UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Keluarga ‘orang hilang’ menerima penghargaan HAM Asia

Nopember 14, 2016

Keluarga ‘orang hilang’ menerima penghargaan HAM Asia

Seorang bocah laki-laki memegang foto kakeknya yang hilang 20 tahun lalu di Manila.

 

Sebuah kelompok yang beranggotakan keluarga korban penghilangan paksa akan menerima Asian Democracy and Human Rights Award dari pemerintah Taiwan tahun ini.

Penghargaan ini akan diberikan kepada Asian Federation Against Involuntary Disappearances (AFAD), ketuanya pembela HAM Kashmiri, Khurram Parvez, tetap berada dalam penahanan di India.

Parvez ditangkap saat dalam perjalanan menghadiri sidang Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 14 September.

Mary Aileen Diez Bacalso, sekjen AFAD, mengatakan pengakuan yang diberikan oleh Taiwan Foundation for Democracy  datang pada “waktu yang sangat sensitif” untuk organisasinya.

Badan pemberi penghargaan itu mengatakan pihaknya mengakui “keberanian, kepemimpinan, dan visi” AFAD  di mana hampir dua dekade bekerja atas nama korban penghilangan paksa.

AFAD merupakan federasi dari 14 anggota organisasi di 10 negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Organisasi itu berperan penting dalam mendorong persetujuan Konvensi PBB tentang Penghilangan Paksa, berlakunya UU penghilangan paksa pertama di Filipina, ratifikasi Konvensi oleh Sri Lanka, dan penandatanganan oleh India, Indonesia dan Thailand.

Didirikan tahun 1998 di Manila, AFAD memfasilitasi pencarian bagi orang-orang yang diculik atau dipenjara oleh organisasi negara atau politik, dan bekerja untuk memastikan pencapaian kebenaran, keadilan, ganti rugi dan rekonstruksi memori kolektif yang hilang.

“AFAD telah berkontribusi mendorong negara-negara mengatasi hak-hak keluarga orang hilang dan  mencari keadilan bagi para korban,” kata Su Jia-Chyuan, ketua Taiwan Foundation for Democracy  setelah pengumuman pemenang pada 10 November.

Bacalso mengatakan penghilangan paksa terus dilakukan di banyak negara Asia dan keluarga terus “menunggu kebenaran dan keadilan.”

“Asia memiliki jumlah kasus penghilangan paksa tertinggi di seluruh dunia,” kata Bacalso.

Di Kashmir sendiri sekitar 8.000 orang muda Kashmir hilang tahun 1990-an, sebagian besar dari mereka diyakini tewas dan dimakamkan di kuburan tak bertanda.

Di antara negara-negara Asia, Sri Lanka memiliki 5.676 kasus penghilangan paksa, Nepal memiliki 458, Timor Leste memiliki 428, India memiliki 353, Indonesia memiliki 162, Pakistan memiliki 99, Thailand memiliki 71, Tiongkok memiliki 30, dan Korea Utara memiliki 20.

AFAD dan para pemimpinnya juga telah mengalami penganiayaan. Mantan ketuanya, pembela HAM Indonesia, Munir, meninggal akibat keracunan arsenik tahun 2004.

“Mereka menghadapi ancaman, intimidasi, penganiayaan, namun, mereka terus mendampingi anggota keluarga korban, memberikan dukungan mereka,” katanya kepada ucanews.com.

Penghargaan ini, juga dengan uang sebesar 100.000 dolar AS dan diberikan setiap tahun kepada individu atau organisasi yang telah membuat kontribusi yang signifikan untuk kemajuan demokrasi dan HAM di Asia.

Sebelumnya penerima penghargaan termasuk Reporters Without Borders, Rescue Foundation of India, End Child Prostitution, Child Pornography dan Trafficking of Children for Sexual Purpose International, serta Kim Seong-min, pendiri dan direktur Free North Korea Radio.

Upacara penghargaan berlangsung pada 10 Desember, Hari HAM internasional.

“Penghargaan ini akan memberikan kekuatan baru untuk perjuangan kami dan akan membantu dalam mengejar visi kami tentang dunia tanpa Desaparecidos (orang hilang),” kata Bacalso.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi