Pengungsi Asia yang terlupakan. Bagian 1: Gambaran sekilas

11/11/2016

Pengungsi Asia yang terlupakan. Bagian 1: Gambaran sekilas thumbnail

Seorang gadis Rohingya di sebuah kompleks perumahan di Aceh Timur.

 

Ketika krisis pengungsi terus menjadi berita utama internasional, negara-negara Asia Tenggara menghadapi tantangan mereka sendiri untuk mendukung dan melindungi jutaan pengungsi dan pencari suaka.

Di seluruh kawasan tersebut, orang-orang terus melarikan diri akibat konflik dan penindasan politik.

Dalam seri ini, wartawan ucanews.com mengeksplorasi situasi yang dihadapi para pengungsi akibat pertempuran yang sedang berlangsung antara kelompok militan Islam dan pasukan pemerintah di Mindanao. Pertempuran baru-baru ini di Provinsi Sulu telah menimbulkan 20.000 orang mengungsi, tapi ini merupakan sebagian kecil dari jumlah populasi pengungsi di Asia Tenggara.

Sejumlah orang tidak diketahui telah melarikan diri dari Filipina ke Malaysia Timur – sekitar puluhan ribu orang, bahkan lebih dari angka tersebut. Ada, orang yang tak terdokumentasi dan terhitung, tinggal di daerah dengan perbatasan laut, mereka adalah kelompok pengungsi Asia Tenggara terbaru yang terlupakan akibat puluhan tahun konflik.

Namun, mereka hanya kelompok terbaru di wilayah di mana begitu banyak yang sekarang tinggal jauh dari tanah air mereka, banyak dalam kondisi tak memiliki kewarganegaraan dengan akses terbatas untuk pendidikan dan kesehatan yang layak di luar badan-badan bantuan.

Di Thailand, Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan bahwa lebih dari 560.000 orang tinggal dalam situasi tak memiliki kewarganegaraan sebagai pengungsi dan pencari suaka, atau dalam situasi mirip pengungsi. Sejumlah kecil dari mereka termasuk Kisten dari Pakistan, Suriah, Tiongkok dan Irak.

Namun, sebagian besar datang dari Myanmar, berbagai konflik telah disaksikan di mana ratusan ribu orang melarikan diri. Sekitar 100.000 orang tinggal di sembilan kamp di perbatasan Thailand-Myanmar. Mereka terutama orang-orang dari etnis Karen, Birma dan Mon, setelah melarikan diri akibat konflik di Myanmar bagian tenggara, demikian UNHCR.

Mahn Saw, ketua komite pengungsi Karen, mengatakan bahwa masa depan pengungsi di Thailand masih belum jelas karena sejumlah orang ingin bermukim di negara ketiga dan yang lain ingin kembali ke Myanmar.

“Kami melihat bahwa itu bukan waktu yang tepat untuk mengembalikan para pengungsi itu ke Myanmar karena gencatan senjata secara nasional (antara berbagai etnis yang berperang melawan pasukan pemerintah) belum dilaksanakan,” kata Mahn Saw kepada ucanews.com.

“Dan kita tidak melihat perubahan nyata di lapangan, meskipun perubahan tingkat atas di parlemen di bawah pemerintahan yang dipimpin NLD,” katanya.

Sejauh ini, hanya 68 pengungsi dari etnis Karen dan etnis Burma telah secara sukarela kembali ke Myanmar, melalui upaya bersama pemerintah Myanmar dan pemerintah Thailand.

Sementara itu, ketegangan agama di Negara Bagian Rakhine telah membuat ratusan ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke Thailand, Banglades dan tempat lain.

Kerentanan yang dihadapi para pencari suaka Rohingya telah membuat mereka menghadapi bahaya besar. Ribuan telah meninggal dalam perjalanan dengan perahu. Tahun lalu, serangkaian kamp perdagangan dan puluhan kuburan massal ditemukan di perbatasan Thailand-Malaysia, di mana jumlah yang tidak diketahui dari Rohingya telah ditahan.

“Rohingya menderita akibat perlindungan yang lemah di Asia Tenggara,” kata laporan Amnesty International yang dirilis awal bulan ini.

“Negara-negara utama yang menerima pengungsi Rohingya tidak menandatangani Konvensi Pengungsi 1951, juga tidak memiliki kerangka hukum tertentu untuk memberikan perlindungan atau hukum bagi para pengungsi dan pencari suaka,” kata laporan itu.

“Ini berarti bahwa pengungsi Rohingya dan pencari suaka secara konsisten hidup dalam ketakutan dari penangkapan, penahanan, dan penuntutan.”

Di Malaysia, sekitar 246.000 orang hidup sebagai pengungsi atau dalam kondisi pengungsi. Seperti Thailand, sebagian besar penduduk berasal dari Myanmar. Dan, seperti, Thailand, Malaysia tidak ikut konvensi internasional melindungi pengungsi. Tanpa akses hukum, catatan PBB, banyak pengungsi dan pencari suaka “didorong ke sektor informal, yang membuat mereka terkena risiko, termasuk eksploitasi dan pelecehan, serta membatasi akses mereka ke layanan dasar.”

Banglades telah menghadapi sejumlah pengungsi akibat kerusuhan Myanmar. Sementara PBB mencatat sekitar 230.000 pengungsi atau mereka yang tinggal dalam situasi mirip pengungsi di negara ini. Tahun lalu, UNHCR tercatat antara 300.000 hingga  500.000 pengungsi terdaftar tinggal di luar kamp-kamp resmi di Cox Bazaar, Banglades.

Banyak perhatian global difokuskan di tempat lain, terutama di saat situasi di Eropa, organisasi pengungsi telah berjuang mengisi kesenjangan. UNHCR memiliki hanya 32 persen dari 139,7 miliar dolar AS yang diperlukan untuk menjalankan program-programnya di Asia Tenggara tahun ini.

Sementara itu bagi mereka yang mencari perlindungan merupakan sebuah kebutuhan yang jelas dan langsung.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  2. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  3. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  4. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  5. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  6. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  7. Pendukung Mgr Hubertus Leteng meminta umat membela uskup
  8. Paus sumbang €25.000 untuk membantu warga di Afrika Timur
  9. Setelah kelompok teroris, ini target serangan Duterte berikutnya
  10. India memberikan pelatihan bagi jutaan PRT
  1. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  2. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  3. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  4. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  5. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  6. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  7. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  8. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  9. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
  10. Sudah saatnya gereja accountable. https://www.naulinovation.com:8443/onebody/...
    Said Leonard on 2017-07-22 17:15:48
UCAN India Books Online