Catatan buruk terkait penegakan hak berekspresi dan beragama sepanjang 2016

14/12/2016

Catatan buruk terkait penegakan hak berekspresi dan beragama sepanjang 2016 thumbnail

Sejumlah ormas Muslim membubarkan KKR Natal di Bandung pekan lalu.

 

Hasil survei Indeks Kinerja HAM yang dilakukan Setara Institute menunjukkan bahwa kebebasan beragama/berkeyakinan, kebebasan berekspresi, serta kebebasan berserikat di Indonesia masih buruk.

“Pada survei 2016 terdapat dua variabel, yakni hak kebebasan beragama/berkeyakinan dan hak berekspresi dan berserikat, yang skornya turun jika dibandingkan pada tahun 2015,” ujar peneliti bidang HAM Setara Institute, Ahmad Fanani Rosyidi, di Kantor Setara Institute, Jakarta Selatan, belum lam ini seperti dilansir Kompas.com.

Survei ini dilakukan untuk memberikan gambaran berdasarkan persepsi ahli tentang situasi penegakan HAM setahun belakangan.

Dalam survei itu, Setara mengambil sebanyak 202 responden ahli dengan beragam latar belakang seperti akademisi, peneliti, aktivis, dan tokoh masyarakat.

Survei tersebut menggunakan delapan variabel sebagai alat ukur utama, yakni penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu, kebebasan berekspresi dan berserikat, kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta hak rasa aman dan perlindungan warga negara.

Variabel lainnya adalah penghapusan hukuman mati, penghapusan diskriminasi, hak atas ekonomi, sosial dan budaya, serta rencana aksi penegakan HAM dan kinerja lembaga HAM.

Ahmad menyampaikan, pada survei tahun 2016, nilai variabel hak kebebasan berekspresi dan berserikat adalah 2,10.

Sementara itu, pada survei tahun 2015, nilai untuk variabel ini lebih tinggi, yakni 2,18 dengan skala penilaian 0-7.

Menurut analisis Ahmad, penurunan nilai ini dipicu oleh meningkatnya pembatasan kebebasan berekspresi melalui praktik kriminalisasi terhadap aktivis dan jurnalis.

Pembatasan tersebut, kata Ahmad, banyak terjadi di wilayah Papua.

Setara Institute mencatat, sepanjang tahun 2016 sebanyak 29 orang mengalami kriminalisasi, 2.397 orang ditangkap saat berunjuk rasa, 13 orang dibunuh, 68 orang ditembak, dan 2 peristiwa percobaan pembunuhan.

Di luar Papua, kriminalisasi terhadap aktivis HAM pun meningkat. Pada 2015 telah terjadi 23 peristiwa kriminalisasi, kemudian pada 2016 terjadi 32 peristiwa dengan 213 aktivis yang menjadi korban.

Sementara itu, catatan Setara juga menunjukkan adanya 46 peristiwa kekerasan yang dialami oleh jurnalis. Ahmad juga melansir data dari Papuan Behind Bars terkait tahanan politik.

Tercatat, hingga Maret 2016, tapol Papua yang belum dibebaskan. Dari monitoring Setara Institute terdapat 41 orang Papua yang masih menjadi tapol.

“Menurut kami, Papua menjadi daerah yang memiliki status darurat kebebasan berekspresi,” kata Ahmad.

Peningkatan intoleransi

Kondisi serupa juga terjadi di bidang kebebasan beragama atau berkeyakinan.

Peneliti bidang Kebebasan Beragama Setara Institute, Sudarto Toto, mengatakan bahwa para ahli yang menjadi responden survei ini berpedapat bahwa pemerintah belum memenuhi kewajiban untuk memajukan, melindungi, dan memenuhi hak beragama masyarakat.

Sudarto mengatakan, per 8 Desember 2016, terdapat 182 pelanggaran kebebasan beragama.

Angka ini diprediksi meningkat karena menjelang Natal dan Tahun Baru, ada kecenderungan penyebaran aksi intoleransi.

Berdasarkan hasil survei, kebebasan beragama dan berkeyakinan 2016 mendapat nilai 2,47

“Tidak ada kemajuan apa pun pada pemerintahan Jokowi-JK, aksi intoleransi menyebar luas di tahun 2016,” ujar Sudarto.

Ia memaparkan, ada empat indikator yang dinilai masih buruk dan tidak diperhatikan oleh pemerintah.

Empat indikator tersebut adalah kebebasan mendirikan tempat ibadah, perlindungan kelompok agama minoritas, regulasi negara yang membatasi kebebasan beragama, dan penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan kelompok minoritas.

Menurut Sudarto, aksi kekerasan berbasis agama marak terjadi sepanjang tahun 2016. Dia mencontohkan kasus pembubaran ibadah kebaktian Natal di Sabuga, Bandung, beberapa waktu lalu.

Selain itu, dia menyebutkan kasus intoleransi lainnya, seperti pembongkaran masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kendal, pengusiran JAI di Bangka, pembakaran pemukiman eks anggota Gafatar di Kalimantan, dan pelarangan pendirian Gereja di sejumlah daerah.

“Kekerasan tersebut cenderung sistematik. Polanya selalu sama, mulai pernyataan sesat, intimidasi, pelarangan ibadah, pengusiran dan pengrusakan rumah ibadah,” kata Sudarto.

Survei Indeks Kinerja HAM oleh Setara Institute dilakukan selama 5 November hingga 5 Desember 2016. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner berbasis website.

Metode pengambilan sampel menggunakan purposive samplingdengan melibatkan 202 ahli HAM berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan topik penelitian.

 

One Comment on "Catatan buruk terkait penegakan hak berekspresi dan beragama sepanjang 2016"

  1. Jenny Marisa on Tue, 20th Dec 2016 8:53 am 

    Sudah nyata…. perlu pemerintah lebih tegas. Itu saja.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online