Derita warga suku Banglades, diusir dan dipagari kawat berduri

14/12/2016

Derita warga suku Banglades, diusir dan dipagari kawat berduri thumbnail

Sekelompok wanita Santal menunggu bantuan setelah mereka diusir dari rumah-rumah mereka di Gaibandha, Banglades.

 

Di pagi yang cerah, pada bulan November, Sonamoni Murmu dan anaknya berusia 12 tahun, Sajal, mengumpulkan rumput guna memberi makan sapi mereka di distrik Gaibandha, Banglades.

Murmu, 40, seorang ibu dari tiga putra, tahu bagaimana mendapatkan pakan sapi mereka, tetapi tidak bisa berbicara terkait makanan untuk keluarganya.

“Kami memiliki bubur di pagi hari yang diberikan oleh kelompok bantuan dan kami memiliki sedikit nasi sisa dari tadi malam yang direndam dalam air. Mungkin kami akan makan nasi tersebut untuk makan siang, kami tidak tahu apa yang akan kami miliki untuk makan malam,” kata Murmu.

Murmu dan keluarganya hidup sebagai pengungsi sejak 6 November. Mereka tinggal bersama tetangga di desa Madarpur, dan tidak memiliki makanan akibat krisis pangan akut yang sedang berlangsung.

Mereka termasuk di antara sekitar 2.500 orang Santal, sebagian besar beragama Katolik, yang secara paksa diusir dari tanah sengketa oleh Perusahaan Rangpur Sugar Mill dengan dukungan seorang anggota parlemen lokal, pemerintah dan polisi.

Para buruh dari pabrik tersebut membakar rumah-rumah warga Santal dan polisi melepaskan tembakan ketika suku itu mencoba melawan. Tiga warga Santal tewas dan puluhan luka-luka dalam serangkaian bentrokan pada 6-7 November.

“Polisi melepaskan tembakan secara membabi-buta dan preman membakar rumah-rumah kami. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan beberapa warga memasak untuk makan malam ketika peristiwa itu terjadi. Semua orang lari untuk menyelamatkan diri. Barang-barang mereka dijarah atau dibakar,” kata Murmu.

 

1214b

Warga Santal diusir dari tanah sengketa di distrik Gaibandha, Banglades pada 6 November, sedang makan siang dengan bubur sederhana. 

 

Beberapa tunawisma berlindung di sebuah bangunan Gereja Katolik  di Madarpur dan juga di sekolah dasar setempat.

“Rumah kami, buku-buku sekolah kami dibakar. Dua saudara dan saya telah berhenti sekolah. Kami tidak tahu kapan kami bisa pergi ke sekolah lagi,” kata Sajal, pelajar kelas V.

Tanah sengketa itu dibeli tahun 1952 oleh pemerintah dengan luas 744,62 hektar untuk perkebunan tebu.

Selama bertahun-tahun, pemerintah menyewakan sebagian besar lahan itu untuk menanam tanaman termasuk padi, gandum, jagung dan sayur, namum warga Santal menuntut pengembalian tanah leluhur mereka.

Otoritas pertanian mengusir 1.600 keluarga suku yang mengklaim tanah 40 hektar itu milik nenek moyang mereka.

Sekarang mereka tidak bisa mencari kerja di luar atau bertani. Kelompok-kelompok Gereja termasuk Caritas dan Misionaris Cinta Kasih telah memberikan kebutuhan dasar untuk warga Santal.

Orang-orang seperti Murmu terpaksa keluar untuk mencari makanan dan bekerja meski dipasang pagar kawat berduri di desa mereka.

“Kami adalah warga Banglades sehingga mereka tidak memiliki hak untuk memagari kami dengan kawat berduri seperti binatang,” kata Murmu.

“Kami menawarkan pekerjaan kepada orang Santal dan bantuan tunai bagi mereka menduduki lahan pertanian kami, tetapi mereka tidak mau mendengarkan kami. Mereka menyerang para pekerja kami karena mereka pergi untuk memanen tebu dan juga polisi dengan busur dan anak panah,” kata Awal.

“Solusinya terletak pada mereka – Apakah atau tidak mereka ingin kembali ke kehidupan normal dengan rehabilitasi dan dukungan pemerintah serta pengadilan akan melihat apakah tanah ini harus tetap milik pabrik atau dikembalikan kepada pemilik aslinya,” katanya.

Murmu dan rekannya menantang.

“Pemimpin politik lokal berjanji akan mengembalikan tanah kami, tetapi mereka telah meninggalkan kami dan menyerang kami. Tapi, kami tidak akan menyerah dan kami akan berjuang untuk mendapatkan tanah kami kembali tidak peduli apa yang terjadi,” katanya.

1214c

Seorang anak suku Santal mencoba melewati pagar kawat berduri yang dipasang oleh otoritas pabrik gula.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online