UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kardinal Myanmar minta pemerintah mengembalikan sekolah milik Gereja

Nopember 10, 2016

Kardinal Myanmar minta pemerintah mengembalikan sekolah milik Gereja

Kardinal Charles Maung Bo, Uskup Agung Yangon, Myanmar.

 

Kardinal Charles Maung Bo, Uskup Agung Yangon mengatakan dia akan meminta pemerintah Myanmar untuk menyerahkan kembali sekolah-sekolah yang dikelola Gereja yang telah dinasionalisasi untuk merevitalisasi sistem pendidikan lama yang diabaikan negara itu.

Myanmar adalah negara dengan pendidikan terbaik di Asia Tenggara tahun 1950 berkat pendidikan berkualitas yang disediakan oleh sekolah-sekolah Kristen. Tapi, sebagian besar sekolah misi dinasionalisasi tahun 1965 setelah Jenderal Ne Win merebut kekuasaan.

“Sekali lagi Gereja siap berkontribusi,” kata kardinal Salesian berusia 68 tahun itu.

“Kami akan mengajukan permintaan secara resmi kepada pemerintah untuk mengembalikan sekolah-sekolah kami meskipun fakta Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang berkuasa belum berbicara tentang topik ini,” kata Kardinal Bo kepada ucanews.com, seraya menambahkan bahwa orang Gereja juga akan berupaya “melalui anggota parlemen” untuk mengangkat masalah ini di parlemen.

Seruannya datang pada saat Myanmar muncul dari beberapa dekade kediktatoran ketika partai NLD Aung San Suu Kyi memenangkan pemilu 2015 dan menjabat pada April. Para kritikus telah lama menyalahkan mantan diktator militer untuk mengabaikan sistem sekolah di Myanmar selama beberapa dekade.

Kardinal Bo juga menegaskan niatnya untuk membantu sektor pendidikan pada perayaan 500 tahun Gereja Katolik di Myanmar yang diadakan di Katedral St. Maria Yangon pada November 2014.

Dia mengatakan sekolah-sekolah yang dikelola Gereja harus dikembalikan dan pemerintah hendaknya “mengembalikan semua sekolah misi” yang diambil di bawah todongan senjata.

Kardinal Bo berbicara tentang topik itu saat berkunjung ke Stonyhurst College, sebuah sekolah Yesuit di Inggris, yang diunjunginya pada Mei.

“Pendidikan sangat penting bagi negara manapun,” katanya. “Hal ini terutama penting bagi negara saya Myanmar karena kami memulai perjalanan kami ke sistem yang lebih demokratis, masyarakat yang lebih terbuka, dan ketika kami menghadapi tantangan yang sulit pembangunan bangsa, perdamaian keputusan, merayakan keragaman dan menangani kemiskinan.

Shila Nan Taung, dari Gereja Baptis dan anggota parlemen untuk NLD, juga mendukung kebangkitan pendidikan Kristen di Myanmar.

“Kami akan senang jika pemerintah mengembalikan sekolah yang dinasionalisasi karena kami perlu meningkatkan mutu ┬ápendidikan,” kata Nan Taung, seorang etnis Kachin dan seorang pensiunan guru besar, kepada ucanews.com.

Wanita itu memuji peran sekolah yang dikelola Gereja dan mengatakan bahwa dia menerima pendidikan di sekolah yang dikelola biarawati.

“Saya menjadi guru dan guru besar berkat sekolah yang dikelola Gereja,” katanya.

Beberapa dekade pemerintahan militer menghancurkan sistem pendidikan Myanmar karena rezim menolak untuk menyediakan anggaran cukup uang untuk itu.

Anggaran belanja pendidikan negara itu meningkat dari 0,7 persen dari PDB pada 2011-2012 menjadi 2,1 persen pada 2013-2014. Namun, anggaran ini masih di bawah rata-rata 3,6 persen dibandingkan 10 negara ASEAN lain.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi