Peziarah temukan jawaban di makam seorang imam martir

28/10/2016

Peziarah temukan jawaban di makam seorang imam martir thumbnail

Para peziarah mengunjungi Pemakaman Kerkof, sebuah tempat peristirahatan terakhir bagi para imam Yesuit, juga Richardus Kardis Sandjaja.

 

Christina Palupi Dewi dan putrinya berusia 2 tahun, Gracia Nugraheni Putri Sitting, duduk di sudut Pemakaman Kerkof di Muntilan, Jawa Tengah.

Mereka datang ke pemakaman itu untuk menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada mendiang Romo Richardus Kardis Sandjaja, seorang imam martir yang mereka yakin bisa menjawab doa-doa mereka.

Dewi percaya bahwa putrinya adalah sebuah mukjizat.  Ia tidak  hamil setelah bertahun-tahun menikah, lalu ia berdoa melalui mendiang Pastor Sandjaja.

“Putri kami, Gracia, adalah anugerah Tuhan, dengan perantaraan Romo Sandjaja,” kata Dewi.

Dewi menikah dengan Paulus Bima Arya tahun 2005. Karena keinginan pasangan itu untuk memiliki anak tak terpenuhi, mereka berkonsultasi dengan dokter. Mereka juga mengambil obat-obatan herbal, namun upaya mereka sia-sia. Seiring dengan berjalannya waktu harapan mereka untuk memiliki anak hampir terkubur.

“Kami frustrasi,” kata Dewi.

Suatu hari mereka mendengar cerita tentang pasangan lain yang telah menikah selama sembilan tahun, dan melahirkan anak pertama mereka setelah berdoa di makam mendiang Romo Sandjaja. Dewi dan suaminya memutuskan bahwa mereka juga akan mengunjungi makam imam itu untuk meminta anak.

“Setelah 11 bulan, saya merasa tanda bahwa aku hamil,” kata Dewi. Seorang dokter mengkonfirmasikan kehamilannya.

“Kami sangat senang. Ini adalah sebuah mukjizat,” kata Dewi. Untuk menghormati karunia Tuhan ini, mereka memutuskan untuk memberi nama putri mereka, Gracia, yang berarti berkat dari Tuhan. Setiap bulan keluarga itu mengunjungi makam mendiang Romo Sandjaja untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka.

Didiagnosa  dengan kanker

Theresia Eka Sari memberi kesaksian lain. Menurut Sari, ibunya, Yohana, baru-baru ini sembuh dari kanker payudara stadium-3. Dokter telah didiagnosa ibunya dua tahun sebelumnya.

“Awalnya kami terkejut,” kata Sari. Dia khawatir dengan ibunya, yang menolak untuk menjalani kemoterapi seperti dianjurkan dokter.

Suatu hari di sebuah rumah sakit lokal di Yogyakarta, Sari membaca sebuah buletin bahwa doa akan dikabulkan melalui mendiang Romo Sandjaja.

Didorong oleh iman dan harapan untuk pemulihan ibunya, Sari pergi ke makam imam itu setiap hari Minggu. Setelah enam bulan berdoa, perubahan terjadi.

“Suatu hari ibu saya bermimpi. Dia melihat seseorang berpakaian putih mendekati dia. Ketika ia terbangun ia menangis karena ia merasa bahwa rasa sakit itu hilang,” kisah Sari.

Sari membawa ibunya ke rumah sakit untuk memeriksa apakah ia benar-benar telah sembuh.

“Luar biasa. Dokter mengatakan kankernya sudah tidak ada,” katanya.

Para peziarah yang datang ke Pemakaman Kerkof telah menceritakan banyak kisah mukjizat tersebut.

“Banyak peziarah telah berbagi kisah keajaiban, seperti penyembuhan dari penyakit serius setelah berdoa di makam mendiang Romo Sandjaja,” kata Mursid.

1028b

Banyak peziarah telah mengunjungi Pemakaman Kerkof mengatakan bahwa mukjizat telah terjadi melalui mendiang Romo Sandjaja. 

