UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik di Korea Selatan menuntut presiden mundur

Nopember 17, 2016

Umat Katolik di Korea Selatan menuntut presiden mundur

 

Umat Katolik di Korea Selatan menuntut agar Presiden Park Geun-hye mengundurkan diri terkait skandal yang telah menciptakan “Choi Soon-sil Gate.”

Dari tingkat keuskupan bahkan seminaris, Gereja Katolik di Korea Selatan telah menyerukan Park mengundurkan diri setelah kabar bahwa temannya, Choi Soon-sil, diduga memanipulasi presiden untuk mendapatkan akses ke dokumen-dokumen rahasia dan konon menggelapkan dana melalui yayasan non-profit.

Kasus itu menimbulkan protes dari Gereja Katolik dimulai dengan Misa yang diadakan di Keuskupan Agung Kwangju dan Keuskupan Cheju pada 7 November.

Uskup Auksilier Simon Ok Hyun-jin, dari Keuskupan Kwangju memimpin Misa bersama para imam dari keuskupan agung itu di gereja Namdong menyerukan Park mengundurkan diri.

Setelah Misa, Uskup Ok memimpin sekitar 1.000 umat Katolik dari gereja menuju Plaza Demokrasi pada 18 Mei di pusat kota Gwangju. Sepanjang jalan mereka melakukan yel-yel menuntut Park mengundurkan diri.

Pada hari yang sama, Komite Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Cheju mengadakan Misa di gereja Gwangyang mengenang Baek Nam-ki, seorang aktivis petani yang meninggal baru-baru ini, dan mengkritik Park atas kegagalan pemerintahannya.

Pada 9 November, Uskup Jeonju Mgr Vincent Ri Pyung-ho memimpin Misa di Katedral Joongang demi pemulihan demokrasi.

Pada Misa itu, Uskup Ri tidak langsung meminta Park mengundurkan diri ketika ia mengatakan: “Semua lapisan masyarakat di Korea meminta Presiden Park mundur.”

Dua hari kemudian, Keuskupan Daejeon dan Keuskupan Masan menggelar aksi serupa.

Uskup Auksilier Agustinus Kim Jong-su dari Keuskupan Daejeon memimpin Misa di Katedral Daeheungdong pada 11 November. Sekitar 1.800 umat menghadiri Misa di mana mereka meminta Park untuk mengakui perbuatannya  dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.

Pastor Taegon Andrew Yim Sang-kyo dari Keuskupan Daejeon mengatakan dalam homili, “Choi Soon-sil Gate menunjukkan situasi tragis di Korea. Presiden harus mengundurkan diri dan kami umat Katolik berdoa untuk negara ini agar demokrasi dipulihkan.”

Setelah Misa, para peserta berbaris menuju Stasiun Daejeon menyalakan lilin dan mengusung plakat menyerukan Park mundur.

Uskup Masan Mgr Constantine Bae Ki-hyen mengadakan Misa konselebrasi di Gereja Sapadong, Changwon, 11 November, memiliki tema serupa.

“Mari kita berdoa untuk negara dan meminta Tuhan mewujudkan keadilan-Nya di muka bumi,” kata Uskup Constantine.

Pastor Michael Park Cheol-hyeon, ketua Komite Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Masan, mengatakan dalam homilinya bahwa “hidup di zaman kita harus menjadi nabi. Dengan memegang lilin di tangan kita, mari kita menang melewati kegelapan di zaman kita.”

Pada 14 November, Keuskupan Agung Seoul dan Keuskupam Suwon mengadakan Misa bersama di Gwanhwamun Plaza, Seoul.

Sekitar 850.000 orang menghadiri unjuk rasa menuntut pengunduran diri Park di Seoul pada 12 November.

Park adalah putri dari mantan diktator Park Chung-hee yang dibunuh oleh kepala mata-mata tahun 1979.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi