Drama kelahiran Yesus Kristus di Papua kirim pesan perdamaian

20/12/2016

Drama kelahiran Yesus Kristus di Papua kirim pesan perdamaian thumbnail

Warga Papua di Jayapura dan daerah lainnya membuat kandang Natal di luar rumah-rumah mereka untuk membawa pesan perdamaian.

 

Meskipun menghadapi ancaman kekerasan dan penangkapan untuk menyerukan otonomi yang lebih besar dan mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan, warga Papua mengirimkan pesan harapan dan kedamaian Natal melalui pementasan drama kelahiran Yesus Kristus.

Warga Papua tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk mengekspresikan keinginan mereka untuk perdamaian. Pementasan drama kelahiran itu adalah sebuah tantangan, kata Anto Beroperai, 31, seorang Kristen dari Jayapura.

“Drama kelahiran ini lebih berarti bagi kami sekarang daripada sebelumnya karena banyak orang hidup dalam ketakutan,” katanya.

“Kami mulai mementaskan drama ini pada awal Desember di pinggir jalan, di gereja-gereja atau di samping rumah,” kata Beroperai.

Tradisi ini dimulai sekitar tiga dekade lalu dan tidak jelas siapa yang memulai drama itu. Tetapi, drama ini telah menjadi lebih populer di wilayah ini, katanya.

Drama kelahiran Yesus Kristus adalah sebuah ekspresi damai dan tidak menghalangi aparat keamanan untuk melakukan tindakan kekerasan.

Dua tahun lalu, di Paniai, Jayapura, tiga pelajar SMA ditembak mati oleh TNI, menyusul perkelahian ketika orang-orang muda itu sedang bernyanyi dan mendengarkan lagu-lagu Natal dengan dekorasi Natal.

Banyak orang melihatnya sebagai tindakan intimidasi dan serangan terhadap keyakinan Kristen dan budaya mereka, kata Beroperai.

“Orang-orang tidak takut, dan terus mementaskan drama ini karena kami ingin dunia melihat bahwa warga Papua juga cinta damai.”

Ota Rumbekwan, koordinator kelompok pemuda Papua di Jayapura, mengatakan tradisi drama kelahiran Yesus memiliki efek positif pada orang-orang muda yakni tidak  minum alkohol.

“Banyak orang minum alkohol di sini. Tapi ketika orang-orang muda terlibat dalam kegiatan Gereja, seperti pada waktu Natal, mereka melepaskan kebiasaan buruk mereka,” katanya.

Nico Lokobal, seorang tokoh awam Katolik di Keuskupan Jayapura, mengatakan drama kelahiran di banyak gereja di daerah terpencil, dipentaskan bersama oleh anggota masyarakat, tua dan muda, pria dan wanita, dan bahkan oleh orang-orang dari agama lain.

“Drama ini menyatukan kami sebagai komunitas iman, meskipun berasal dari berbagai organisasi, agama, dan kelompok-kelompok politik,” katanya.

Di beberapa tempat, kata dia, drama kelahiran dengan karakter Papua seperti gambar Yesus, Maria dan Yusuf dilukis dengan rambut ikal dan berkulit hitam.

“Itu membuat Natal di Papua lebih hidup,” kata Lokobal.

“Dan lebih dari itu, memberikan pesan damai untuk semua, di tengah-tengah kekacauan politik di Papua,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  2. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  3. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  4. Gereja dibakar, darurat militer diumumkan di Mindanao
  5. Calon imam SVD mengajar di Pondok Pesantren
  6. Uskup Filipina menyamar jadi petani untuk melihat kegiatan paroki
  7. Umat Katolik Pakistan marah atas pembatasan media sosial
  8. Banyak tantangan menanti Presiden Timor-Leste yang baru
  9. Paus ingatkan bahaya kata-kata kotor dan saling menjelekkan
  10. Penyandang disabilitas meminta Jokowi membentuk komisi khusus
  1. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  2. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  3. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  4. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  5. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  6. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  7. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
  8. Ingat kita di Indonesia. Semua mayoritas dan minoritas. Ketika ada pihak mengkla...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:43:38
  9. Pro Ecclecia et patria! Demi bangsa kita juga harus tegas menghadapi kekuatan ra...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:35:34
  10. Mohon diperjuangkan agar bimas katolik dapat mengangkat kembali guru agama Katol...
    Said Rudi M on 2017-05-13 22:00:07
UCAN India Books Online