Sebelas tahun kerja sama pesantren Indonesia dan sekolah Katolik Inggris

12/12/2016

Sebelas tahun kerja sama pesantren Indonesia dan sekolah Katolik Inggris thumbnail

Makan bersama di kantin Holy Family Catholic School di Keighley, West Yorkshire. Sebagian pelajar di sekolah ini adalah Muslim.

 

Dalam sebelas tahun kerja sama antara pesantren Darunnajah di Jakarta dan sekolah Katolik Holy Family di Keighley, West Yorkshire, Inggris, sudah terwujud pertukaran puluhan guru dan pelajar, langkah yang disebut pemimpin pesantren mengangkat toleransi di Indonesia.

Pertukaran pelajar dan guru terakhir dilakukan pertengahan November lalu dengan 13 santri dari Darunnajah dan lima guru berkunjung ke Keighley.

Sofwan Manaf, pemimpin pesantren Darunnajah mengatakan dalam pertukaran ini tidak hanya pemahaman soal Islam yang mereka angkat namun juga berbagai tradisi dan budaya, selain untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar.

Asisten kepala sekolah Holy Family, Eileen Llewellyn, mengatakan, “Kerja sama sekolah yang terletak di kota kecil Keighley, yang terletak di daerah miskin di Inggris, dengan pesantren di kota besar Jakarta, Indonesia, menurut kami berhasil mengembangkan kesadaran global yang lebih besar terhadap para pelajar.”

“Dengan kerja sama ini, pelajar kami mengenal dan menghargai kebudayaan lain dengan perbedaan besar dan juga banyak kesamaannya,” kata Eileen kepada BBC Indonesia, Jumat (9/12).

“Pelajar kami terkadang kurang berminat (untuk mengenal budaya lain) sehingga meningkatkan kesadaran adanya peluang di luar memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperluas pengetahuan mereka,” tambahnya.

Untuk memahami perbedaan

Kerjasama kemitraan antar sekolah ini berawal tahun 2005, menyusul kunjungan perdana menteri Inggris saat itu Tony Blair.

“Kami mengangkat pemahaman tentang Islam, Islam yang toleran, serta mengajar bahasa dan budaya Indonesia yang begitu banyak… Jadi tak hanya Islam (yang kami angkat) namun juga kehidupan pada umumnya,” kata Sofwan.

Dalam memasuki tahun ke-11 kerjasama ini, Sofwan menilai kedua belah pihak ‘sudah saling memahami perbedaan’ dan akan ditingkatkan lagi dengan menambah jumlah program pertukaran pelajar.

“Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa bicara bagaimana meningkatkan kualitas (belajar mengajar) dan mereka terkesan dengan hal-hal yang positif. Pada awalnya mereka agak ketakutan (tentang Indonesia) setelah mendengar informasi yang ada. Namun setelah mereka datang, mereka respect (menghargai) tentang kehidupan Islam, dan kehidupan pendidikan di Darunnajah, khususnya,” tambah Sofwan.

Choirunisa, salah seorang pelajar yang ikut dalam pertukaran di Keighley, bercerita salah satu pertanyaan yang dia terima termasuk kehidupan di pesantren.

“Mereka tanya, bagaimana kehidupan di pesantren… kalian belajar tentang agama lain tidak,” kata Choirinisa.

Keaktifan siswa

Namun, satu hal yang dipetiknya dari pertukaran ini adalah para siswa yang aktif bertanya dan berpartisipasi dalam diskusi sekolah.

“Mereka lebih aktif bertanya ke gurunya, beri opini walaupun salah. Menjadi pelajaran buat kami bahwa siswa Indonesia tak seharusnya pasif terus tapi harus aktif.”

Radia Melksa, santri lain yang ikut ke Keighley, melihat ‘suasana santai’ dalam mengajar yang justru menurutnya dapat mendorong belajar.

“Suasana belajar lebih santai dan hubungan guru dan murid juga santai, tapi tetap punya integritas… Jadi lebih mudah menangkap pelajaran dengan lebih enak, ditambah fasilitas yang lengkap juga,” kata Radia.

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online