Pemerintah Timor Leste dikritik ‘mengabaikan kaum difabel’

08/12/2016

Pemerintah Timor Leste dikritik ‘mengabaikan kaum difabel’ thumbnail

Kelompok difabel berpartisipasi dalam tertandingan basket di Paroki St. Antoniu di Dili, Timor-Leste.

 

Kelompok masyarakat sipil di Timor Leste telah mengkritik pemerintah gagal memperhatikan pendidikan ribuan penyandang difabel, yang menurut mereka telah membantu mengobarkan api diskriminasi terhadap mereka.

Kelompok-kelompok itu – termasuk lembaga Gereja – membentuk Asosiasaun Defisiensia Timor Leste (ADTL) berusaha membantu lebih dari 48.000 difabel.

“Ribuan difabel di negara ini tidak menghadiri pendidikan formal, dari tingkat Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi,” kata Presiden ADTL, Joaquim Soares, selama acara di Dili menandai Hari Internasional Penyandang Difabel pada 3 Desember.

“Bahkan jika mereka bersekolah, paling hanya tamat pendidikan Sekolah Dasar. Sangat sedikit selesai sekolah tinggi atau universitas,” katanya.

Dia menanggapi klaim oleh Perdana Menteri Maria Rui de Araujo bahwa pemerintah menghabiskan dana 500.000 dolar AS setiap tahun membantu orang muda difabel dengan mendanai organisasi-organisasi, termasuk ADTL.

“Dana ini tidak memadai. Semua kelompok bisa melakukan dengan tingkat pendanaan untuk pendidikan informal,” kata Soares.

“Kementerian Pendidikan perlu membuka sekolah yang tidak mengisolasi anak-anak difabel,” katanya.

“Biarkan anak-anak hidup berdampingan dan mengatasi diskriminasi dalam masyarakat,” katanya.

Pastor David Alves da Conceicao, dari Paroki St. Antonius di Dili mengatakan tidak hanya pemerintah yang mengabaikan difabel, tapi masyarakat secara keseluruhan, termasuk keluarga mereka sendiri. Salah satu faktor penyebab utama adalah kurangnya pendidikan, katanya.

“Mereka melihat kaum difabel sebagai beban tambahan,” kata imam itu.

Menyediakan pendidikan akan memungkinkan orang berkontribusi lebih kepada masyarakat yang juga akan membantu orang memandang kaum difabel dalam cahaya baru, katanya.

Dia meminta pemerintah mengikuti contoh yang ditetapkan oleh lembaga Gereja seperti Asosiasi Institutes Misionaris Awam, yang mengurus dan membantu mendidik 58 anak difabel – tunarungu, tunanetra atau tunagrahita.

Kebutuhan banyak yang harus dilakukan untuk membantu merawat dan mendidik mereka yang secara fisik atau mental berbeda dari seluruh masyarakat, katanya.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online