Umat Katolik Malaysia hadapi tantangan rumit

20/12/2016

Umat Katolik Malaysia hadapi tantangan rumit thumbnail

Umat paroki menghadiri doa malam di Kapel St. Petrus di Kampong Medong, Dalat, Sarawak.

 

Mereka duduk sambil mendaraskan Rosario dalam bahasa Melanau. Di luar, dengungan nyamuk seiring dengan senja yang mulai meredup. Lantunan doa berakhir. Tiba-tiba suara meledak saat mereka menyanyikan lagu: “Ajarilah, oh ajarilah kami, ya Bunda Suci, bagaimana menaklukkan setiap dosa …” mereka menyanyi dengan penuh semangat.

Kala itu adalah Oktober – Bulan Rosario Suci. Umat Katolik taat itu tinggal di sepanjang Sungai Oya di Sarawak, Kalimantan. Setiap malam secara bergiliran mereka berkumpul di rumah seorang umat untuk berdoa.

Malaysia berubah. Fundamentalisme Islam dan fermentasi perselisihan di daratan Malaysia merambat ke dalam jantung Borneo.

Orang-orang Melanau Sarawak berjumlah sekitar 124.000, menurut data pemerintah, sebagian besar adalah Muslim. Namun, di Dalat, kebanyakan umat Katolik.

Ada keinginan untuk melindungi nilai-nilai identitas dan keluarga mereka. Mereka telah menjadi Katolik selama beberapa generasi, tetapi mereka berjuang mewariskan ini kepada anak-anak mereka.

Kekhawatiran utama mereka adalah anak-anak mereka akan meninggalkan iman mereka, dan masuk Islam, menikah dan mengadopsi gaya hidup yang berbeda.

Tidak seperti Indonesia, Malaysia melarang pernikahan di antara Muslim dan non-Muslim. Warga Malaysia non-Muslim harus masuk Islam jika menikahi seorang Muslim.

 

1220g

Umat Katolik berdoa di Kapel St. Petrus di Kampong Medong.  

 

Rose Sute, seorang nenek yang terlibat dalam pelayanan di Gereja St. Bernard di Dalat, berbicara tentang krisis iman di kalangan orang muda.

“Tragedi ini telah terjadi. Orangtua mungkin menentang anak-anak mereka dikonversi demi pernikahan, orang muda mungkin lemah dan frustrasi … ada banyak kasus,” katanya, seraya mengacu pada kasus bunuh diri di kalangan orang muda.

Komunitas Katolik Melanau di Dalat sekitar 6.000 jiwa. Umat Kristen dan Muslim tinggal di kota yang sama, meskipun di daerah terpisah. Namun, ada integrasi di antara kedua komunitas tersebut.

Orang-orang muda Muslim menghadiri pusat pelatihan keterampilan komputer yang dikelola paroki.

“Kami semua adalah satu keluarga,” kata Rose. Temannya, Pauline Philip Ruby, yang bekerja di paroki, setuju. Keduanya memiliki teman Muslim.

Pauline dan suaminya merasa khawatir dengan tiga dari delapan anak mereka. Ketiganya menyelesaikan sekolah dan berada pada usia di mana mereka akan mudah terpengaruh oleh perubahan yang terjadi di Malaysia, kata mereka.

“Kini kami semua memiliki teman Muslim. Kami saling mengunjungi. Kami berkabung bersama-sama sebagai satu keluarga ketika ada kematian dan secara bersama merayakan hari raya keagamaan,” kata Pauline.

1220h

Theresa Imang bin Ula, seorang nenek Katolik berusia 70 tahun di kediamannya di Kampung Baru Dalat. 

 

Bagi Rose, kehidupan di desa itu berubah. “Menghormati cara kami sedang meredup. Orang muda menentang orang tua. Mereka terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dan dengar ketika mereka meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk belajar atau bekerja di semenanjung,” katanya.

“Mereka kehilangan kontak dengan kami di Sarawak dan ketika mereka kembali mereka membawa nilai-nilai yang berbeda … mereka agresif dan mudah marah. Ini bukan cara kami,” tambahnya.

Pekerjaan langka dan orang muda bermigrasi ke kota-kota mencari pekerjaan. Sejumlah rumah berdiri kosong.

“Para orangtua meninggal, anak-anak mereka pergi dan tidak pernah kembali. Bahkan anak-anak saya juga telah pergi,” kata Robert Napi, seorang pensiunan katekis.

Kebijakan pemerintah federal baru-baru ini seperti pelarangan penggunaan kata “Allah” oleh umat Kristiani telah mengguncang komunitas Kristiani.

“Guru-guru dari semenanjung membawa nilai-nilai mereka dan berusaha mengkonversi kami. Mereka berupaya mempengaruhi anak-anak kami dan bahkan mengkonversi mereka,” kata seorang ibu, yang meminta disebutkan namanya.

Mereka telah berhenti sekolah sekarang, tapi ada cara lain di mana mereka berupaya mengambil identitas kami. Misalnya, dalam satu sekolah, siswa harus mengenakan pakaian tradisional Melayu seminggu sekali dan semua orang tahu pakaian itu identik dengan Islam,” katanya.

Tapi, meskipun masalah mereka, warga desa dapat mengandalkan iman mereka sebagai inspirasi. Lagu Maria dinyanyikan mereka dengan lirik: “Bagaimana mencintai dan saling membantu/Bagaimana memberi hidup untuk menang”.

Mereka berusaha menjaga toleransi dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  2. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  3. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  4. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  5. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  6. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  7. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  8. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  9. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  10. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
UCAN India Books Online