UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat ​​Katolik di Tiongkok melakukan diskriminasi terhadap ODHA

Desember 5, 2016

Umat ​​Katolik di Tiongkok melakukan diskriminasi terhadap ODHA

 

Jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHA) di Tiongkok terus meningkat akibat kurangnya kepedulian, termasuk umat Katolik,  yang melakukan diskriminasi terhadap ODHA.

Bagi umat Katolik yang bekerja dengan ODHA, merasa frustasi melihat para pasien mereka tersiksa dan  takut  mencari pengobatan.

John Lu adalah seorang Katolik yang bekerja untuk ODHA di Xian, Provinsi Shaanxi, Tiongkok di mana ada sekitar 10.000 orang dengan penyakit itu dari populasi hampir 38 juta jiwa.

Ia mendirikan Home of Love Support Group untuk ODHA tahun 2010. Lembaga ini memberikan informasi, membantu menjalani tes, dan konseling kepada orang-orang yang didiagnosis dengan HIV.

“Kelompok online kami memiliki 230 orang. Saya juga bergabung dengan federasi dari sekitar 20 kelompok, masing-masing kelompok memiliki lebih dari seribu orang dengan masalah serupa,” kata Lu.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok melaporkan pada September bahwa ada 654. 000 ODHA di Tiongkok dari populasi 1,3 miliar dan angka itu terus meningkat,  lapor media pemerintah pada 30 November.

Namun, Lu mengatakan jumlah sebenarnya sekitar 1 juta ODHA. “Beberapa dari mereka tidak tahu tentang tes, sementara yang lain ingin melarikan diri dari kenyataan,” katanya kepada ucanews.com.

Sayangnya, informasi yang salah dan diskriminasi masih menjadi masalah utama di Tiongkok dan Gereja di sana, tambahnya.

Ketidaktahuan dan diskriminasi

Kenneth Cheung mengatakan kepada ucanews.com menggunakan nama aslinya, adalah seorang Kristen gay dari Hong Kong, yang telah hidup dengan HIV sejak tahun 1995.

Dia mendirikan Rainbow China tahun 2008 untuk membantu pencegahan HIV.

Cheung membawakan lebih dari 600 pidato tentang HIV di Tiongkok tahun 2015 dan menemukan bahwa departemen kesehatan pemerintah telah menyebarkan informasi palsu.

Dia mencontohkan Provinsi Shandong. Provinsi ini telah mendistribusikan selebaran dari pemerintah.

Cheung mengatakan kepada ucanews.com, “Selebaran ini semacam promosi yang terjadi di seluruh Tiongkok. Itu membuat saya merasa tidak berdaya. Mereka tidak tahu apa arti gay.”

Bahkan dalam komunitas Gereja, Cheung mengatakan ia telah menemukan intoleransi dan diskriminasi berdasarkan ketidaktahuan.

Seorang imam di Tiongkok mengatakan bahwa keuskupan setempat tidak memiliki layanan untuk ODHA. Jika orang-orang tersebut diketahui, mereka akan dikucilkan dan dipaksa meninggalkan daerah itu.

Cheung mengatakan bahwa prasangka orang-orang Kristen dapat dilihat di media sosial.

“Mereka selalu mengatakan bahwa orang-orang gay adalah orang berdosa dan HIV adalah hukuman dari Allah,” katanya.

“Saya telah bertemu dengan beberapa orang Kristen gay, dengan dan tanpa HIV, mereka diminta  meninggalkan Gereja atau  bertobat,” katanya.

Hui Taiyang, seorang Katolik di Tiongkok bagian selatan, mengatakan kepada ucanews.com bahwa “tidak ada umat Katolik gay di Gereja saya.”

Tapi situasi telah membaik selama dua tahun terakhir, terutama setelah Paus Fransiskus menetapkan Tahun Luar Biasa Kerahiman Allah, yang ditutup pada 20 November, katanya.

Meskipun demikian, Gereja Katolik saat ini tidak siap  melayani kebutuhan ODHA di Tiongkok, tambahnya.

Sekitar 90 persen penularan HIV di Tiongkok terjadi akibat seks tidak aman, kata Lu.

Sumber: ucanews.com

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi