Kisah pilu kaum tunawisma Jepang

24/11/2016

Kisah pilu kaum tunawisma Jepang thumbnail

Seorang tunawisma tinggal Yoyogi Park, Jepang.

 

Takashi datang dari sebuah desa di Jepang menuju Tokyo untuk mencari pekerjaan. Kini pria berusia 70 tahun mengalami dampak resesi ekonomi tahun 2009,  dia harus bekerja sebagai pemulung dengan mengumpulkan kaleng bekas.

“Saat hujan, sulit bagi saya untuk ke luar,” kata Takashi, yang tinggal di salah satu pojok Miyashita Park, daerah pinggiran yang paling populer di Tokyo.

Takashi menunjuk kotak kardus yang ia gunakan sebagai kasur, “Kemarin hujan dan ia masih belum kering.”

Pria ini adalah salah satu dari banyak tunawisma yang mengisi daerah ini. Dia telah tinggal di sana selama enam tahun. Dia tidak memiliki istri atau anak dan kehilangan rumahnya di Akita, sebuah daerah miskin di Jepang bagian utara. Dia memiliki adik, namun telah kehilangan kontak dengan dia sejak meninggalkan kampung halamannya.

“Saya menggunakan waktu dengan mengumpulkan kaleng bekas. Saya mengumpulkan tujuh kilogram setiap hari, kemudian saya jual dan mendapatkan beberapa ribu yen” (1.000 yen saat ini bernilai 9 dolar AS).

Takashi mengatakan ia berterima kasih kepada semua orang yang lewat membuang kaleng kosong.

Takashi datang ke Tokyo untuk mencari pekerjaan, tapi ia terjebak dalam resesi ekonomi tahun 2009 ketika banyak orang di seluruh negeri itu kehilangan pekerjaan mereka.

1123g

Pria tunawisma yang tinggal di Miyashita Park.  

 

Angka resmi menyatakan hanya ada sekitar 3.000 tunawisma di Tokyo dan 25.000 di seluruh negeri itu. Tapi, angka itu tidak benar, menurut sosiolog, Tamaki Matsuo.

“Survei memperkirakan jumlah tunawisma hanya mereka yang tinggal di jalan-jalan,” kata Matsuo.

Akihiro, 52, tinggal di kafe-kafe internet 24 jam di mana ia bisa menghabiskan malam di tempat yang hangat dan dengan hiburan seperti  video game dan YouTube.

Akihiro dan warga lain seperti dia tidak termasuk dalam angka resmi pemerintah, yang ternyata meremehkan masalah tunawisma.

Dia pindah ke Miyashita Park tiga tahun lalu sejak kecil.

Alasannya?

“Uang tentu saja”, katanya. “Tidak ada biaya apapun tinggal di Miyashita Park, toilet tersedia, dan air mengalir setiap saat sepanjang hari.”

“Saya akan melakukan apa pun”, katanya. “Saya diminta membersihkan rumah dan gedung perkantoran, tetapi sulit untuk dipekerjakan jika Anda tidak memiliki alamat. Saya bahkan bisa minta dukungan pemerintah, tetapi permohonan begitu rumit dan sulit.”

Menurut Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan, 2,17 juta orang menerima bantuan mata pencaharian tahun lalu. Namun sejumlah orang tidak memenuhi persyaratan.

Ada juga tunawisma yang menolak untuk menerima dukungan publik sama sekali. Langkah pertama untuk menerima dukungan pemerintah yakni tunawisma tidak memiliki agar mereka dapat dukungan secara finansial.

“Tetapi, jika tunawisma mendapatkan pembayaran pemerintah, banyak dari mereka membeli alkohol atau berjudi sehingga mereka menghabiskan semuanya, orang-orang ini membutuhkan konseling, tetapi pemerintah tidak memberikan,” kata seorang relawan dari kelompok Protestan.

Sebaliknya, perhatian utama pemerintah tampaknya mengusir para tunawisma di sekitar Mayashita Park karena lokasi itu akan dijadikan Olimpiade Tokyo 2020.

“Kami semua khawatir apa yang akan terjadi pada kami ketika Miyashita Park baru dibangun,” kata seorang tunawisma lain bernama Kyohei.

“Saya akan dipaksa untuk pindah ke tempat lain bersama dengan semua orang yang telah berlindung di sini selama puluhan tahun, kami tidak tahu apa yang akan terjadi,” tambahnya.

1123h

Tempat penampungan tunawisma di Miyashita Park. 

 

*Untuk menghormati warga tunawisma yang diwawancarai, hanya nama samaran atau nama pertama mereka digunakan sesuai permintaan.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online