 

Kematian seorang martir

Romo Sandjaja lahir di Muntilan, Jawa Tengah, pada 20 Mei 1914. Ayahnya, Willem Kromosendjojo, bekerja di sebuah rumah sakit yang dikelola Yesuit. Ibunya, Richarda Kasijah, adalah seorang ibu rumah tangga.

Sandjaja dikenal anak yang cerdas, bahkan ia disebut ‘kamus berjalan.’ Dia juga seorang yang rajin berdoa. Romo Sandjaja masuk seminari dan ditahbiskan menjadi imam di Muntilan pada 13 Januari 1943 – setahun setelah invasi Jepang.

Selama pendudukan Jepang (1942-1945), Romo Sandjaja menghadapi banyak kesulitan. Selain tekanan dari pendudukan lokal, ia juga menderita serangan militan Muslim yang menentang karya misinya.

Beberapa kali gerejanya dihancurkan oleh militan Muslim dan ia bangun kembali dengan bantuan umatnya.

Pada 20 Desember 1948, sebagai hukuman atas tuduhan kolaborasi dengan Belanda, sekelompok militan menculik dan membunuh Romo Sandjaja dan Romo Herman Bouwens SJ asal Belanda.

Keesokan harinya jenazah mereka ditemukan, dan dimakamkan menurut upacara Katolik. Gereja lokal menganggap Romo Sandjaja dan Romo Bouwens sebagai martir, dan Agustus 1950 jenazah mereka dipindahkan ke Pemakaman Kerkof.

Jangan berbicara tentang kanonisasi

Makarius Martomo, seorang kerabat mendiang Romo Sandjaja, mengatakan bahwa imam itu adalah seorang orang yang cerdas, sederhana dan pendoa, yang telah menginspirasi banyak umat Katolik untuk tetap kuat dalam iman mereka.

Menurut Martomo, tahun 1956  mulai proses pengumpulan kisah tentang keajaiban untuk kanonisasi Romo Sandjaja ini. Namun, beberapa tahun kemudian, tidak ada berita lebih lanjut tentang proses tersebut.

“Kesaksian para peziarah menunjukkan bahwa Romo Sandjaja adalah orang yang unik,” kata Romo Fransiskus Xaverius Sukendar, administrator Keuskupan Agung Semarang. “Tapi, ini tidak selalu mengarah pada beatifikasi atau kanonisasi.”

Menurut imam itu, kematian Romo Sandjaja tetap menjadi isu sensitif karena berkaitan dengan kerukunan antaragama di Indonesia.

Kanonisasi akan “menyakiti umat lain, yang tidak nyaman dengan itu,” kata Romo Sukendar.

Ia sependapat dengan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Jakarta, yang pernah mengatakan, “Biarkan kesucian dan kemartiran Romo Sandjaja dikenang dalam hati umat Katolik.”

Sumber: ucanews.com

 

2 Comments on "Peziarah temukan jawaban di makam seorang imam martir"

  1. Anselmus Seng Openg on Wed, 4th Jan 2017 1:25 pm 

    Luar biasa atas kesaksian iman dari kisah 2 orang yang berbeda dengan masalah yang berbeda pula. Saya minta alamat pemakaman RD Sanjaya. Deo Gratia. Saya tinggal di Bogor.

  2. Nick on Sat, 15th Apr 2017 10:04 am 

    Menurut saya jika kita melihat dengan kondisi bangsa saat ini lebih bagus waktu yang tepat untuk membicarakan kanonisasi romo sandjaya karena banyak yang sudah disembuhkan melalui perantaraan beliau. Selain itu, sampai kapanpun mereka (kaum fanatik) semakin hari semakin menindas kita dan mereka tidak pernah peduli akan budaya menghargai maka lebih baik dilakukan saja kanonisasi sebagai orang kudus.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  2. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  3. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  4. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  5. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  6. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  7. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  8. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  9. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  10. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
UCAN India Books Online