Biarawati dan perempuan berjilbab suarakan kebhinnekaan

23/11/2016

Biarawati dan perempuan berjilbab suarakan kebhinnekaan thumbnail

Suster Annunciata PIJ dan Refany Rezkia Saury salah satu mahasiswa di Malang saat memegang lilin bersama dalam aksi seribu lilin oleh Aliansi Masyarakat Bhinneka di Jalan Veteran, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (21/11/2016) malam

 

Sejumlah warga yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Bhinneka menggelar aksi seribu lilin di Jalan Veteran, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (21/11/2016) malam.

Aksi itu digelar untuk merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Koordinator aksi, Nanda Pratama mengatakan, melalui 1.000 lilin itu, ia berharap Indonesia tidak pecah karena persoalan keyakinan yang beragam.

“Seribu lilin damai ini secara khusus mendoakan agar Indonesia ke depan semakin damai. Supaya kuat merawat kebhinnekaannya,” katanya, seperti dilansir Kompas.com.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap sejumlah teror yang terjadi di berbagai daerah. Seperti di Samarinda yang meneweskan satu orang bocah.

Menurutnya, aksi seperti itu bisa memancing perpecahan NKRI.

“Dengan aksi ini, ke depan kita tidak diam terhadap isu-isu perpecahan, tidak diam terhadap ancaman kebhinnekaan,” jelasnya.

Aksi itu terdiri dari berbagai elemen. Namun mereka melebur jadi satu dengan nama Aliansi Masyarakat Bhinneka.

“Kita terdiri dari berbagai elemen mahasiswa. Tapi saya sepakat untuk tidak menggunakan lembaga masing-masing. Kita melebur jadi bineka Malang,” jelasnya.

Ia sengaja menjadikan lilin sebagai simbol dalam aksinya. Sebab lilin, menurutnya, adalah simbol perdamaian.

Suster Annunciata PIJ mengatakan, ada pihak-pihak yang merasa terusik dengan keberagaman yang ada di Indonesia. Hal itu, menurutnya, akan menjadi embrio perpecahan di negeri ini.

“Oleh karena itu, saya merasa terpanggil saja untuk mengikuti kegiatan seperti ini,” ungkapnya.

Khusus di Malang, ia dan umat kristen yang lain selalu menjaga jalinan silaturahmi dengan umat agama lainnya. Seperti selalu berkunjung ke rumah tokoh umat Islam saat Lebaran tiba.

Di Ambarawa

Ada pemandangan yang menyejukkan batin tatkala menyaksikan Gema Keragaman Nusantara Masyarakat Kabupaten Semarang yang digelar di Gedung Serbaguna Gotong Royong, Ambarawa, Selasa (22/11/2016) malam.

Ratusan umat berbagai agama berbaur jadi satu, menjalin persaudaraan dalam bingkai kebhinnekaan.

Simbol-simbol agama yang hadir di tempat itu tidak menjadikan mereka menjaga jarak satu sama lain.

1123i

 

Seorang biarawati yang berkalung salib dan seorang perempuan berjilbab putih terlihat duduk berdampingan bersimpuh di lantai yang sama dan saling bersenda gurau saat melihat tarian Rantaya.

Tarian doa ini dibawakan dengan apik oleh anak-anak dari SMP Mater Alma Ambarawa.

“Aku Septi, aku Muslim, dan ini Celin teman aku, agamanya Katolik,” kata Septi (14), siswa kelas VIII SMP Mater Alma, seusai pentas.

Tak hanya itu, penampil lain dalam acara itu juga merepresentasikan keragaman iman dan budaya yang tidak pernah tersekat-sekat.

Ada KH Amin Budi Harjono, pengasuh Pondok Pesantren Al Islah Semarang, yang bertausiyah dengan tarian sufinya.

Ada Romo Aloysius Budi Purnomo, pastor paroki Kristus Raja Ungaran, dengan saksofonnya yang mengiringi tausiyah Budi Harjono.

Penyair kondang asal Kota Semarang, Timur Sinar Suprabana, membawakan dua puisi dari WS Rendra dan Gus Mus. Puisi itu kembali mengingatkan tentang kemanusiaan dan keindonesiaan.

Hadir juga meramaikan pertemuan budaya malam itu budayawan asal Pati, Habib Anis Sholeh Ba’asyin.

“Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Malam ini kita berbaur menjalin persaudaraan dalam bingkai kebinekaan,” kata Romo Budi.

 

One Comment on "Biarawati dan perempuan berjilbab suarakan kebhinnekaan"

  1. Biarawati dan perempuan berjilbab suarakan kebhinnekaan - Paroki Kutoarjo on Wed, 23rd Nov 2016 1:14 pm 

    […] Sumber : ucanews […]




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online