Merawat Indonesia dalam keberagaman

24/10/2016

Merawat Indonesia dalam keberagaman thumbnail

 

Isu yang diperjuangkan komunitas ini terbilang berat: toleransi. Tidak mudah memang. Namun, niat dan misi mereka sungguh mulia. Yakni, menjaga Indonesia tetap harmonis dalam indahnya perbedaan.

Selain mayoritas berusia muda, aktivis komunitas Pelita Harapan di Cirebon, Jawa Barat, punya latar belakang agama yang beragam. Selain enam agama yang diakui pemerintah (Islam, Katolik, Protestan, Buddha, Hindu, dan Konghucu), ada penganut kepercayaan seperti Sunda Wiwitan. Bahkan, ada yang mengaku Yahudi dan Kristen Ortodoks.

’’Yang mengakui adanya Tuhan tapi tidak memilih agama juga ada,’’ ungkap Ketua Umum Pelita Harapan Abdurrahman Wahid, seperti dilansir Jawapos.com.

Sekretariat Pelita Harapan berada di Jalan Perjuangan Majasem 89, Karangmulya, Kesambi, Cirebon. Abdurrahman menjadi ketua kedua di organisasi yang berdiri pada 28 Oktober 2011 itu.

Kehadiran Pelita Harapan tidak bisa dilepaskan dari insiden bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon pada April 2011. Setelah peristiwa itu, muncul kecurigaan antarwarga. Ada kekhawatiran terulangnya peristiwa berdarah tersebut. ’’Ada syak wasangka. Khawatir ekstremisme agama muncul,’’ kata Abdurrahman.

Nah, dalam masa pemulihan pasca ledakan bom itu, Pelita Harapan hadir. Pelita awalnya merupakan singkatan Pemuda Lintas Iman yang digagas dalam forum diskusi setiap Sabtu. Salah satu inisiatornya adalah KH Marzuki Wahid.

Dalam forum Sabtuan yang dihadiri para pemuka agama tersebut, belum ada pemuda yang terlibat. Karena itu, dibentuklah komunitas di kalangan pemuda. Tujuannya, sesama generasi muda bisa saling memahami dan memperkuat toleransi.

Akar nilai persatuan mereka gali dari kearifan lokal khas Cirebon. Salah satunya mengacu pada nasi jamblang, nasi pulen dengan sambal khas yang dibungkus daun jati muda. Lauknya beraneka macam, terserah penikmatnya. Ada ikan asin, tempe, sate udang, hingga paru.

’’Seperti nasi jamblang yang berbeda-beda lauknya, tapi dalam satu wadah daun jati,’’ ujar mahasiswa jurusan Filsafat Agama Institut Studi Islam Fahmina itu.

Kelahiran Pelita Harapan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Semangat Sumpah Pemuda mengiringi perjuangan mereka. Yakni, menyatukan para remaja yang berbeda-beda latar belakang.

’’Kami sedang persiapkan perayaan ulang tahun. Kami akan hadirkan seni dari berbagai macam latar belakang,’’ kata Abdurrahman.

Selama lima tahun berjalan, banyak kegiatan yang mereka lakukan. Yang rutin adalah dialog bulanan. Tempatnya berpindah-pindah. Dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain. Mereka mendatangi masjid, gereja, wihara, pura, hingga kelenteng. Tempat bersejarah seperti Keraton Kanoman di Cirebon juga disinggahi. ’’Sudah lebih dari 40 tempat ibadah berbeda yang kami kunjungi,’’ ungkapnya.

Di antaranya, Gereja St. Yosep Cirebon, Pura Agung Jati Pramana Cirebon, Vihara Welas Asih, GKI Rahmani, Kelenteng Talang, dan Masjid Cut Mubarok. Ada pula Paseban Tri Panca Tunggal di Cigugur dan Pesantren Kempek Palimanan. Tempat ibadah tersebut boleh dibilang menjadi kantor tak resmi Pelita Harapan.

Dialog bulanan dibuat dalam suasana santai. Jauh dari kesan formal. Terkadang duduk lesehan dengan jamuan makanan ringan. Pemuka agama rumah ibadah yang dikunjungi akan memberikan pengantar dialog. Setelah itu, peserta lain bergantian berbicara. Tema dialog berkisar tentang masalah toleransi antaragama.

’’Sekali dialog bisa sampai tiga jam atau lebih. Suasananya benar-benar seduluran,’’ ujar Abdurrahman.

Pelita Harapan juga membuat buku bunga rampai. Isinya beragam. Ada esai, hasil penelitian, hingga curahan hati para aktivis komunitas tersebut. Buku berjudul Merayakan Perbedaan itu ditulis 17 pengurus Pelita Harapan.

’’Dalam setahun sampai dua tahun ke depan, setidaknya bisa berkembang sampai se-Jawa Barat,’’ katanya.

One Comment on "Merawat Indonesia dalam keberagaman"

  1. Merawat Indonesia dalam keberagaman – URAKAT NTT on Mon, 24th Oct 2016 10:29 am 

    […] Sumber […]




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online