Pemimpin Katolik Tiongkok sampaikan laporan tentang pelayanan mereka

03/01/2017

Pemimpin Katolik Tiongkok sampaikan laporan tentang pelayanan mereka thumbnail

 

Kongres para pemimpin Gereja Katolik Tiongkok yang diakui pemerintah resmi ditutup pada 29 Desember.

Sebanyak 365 peserta – uskup, imam, suster dan awam – memilih ketua Asosiasi Patriotik Katolik Tiongkok (CCPA) dan ketua Konferensi Waligereja Tiongkok (BCCCC).

Mereka juga membahas laporan kerja dari dua badan Gereja tersebut yang diakui pemerintah dalam pertemuan yang dimulai 27 Desember.

Sebelum bertemu dengan pejabat pemerintah, upacara penutupan dipimpin oleh Uskup Zhan Silu dari Mindong, yang dipilih kembali sebagai wakil ketua BCCCC dan ditahbiskan tanpa persetujuan Vatikan.

Para peserta kemudian disambut oleh Yu Zhengsheng, ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) dan salah satu pejabat tinggi Partai Komunis, di Balai Agung Rakyat.

CPPCC merupakan badan penasehat pejabat tinggi politik yang terdiri dari para delegasi dari berbagai sektor sosial termasuk agama.

Yu mengatakan kepada peserta bahwa komite pusat partai berperan penting untuk karya keagamaan dan menegaskan poin-poin utama dari pidato Presiden China Xi Jinping selama Konferensi Nasional Departemen Agama pada April yang menyerukan “sinisisasi” agama yang berarti membuat agama asing menjadi lebih bernuansa Tiongkok.

Sekitar 400 umat Katolik, termasuk beberapa umat awam lokal dan imam, menghadiri doa di katedral Beijing, biasa dikenal sebagai Gereja Selatan.

Banyak umat Katolik Tiongkok telah menolak kongres itu, mengingat tidak sesuai dengan ajaran Katolik dan para pemimpin yang melayani sebagai “stempel karet” untuk menjalankan semua pekerjaannya dengan dikendalikan pemerintah.

“Kongres ini semacam formalitas yang tidak dapat dihindari dalam situasi (politik) saat ini,” kata Anthony Lam Sui-ki, peneliti senior dari Pusat Studi Roh Kudus Hong Kong, kepada ucanews.com.

Prospek untuk masa depan

Lam mengambil catatan dari pernyataan Wang Zuo’an, direktur Administrasi Negara untuk Urusan Agama, yang meminta Vatikan “mengambil sikap yang lebih fleksibel dan pragmatis” selama ceramahnya pada hari pertama kongres tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan besar di antara Tiongkok dan Takhta Suci. Tiongkok tidak menyerah kewenangannya kepada Gereja dengan mudah,” kata Lam.

Meskipun demikian, Lam mengamati ada kemungkinan perombakan di departemen agama tahun 2017.

Pembangunan Gereja sejak kongres terakhir

Pada 30 Desember, situs berita CPPCC memberi gambaran yang lebih rinci tentang laporan kerja disampaikan oleh Uskup Kumning Mgr Ma Yinglin pada hari pertama kongres.

Sejak kongres itu terakhir tahun 2010, Gereja Tiongkok telah menahbiskan para uskup di 16 keuskupan dan telah mengadakan program manajemen bagi para uskup dan administrator keuskupan selama enam tahun berturut-turut.

Gereja Tiongkok sekarang memiliki 65 uskup, sekitar 3.100 imam dan 5.800 biarawati dengan lebih dari 6 juta umat awam di lebih dari 6.000 paroki dan stasi misi, memiliki sembilan seminari dengan 468 seminaris.

Ada 619 organisasi patriotik di seluruh Tiongkok, dengan 561 dari mereka didirikan di tingkat provinsi dan kabupaten, menurut laporan kerja disajikan dalam kongres itu.

Ada juga 259 organisasi pelayanan sosial Katolik di seluruh Tiongkok yang mengelola 121 panti jompo, delapan rumah sakit, 99 klinik, 10 panti asuhan, 13 TK dan delapan yayasan amal.

Namun, angka-angka ini hanya dari komunitas Gereja terbuka, yang diakui pemerintah dan belum termasuk komunitas Gereja bawah tanah.

Pusat Studi Roh Kudus dalam jurnalnya edisi 2016 memperkirakan bahwa ada sekitar 10 juta umat Katolik di Tiongkok,  112 uskup, 3.800 imam dan 4.500 biarawati tahun 2015.

Baca selengkapnya: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Sri Lanka batal mengikuti Asian Youth Day di Indonesia
  2. Uskup Pakistan menuntut tindakan tegas pada teroris
  3. Ratusan katekis belajar cara berbicara tentang seks kepada remaja
  4. Perempuan Katolik Bangladesh akhirnya mendapat jabatan tinggi
  5. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  6. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  7. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  8. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  9. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  10. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  1. Semoga masalah ini cepat selesai....
    Said meldy on 2017-07-27 08:51:19
  2. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  3. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  4. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  5. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  6. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  7. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  8. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  9. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  10. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
UCAN India Books Online