Tiada sukacita Natal bagi pengungsi Santal di Banglades

23/12/2016

Tiada sukacita Natal bagi pengungsi Santal di Banglades thumbnail

Warga suku Santal.

 

Bagi Andreas Murmu, 35, seorang pria suku Santal, Natal tahun ini akan menjadi yang paling muram dalam seluruh kehidupannya.

Murmu, seorang Katolik, hidup sebagai pengungsi bersama istri dan dua anak mereka di desa Joypur, di distrik Gaibandha, Banglades utara.

Mereka termasuk di antara 2.500 orang Santal, yang diserang dan secara paksa diusir dari tanah sengketa oleh polisi dan ‘preman’ dari pabrik gula di Rangpur pada 6-7 November.

Sekitar 70 persen dari orang-orang itu digusur adalah Katolik, 15 persen Protestan dan sisanya non-Kristen. Sebagian besar dari mereka tinggal di tenda-tenda beratapkan terpal, sementara yang lain telah berlindung dengan kerabat dan tetangga di desa Joypur dan desa Madarpur.

“Di daerah kami, perayaan Natal mulai dari 16 Desember dan berlangsung hingga Tahun Baru, di mana orang-orang berpartisipasi dalam acara musik Natal tradisional, tari dan drama; membeli pakaian baru, mengunjungi orang-orang di desa-desa dan menghias rumah dan Gereja. Namun, kini tak satu pun dari kegiatan ini dilakukan,” kata Murmu kepada ucanews.com.

Murmu mengatakan keluarganya telah kehilangan semua harta benda mereka termasuk uang, barang-barang berharga dan ternak akibat serangan teresbut. Ia berencana membawa keluarganya ke tempat kerjanya di daerah Ghoraghat selama libur Natal.

“Suasana menyenangkan pada perayaan Natal telah hilang di sini. Orang tidak punya uang dan mereka masih dicekam ketakutan. Mereka memiliki selimut dari para pendonor, tapi tidak cukup makanan dan obat-obatan,” katanya.

Ada sebuah kapel di desa itu, tetapi tempat itu digunakan sebagai gudang untuk barang-barang bantuan karena bantuan itu berdatangan dari berbagai organisasi sukarela dan kelompok-kelompok Gereja.

“Kami sering menghias gereja setiap tahun, tapi itu tidak mungkin tahun ini. Orang tidak tahu di mana mereka akan menghadiri Misa pada hari Natal,” tambah Murmu.

Ganesh Murmu, 40, seorang pendeta dari Gereja Lutheran di Joypur, mengatakan sekitar 300 anggota Gereja sedang menghadapi kesulitan sejak penggusuran, membuat mereka tidak berminat untuk perayaan itu.

“Biasanya, orang mulai persiapan Natal pada 15 Desember, namun tidak ada kali ini. Tak satu pun dari mereka yang mampu membeli baju baru karena mereka biasanya lakukan setiap tahun, dan kami tidak bisa menghias gereja karena orang tidak bisa menyumbang,” kata Ganesh kepada ucanews.com.

1223f

Perempuan Santal makan siang di bawah langit terbuka di desa Madarpur, distrik Gainbandha. 

 

Sebuah minoritas kecil

Di Banglades, sekitar 90 persen dari 160 juta penduduk adalah Muslim Sunni, sementara umat Hindu merupakan kelompok minoritas terbesar dengan sekitar 9 persen. Sisanya agama lain termasuk agama Buddha dan Kristen.

Kristen, mayoritas dari mereka beragama Katolik, memiliki kurang dari setengah persen dari populasi dan sekitar setengah dari sekitar 600.000 orang Kristen berasal dari berbagai kelompok etnis.

Natal adalah perayaan umat Kristiani, namun hanya secara luas diketahui orang-orang dari agama lain tentang Natal karena merupakan hari libur umum di seluruh negeri itu.

Pastor Samson Marandi, seorang pastor paroki di Dinajpur, yang meliputi daerah itu, mengeluh dengan penderitaan pengungsi Santal.

“Orang-orang ini hidup seperti tahanan di penjara karena mereka takut untuk pergi ke luar untuk berbagai tujuan termasuk bekerja,” kata Pastor Marandi, seorang warga Santal, kepada ucanews.com.

“Mereka telah kehilangan segalanya dalam serangan dengan disertai pembakaran. Kami sedih melihat mereka tidak dapat merayakan Natal dengan sukacita seperti tahun lalu,” katanya.

Imam itu mengatakan parokinya sering mebgadakan novena dan Misa menjelang Natal.

“Secara tradisional, kami mengadakan novena dan Misa bersama warga desa menjelang Natal, tapi acara itu tidak diadakan tahun ini. Uskup kami (Mgr Sebastian Tudu) akan mengunjungi umat yang terkena dampak dan Misa bersama mereka pada hari Natal, membantu mereka menyadari bahwa kami bersama mereka di saat baik dan buruk,” tambah imam.

Beberapa warga Santal termasuk Ganesh Murmu melihat pelajaran spiritual dalam penderitaan mereka.

1223i

Warga Santal berpartisipasi dalam menari selama program budaya di Keuskupan Rajshahi. 

 

Sumber: ucanews.com

 

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online