Gereja, warga Korea Selatan gelar aksi menentang skandal korupsi presiden

06/12/2016

Gereja, warga Korea Selatan gelar aksi menentang skandal korupsi presiden thumbnail

 

Presiden Korea Selatan sedang diguncang skandal korupsi yang mendorong sekitar 850.000 orang turun ke jalan-jalan pada 12 November dan sekitar dua juta orang melakukan aksi serupa pada 26 November.

Tanda-tanda mulai muncul pada malam hari 28 November ketika Presiden Korea Selatan Park Geun-hye menerima pengunduran diri Menteri Kehakiman Kim Hyun-woo. Kemudian pada hari berikutnya, saat pidato di televisi kepada seluruh bangsa di negara itu, Park mengatakan bahwa dia akan menyerahkan sepenuhnya kepada Majelis Nasional untuk memutuskan nasibnya.

“Saya akan mengikuti keputusan Majelis Nasional tentang pengunduran diri saya sebagai presiden,” kata Park seperti dilaporkan The Korea Times.

“Ketika partai berkuasa dan partai oposisi mengusulkan rencana untuk mengalihkan kekuasaan sebagai cara meminimalkan kekacauan dan kekosongan kekuasaan, saya akan mengundurkan diri dari kursi kepresidenan sesuai dengan aturan dan jadwal yang diusulkan oleh Majelis Nasional,” katanya.

Dalam pidato televisi sebelumnya, Park meminta maaf dengan ketidakpuasan publik, tetapi ia tidak pernah mengakui keterlibatannya maupun mengajukan pengunduran diri.

Pernyataan terbaru Park terjadi hanya beberapa hari menjelang voting di parlemen. Presiden itu membiarkan sahabatnya Choi Soon-sil yang diduga memanipulasi namanya untuk mendapatkan akses ke dokumen-dokumen rahasia dan menggelapkan dana melalui yayasan non-profit.

Di antara jutaan warga Korea Selatan telah menyerukan pengunduran Park, termasuk 10 keuskupan, lebih dari setengah dari total jumlah keuskupan di seluruh negeri itu. Mereka juga mengadakan Misa dan berdoa untuk masa depan negara.

Korea Selatan memiliki jumlah umat Katolik terbesar kedua di Asia setelah Filipina dengan setidaknya 30 persen dari populasi mengidentifikasi sebagai Kristen – dari jumlah itu sekitar 25 persen beragama Katolik.

Pastor Peter OMI, adalah salah satu dari warga yang berpartisipasi dalam demonstrasi.

Partisipasi Gereja Katolik dalam demonstrasi besar ini sebagai wujud kepebulian terhadap bangsa, kata Pastor Peter.

“Kami menarik orang agar sadar daripada kemarahan mereka,” katanya.

Dukungan terhadap Presiden Park telah anjlok. Dia telah mengalami kehilangan hampir semua dukungan rakyatnya; dari 30 persen menjadi hanya 4 persen dalam waktu beberapa minggu.

Perangkat komunikasi sebagai senjata

Apa yang terjadi di Korea Selatan memang berangkat dari perangkat komunikasi. Semuanya dimulai dari  tablet Galaxy digital.

Jaksa menemukan satu perangkat tersebut di kantor Choi. Penyidik sedang mencari bukti bahwa akan mengkonfirmasi tuduhan bahwa Choi menggunakan persahabatannya dengan Park untuk menekan “chaebol” (perusahaan besar) untuk menyumbangkan puluhan juta dolar ke yayasan sendiri. Semua ini diduga dilakukan dengan bantuan dari Federasi Industri Korea, kelompok lobi bisnis terbesar di negara itu.

Tablet Galaxy itu berisi informasi rahasia yang hanya presiden bisa memiliki akses. Hal ini telah menjadi senjata untuk mengkonfirmasi semua tuduhan dan akan membawa jutaan orang Korea turun ke jalan melakukan protes.

Putri Choi, Jung Yoo-ra, telah mengajukan pendapat yang agak berbeda dengan media sosial.

Jung telah terlibat dalam skandal tersebut dan telah dituduh penerimaannya di Ewha University, sebuah universtias bergengsi berkat lobi ibunya. Melalui media sosial Jung memilih nada yang sangat mudah untuk membela diri, dengan mengatakan bahwa orang tidak harus menyalahkan dia.

Sebaliknya, katanya, bahwa mereka harus menyalahkan orangtua mereka sendiri untuk tidak memberikan mereka akses ke uang dan kekuasaan.

Sikap itu hanya menimbulkan kemarahan lebih lanjut di antara warga Korea yang telah turun ke jalan melakukan protes, kata Pastor Peter.

“Inilah pelajaran hidup yang orang biasa menyerahkan kepada elit serakah yang mendatangkan malapetaka terkait pengelolaan negara dengan tujuan tunggal untuk korupsi,” kata Pastor Peter.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online