti membiarkan kelompok-kelompok intoleran menindas dan melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas.

Akibatnya terjadilah pelanggaran HAM, kebebasan publik terancam, menimbulkan ketakutan yang selanjutnya membuat saling curiga dalam masyarakat, dan mempertebal semangat permusuhan.

Menurut Pdt. Henriette, mengurai benang kusut intoleransi bukanlah pekerjaan mudah namun harus kita lakukan bersama, dan tidak boleh ditunda-tunda.

Tantangan ini membutuhkan komitmen semua pihak agar bangsa ini tidak porak-poranda. Tetapi sebaliknya menjadi bangsa yang semakin matang, semakin bertanggungjawab memupuk kebersamaan demi mencapai cita-cita masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Selengkapnya: Sikap intoleran yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online